Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Di luar Dugaan


__ADS_3

Entah mengapa Daniel merasa semakin tak suka dengan cara gadis di hadapannya tersebut memandangi dirinya, Daniel merasa seperti gadis tersebut kini memiliki niat lain kepada dirinya


"Hentikan," penuh penekanan


"Saya ga melakukan apapun ke kamu," tersenyum tipis seolah tak paham arah ucapan Daniel


"Hentikan semua yang ada di dalam pikiran kamu saat ini juga, kamu tau alasan saya menerima kamu di banding para gadis yang sebelumnya?" dengan nada suara dingin


Vivi menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang sangat manis yang bisa dia tampilkan


"Karena saya yakin saya ga akan jatuh cinta dengan perempuan seperti kamu," tersenyum sinis


Dalam sekejap senyuman di bibir Vivi pun menghilang dan kini gadis tersebut memasang wajah dingin yang tak kalah dengan Daniel


"Apa maksud ucapan kamu?"


Daniel menatap ke arah Vivi dengan tajam


"Seperti yang tadi kamu bilang saya sudah mengetahui semua tentang kamu, bahkan segala sesuatu yang pernah kamu lakukan di dalam hidup kamu. Apa kamu pikir saya akan jatuh hati dengan gadis yang bisa berhubungan bebas dengan laki-laki manapun?" tersenyum sinis


Daniel pun mulai bangkit dari duduknya


"Pernikahan kita hanya terjadi karena kamu dan saya sama-sama menginginkan sesuatu, kamu menginginkan perusahaan papa kamu jatuh ke tangan kamu. Dan saya mau keluarga besar saya berhenti mendesak saya untuk menikah, saya harap kamu tau batasan kita masing-masing." dengan tegas


Daniel pun mulai melangkahkan kakinya melewati bangku yang di tempati oleh Vivi dan tiba-tiba saja Vivi memegang salah satu tangan Daniel membuat dia kembali menatap ke arah gadis tersebut


"Oke saya setuju, tapi apa kamu mau di anggap sebagai laki-laki yang ga bertanggung jawab?" tersenyum


Daniel hanya terdiam dan mengerutkan keningnya tanda dia tak paham arah ucapan Vivi saat itu


"Kamu sudah bilang di depan semua orang tadi kalau kamu mau antar saya pulang, apa kamu mau suruh saya pulang sendirian?" melepaskan senyuman terbaiknya

__ADS_1


Daniel menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Vivi dan menatap gadis tersebut dengan dingin


"Saya akan mainkan peran saya dengan baik dan saya harap kamu tidak melebihi batasan kamu, atau saya janji saya akan membuat kamu menyesal pernah mengenal saya." dengan tegas


Daniel mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan Vivi pun mengekor dari belakang dengan senyuman terus menghiasi bibirnya


"Jangan panggil nama saya Vivian kalau saya ga bisa menaklukkan kamu laki-laki tampan, sebentar lagi kamu akan menjadi suami saya dan saat itu saya akan menaklukkan kamu di bawah kaki saya"


Daniel terus melangkahkan kakinya melewati ruangan vvip di tempat itu, dan saat akan menuju pintu keluar mereka harus melewati tempat biasa di tempat itu yang hanya di batasi oleh kaca untuk menuju ke pintu keluar


Tanpa di sengaja Daniel melihat sosok Adel yang sedang tertawa lepas posisi duduk Adel menghadap ke arah kaca pembatas tersebut, dan sudah pasti orang yang ada di hadapan Adel saat itu adalah Caca dan sang buah hati


"Dia kan calon istri Abian, apa Abian juga ada di sini? sebaiknya aku gunakan alasan itu untuk menghindar dari gadis ini"


Tiba-tiba saja Daniel memasuki ruangan terbuka tersebut dan terus melangkahkan kakinya ke arah meja di mana Adel berada, sudah pasti Vivi langsung menghentikan langkah kakinya dan memandang Daniel dari kejauhan


Adel serasa sulit untuk menelan makanan yang berada di dalam mulutnya begitu melihat siapa orang yang sedang berjalan ke arah meja mereka, Adel mengetahui dengan pasti bahwa saat itu Daniel memang tak mengingat tentang Caca sama sekali tetapi tetap saja hati kecilnya merasa takut dengan sendirinya


"Sial!! kenapa harus ada dia di sini? gimana ini? mata dia tertuju ke sini, pasti dia mau ke sini." dengan wajah panik


"Dia lagi jalan ke arah sini Ca," dengan suara pelan


"Dia siapa sih Del? maksud kamu apa sih Del?"


