Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Ketakutan Daniel


__ADS_3

Ternyata saat Caca tiba di tempat itu Caca di bawa ke salah satu ruangan yang memang sudah Rico pesan bersama teman-temannya, Caca yang masih belum punya pikiran buruk apapun langsung masuk ke dalam sana setelah di jemput Rico dari depan


"Kak Daniel mana kak?"


Tiba-tiba saja para laki-laki yang berada di sana pun langsung tertawa lepas membuat nyali Caca langsung menciut, tatapan mata mereka benar-benar membuat Caca menjadi ketakutan. Caca pun langsung menyadari bahwa dirinya bagaikan seekor anak domba yang berada di antara para serigala


"Kamu bohong ya?"


"Kalau aku ga bohong sama kamu, apa kamu mau datang ke sini?" tersenyum jahat


Caca pun segera berlari ke arah pintu tetapi semuanya sia-sia karena sudah ada seorang laki-laki berada di sana dan menghalangi dia untuk keluar, beberapa orang yang sedang duduk pun langsung bangkit dan ikut memegang tubuh Caca


"Lepasin!! kalian mau apa?" berkaca-kaca


Rico pun mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana yang dia gunakan dan memaksa Caca untuk meminum obat tersebut, Caca berusaha sekuat tenaga untuk merapatkan gigi-giginya dan berhasil membuat obat tersebut terjatuh ke lantai


Rico sang pembuat onar pun meradang melihat hal tersebut dan plak.. Sebuah tamparan yang sangat kuat mendarat mulus di pipi Caca, kini seluruh tubuh Caca sudah bergetar dengan hebat karena merasa ketakutan


"Aku mohon tolong lepasin aku," air mata Caca pun mulai mengalir


Melihat air mata Caca yang mulai mengalir bukannya merasa iba Rico semakin menjadi tertawa dengan sangat puas, dengan paksaan akhirnya Caca pun menelan obat tersebut. Mereka pun melepaskan Caca dan melemparkan Caca ke atas sofa sambil tertawa lepas


Mereka kembali melanjutkan pesta mereka yang sempat terhenti dengan para gadis yang sudah ada di samping mereka, sedangkan Caca di biarkan begitu saja


"Aku harus tenang, aku ga tau obat apa yang mereka kasih tadi ke aku. Yang pasti aku harus bisa keluar dari sini secepatnya"

__ADS_1


Pandangan mata Caca pun mulai memudar dan ada perasaan aneh yang timbul di diri Caca, semua orang di sana sibuk dengan para gadis mereka sambil sesekali memperhatikan Caca dengan senyuman jahat mereka. Sedangkan Caca berusaha terus bertahan sambil memperhatikan orang yang sedari tadi menjaga pintu ruangan tersebut


"Ga aku bisa begini terus, semakin lama aku merasa semakin aneh. Aku harus pergi sekarang juga atau ga akan ada kesempatan lagi aku pergi dari sini"


Tiba-tiba saja Caca mulai mengambil sebuah botol minuman yang berada meja dan memecahkan botol tersebut, dengan tangan yang bergetar Caca memegang ujung botol tersebut dengan kedua tangan nya. Sedangkan semua yang berada di ruangan tersebut langsung menatap ke arah dirinya


"Kalian biarin aku pergi dari sini, atau aku ga akan segan lagi"


Caca pun mulai bangkit dari duduknya dengan tenaga yang tersisa, tetapi semua orang di sana tampak seperti tak memperdulikan apa yang dia kerjakan dan tetap tersenyum


"Apa kamu pikir bermodalkan itu kamu bisa melawan kami semua?"


