
Bel pulang sudah berbunyi, semua murid berhamburan menuju parkiran. Termasuk Lidya, dengan langkah perlahan Lidya mengamati seisi parkiran yang nampak padat oleh siswa-siswi yang tak sabar ingin cepat kembali ke rumah mereka.
Jujur saja, selama satu minggu sekolah, ini kali pertama Lidya menginjakkan kakinya di tempat parkir yang padatnya melebihi pasar tradisional.
Lidya berjalan dengan hati-hati sampai akhirnya matanya tertuju pada sosok Raka. Lidya segera datang menghampiri Raka yang tampak sudah menunggunya di luar tempat parkir.
"Eh lo di sini!" ucap Lidya saat sudah menghampiri Raka. "Padahal gue nyariin lo di tempat parkir, umpek-umpekan sama orang-orang yang gak sabaran!" keluh Lidya.
"Ya. Dari tadi gue disini. Gue nunggu lo disini biar lo gak harus desak-desakan. Lo aja yang kepinteran!" ketus Raka.
"Mana gue tau, kalo lo ada di sini, bukannya ngabarin, chat, telepon, atau yang lain 'kan bisa,"
Seketika musnahlah semua hayalan Lidya yang awalnya berfikir kalau Raka akan berkata manis padanya.
"Kenapa tuh muka kayak pakean gak di setrika?" tanya Raka yang tertawa geli melihat wajah Lidya.
"Rozi sama David mana?!"
"Dih judes amat," Raka menatap Lidya dan tersenyum manis, sungguh saat Lidya marah ia sangat lucu, maka dari itu dulu ketika SMP Raka sangat suka mengganggu Lidya dan membuatnya marah, namun walau Raka lebih sering bersikap dingin.
"Jangan judes ntar keriput," Raka menarik pipi Lidya gemas.
"Apaan sih? Jawab gue mana Rozi sama David?"
"Mana gue tau," jawab Raka.
"Lo bohong! Ini rencana lo yakan? Lo suruh mereka pulang duluan! Iya 'kan? Ngaku lo!"
"Idih kok lo malah nuduh gue?"
"Hiiss nyebelin, males gue! Lebih baik gue pulang aja!"
Lidya semakin kesal, karena tadi di saat ia mengajak teman-temannya mereka semua tidak mau, dan harapan pelepas canggung Rozi dan David juga entah kemana.
Lidya merogoh kantong dan mengambil ponselnya.
"Lo mau apa?" tanya Raka.
"Telepon pak Bambang suruh nyusul, karena gak jadi nonton!" ketus Lidya.
"Apa! Gak jadi?!" suara itu membuat Lidya cukup terkejut. Lidya membalikkan badannya dan mendapati Rozi, David, Friska, dan Ayu.
"Kalian ngapain?" tanya Lidya.
"Kita mau ikut," jawab Ayu.
"Kemana?"
"Nonton, katanya hari ini ada film horor baru, jadi jiwa penggemar horor gue bangkit, dan buat tekad gue bulat, memutuskan untuk ikut," jawab Ayu dengan gaya yang dramatis.
"Lebay lo!" cerca Friska.
"Kalian kok ikut sih?!" keluh Raka.
Lidya langsung menatap Raka tajam.
"Jadi kecurigaan gue bener?"
"Gak gitu Lid gue-,"
"Apa?"
"Ah udah jangan berantem," David melerai Lidya dan Raka.
"Jadi gini, tadi gue sama Rozi gak bisa ikut, karena ada urusan, tapi waktu kita mau pulang. Dua preman cewek malak kita, dan akhirnya kita harus ikut," David memberi penjelasan yang membuat Raka selamat dari Lidya.
Mendengar cerita David, Raka langsung menatap tajam Ayu.
__ADS_1
Merasa canggung Ayu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya udah ayok berangkat!" seru Ayu.
"Gue ambil motor dulu," Rozi dan David segera pergi menuju parkiran.