"Dia Ca...."


Caca yang merasa bingung akan sikap dan ucapan Adel pun memilih untuk memutar kepalanya dan melihat siapa orang yang di maksud oleh Adel, saat itu tatapan mata Caca dan Daniel pun saling bertemu dan entah mengapa tiba-tiba saja Daniel mulai menghentikan langkah kakinya dengan wajah bingung


"Astaga gimana ini? kenapa dia bisa ada di sini? katanya dia ga ingat sama aku tapi kenapa ekspresi wajah dia begitu?"


Dan anehnya Daniel tetap diam membeku di tempat yang sama tanpa mengalihkan pandangan matanya sama sekali dari Caca

__ADS_1


"Kenapa hati aku sakit melihat gadis ini? siapa gadis ini sebenarnya?"


Sedangkan Faizal yang melihat Caca seperti itu langsung menggenggam tangan Caca dengan erat


"Mama kenapa? apa mama kenal sama om itu? apa om itu pernah jahat sama mama?"


"Astaga aku hampir aja lupa kalau di sini ada Ical, kamu pasti bisa berhadapan dengan dia Ca karena semua cuma masa lalu. Sekarang cuma ada kamu dan Ical"


Caca seperti mendapatkan kembali kesadarannya dan dia pun langsung tersenyum ke arah sang buah hati


"Mama ga apa kok sayang, mama ga kenal kok sama om itu. Tadi mama cuma agak kaget aja kirain kenalan lama mama tapi ternyata bukan," tersenyum


Entah mengapa karena Caca memalingkan wajahnya ke arah sang buah hati kaki Daniel kembali melangkah ke arah meja mereka, saat itu Daniel juga tak mengerti mengapa dia ingin sekali melihat wajah Caca lagi


Dan kini Daniel pun sudah berada tepat di samping meja mereka dan tatapan mata Daniel langsung tertuju ke arah Caca, melihat hal tersebut Adel pun segera mengambil langkah terlebih dahulu


"Maaf pak Daniel ada perlu apa ya?"


Daniel yang tersadar pun langsung menatap ke arah Adel


"Oh itu, apa kamu di sini sama Abian?"


"Ga pak, kak Abian kan masih tugas di luar kota dan besok baru balik." dengan sopan


"Astaga kenapa aku bisa lupa sih?"


"Terus mereka siapa?" kembali menatap ke arah Caca


Ternyata Vivi yang melihat gelagat aneh dari Daniel saat pertama melihat Caca pun menjadi sedikit kurang suka, belum sempat Adel menjawab pertanyaan dari tiba-tiba saja Vivi sudah berada di samping Daniel


"Siapa mereka sayang? katanya kamu mau antar aku pulang, ayo cepat papa sudah tunggu aku di rumah." dengan suara manja

__ADS_1


Semua mata langsung tertuju ke arah Vivi dengan tatapan mata yang berbeda-beda, Daniel menatap Vivi dengan tatapan dingin dan Adel dengan tatapan bingung tentang siapa kah gerangan gadis tersebut. Sedangkan Caca menatap ke arah Vivi dengan tatapan mata yang sulit di artikan tetapi jauh di dalam lubuk hati Caca terselip perasaan sakit yang teramat besar


Itu menjadi pertemuan pertama antara Caca dan Daniel setelah semua kejadian yang mereka alami, sebuah pertemuan yang benar-benar di luar dugaan


__ADS_2