"Ya aku ga mungkin lawan mereka semua dengan bermodalkan ini"


Tiba-tiba saja Caca merubah arah botol tersebut ke arah lehernya sendiri dan berhasil membuat semua para laki-laki di sana menghilangkan senyuman mereka, tetapi lain hal dengan Rico dia pun melepaskan tangan nya dari sang gadis yang sedang menemani dirinya dan bangkit dari duduknya


"Aku yakin mereka akan melakukan hal yang menjijikan sama aku, dari pada aku berakhir seperti itu lebih baik aku kehilangan nyawa aku"


Caca pun mulai memajukan botol yang berada di lehernya hingga darah segar pun mulai keluar dari kulit putih nya, dan Rico benar-benar tak menyangka bila Caca akan berani berbuat sejauh itu


"Lebih baik aku mati dari pada harus mengikuti permainan kalian semua," dengan penuh keyakinan


Rico pun hanya bisa terdiam membeku sedang Caca tetap berusaha memundurkan langkah kakinya tanpa sadar bahwa sudah ada seseorang yang berdiri tepat di belakang dirinya, dengan cepat orang tersebut meraih botol tersebut dan membuang botol tersebut menjauh


Orang tersebut memeluk tubuh Caca dengan erat dari belakang tanpa mengeluarkan suara apapun dan orang tersebut adalah Daniel, Caca berusaha meronta dengan sisa kekuatan yang dia punya tetapi sudah pasti tak membuah kan hasil apapun karena efek obat yang dia konsumsi

__ADS_1


"Aku mohon lepasin aku, atau lebih baik kalian semua bunuh aja aku." Caca pun menangis dengan hebatnya


Daniel yang mendengar hal tersebut memeluk tubuh Caca semakin erat, karena hatinya pun ikut merasa sakit menyaksikan Caca dalam keadaan seperti itu


"Ini aku, aku sudah ada di sini. Kamu sekarang sudah aman," Daniel berbisik dengan lembut


Caca tau dengan pasti suara siapa yang sedang berbisik kepada dirinya, dia pun memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Daniel dengan sangat erat sambil menangis dengan hebatnya. Sedangkan Daniel melepaskan tatapan membunuhnya ke arah Rico dan semua orang yang berada di sana


Daniel melepaskan jaket yang dia gunakan dan menutupi tubuh Caca, tanpa banyak bicara Daniel pun mengangkat tubuh Caca ala bridal style


"Apa yang lu lakuin? gw lakuin ini demi.."


"Diam!!"


Ucapan Daniel yang penuh penekanan serta tatapan matanya membuat Rico langsung menghentikan kata-kata yang akan dia ucapkan


"Jangan pernah lupa kalau saat ini gw adalah pemimpin keluarga Perkasa, sekali lagi lu berani berbuat sesuatu yang di luar batas gw ga akan tinggal diam. Sekali pun lu anggota keluarga Perkasa gw akan buat perhitungan sama lu"


Daniel pun pergi meninggalkan tempat itu begitu saja, Daniel bergegas membawa Caca ke dalam mobilnya dan hendak membawa Caca kembali. Tetapi saat itu Daniel lupa satu hal, Daniel lupa bahwa saat itu sudah pasti Rico memberikan Caca sesuatu


Dan rencana besar yang sudah Rico buat menjadi berantakan karena kehadiran Daniel di tempat itu, tetapi satu hal yang tak bisa terelak adalah malam itu Daniel dan Caca akhirnya menghabiskan malam panas di sepanjang malam itu


Caca sudah tertidur dengan pulas di samping Daniel, tersisa Daniel seorang diri yang menatap wajah Caca dengan perasaan bersalah. Daniel pun mengobati luka di leher Caca dengan sangat perlahan agar Caca tak terbangun dari tidurnya


"Apa yang sekarang harus aku lakuin sama kamu? dan ternyata aku adalah laki-laki pertama untuk kamu. Apa kamu bisa terima aku dengan tulus kalau kamu tau siapa aku sebenarnya? dan kamu tau kalau tujuan pertama aku mendekati kamu cuma untuk balas dendam"

__ADS_1


"Dan apa aku bisa selamanya mencintai kamu dengan tulus saat aku ingat kamu adalah orang yang menghancurkan keluarga aku?"


Dan kini hati Daniel sudah tidak di penuhi lagi oleh rasa dendam, di dalam hati Daniel hanya ada sebuah ketakutan


__ADS_2