"Kalian kenapa tiba-tiba pengen pergi?"
"Tadi udah gue jawab Lid, karena gue pengen liat cerita horor baru," jelas Ayu sekali lagi.
"Nih helm lo," ucap Raka datar sambil memberikan helm pada Lidya.
Lidya menaikan kacamatanya, dan mengerenyitkan dahinya menatapi helm yang Raka berikan.
"Makasih," ucap Lidya, setelah menerima helm yang Raka berikan.
Seperti sebelumnya Lidya masih kurang ahli dalam memasang dan membuka helm, hingga Raka turun tangan untuk membantu Lidya.
Raka mulai mendekat dan memasang kan helm itu dengan sangat hati-hati.
"Ya Allah... Mimpi apa gue tadi malem? Kok bisa gue kayak sekarang ini? Di pakein helm, di ajak nonton, dan ini kali pertama gue bisa liat Raka sedeket ini, dan denger setiap degup jantung Raka yang berpacu," batin Lidya.
"Lidya makin manis kalau diliat sedeket ini, kira-kira gimana ya perasaan Lidya," batin Raka bahagia.
"Ehem hem," Ayu berdehem membuat Lidya dan Raka langsung menjauh satu meter.
"Udah?" tanya Friska pada Lidya dan Raka.
"Udah kok," jawab Raka.
"Ya udah, mari berangkat...."
Ayu naik ke motor Rozi, dengan jenis CBR.
"Susah banget! Kenapa gak ganti motor aja!" keluh Ayu.
"Udah," ucap Ayu setelah ia berhasil naik ke jok belakang motor.
"Pegangan ntar jatoh!" seru Rozi setelah menghidupkan motornya.
"Apaan sih!"
"Ye di kasih tau malah ngeyel!"
"Iya iya ini gue pegangan," Ayu menarik ujung kerah Rozi dengan dua jarinya.
"Lo kayang nenteng anak kucing aja!"
"Biarin! Buruan jalan!"
"Iya-iya."
Rozi mulai melakukan motornya meninggalkan David, Friska, Raka, dan Lidya.
"Pegang pinggang aku dong beb," ucap David membuat Friska merasa aneh.
"Ihh apaan sih! Udah jalan," keluh Friska.
"Gak romantis," cerca David.
"Emang lo siapa gue?!"
"Calon imam lo."
"Gombal! Buruan jalan!"
"Iya bawel!"
__ADS_1
Tersisa Raka dan Lidya yang masih berada di tempat.
"Kok gak jalan?" tanya Lidya heran.
"Pegangan dulu, baru jalan," ucap Raka dengan tawa jailnya.
"Heh dasar," keluh Lidya, namun perlahan Lidya menjulurkan tangannya memegang pundak Raka.
"Kok di situ sih," keluh Raka.
"Jadi di mana dong?"
"Di sini," Raka meraih tangan Lidya dan meletakkan tangan Lidya di pinggangnya.
"Ok kita berangkat," ucap Raka yang langsung melajukan motornya.
Selama perjalanan hanya ada keheningan diantara Raka dan Lidya, di tambah lagi Raka yang mengendarai motor dengan lamban, membuat Lidya semakin bosan. Lidya sangat ingin membuka pembicaraan namun rasanya Raka tak mungkin dapat mendengarnya karena saat ini Raka sedang memakai helm.
Perlahan secara diam Lidya berusaha melepaskan lingkaran tangannya yang ada di pinggang Raka, namun tindakan Lidya tercegah saat tangan Raka meremas pelan tangan Lidya, agar Lidya tak melepas pegangannya.
Lidya merasa jantungnya berdegup kencang, tak biasa dengan perlakuan Raka yang seperti ini, Lidya merasa aneh karena dulu saat SMP Raka adalah orang yang termasuk cuek dan dingin.
Tapi sekarang, Raka berubah dalam waktu satu minggu.
Akhirnya motor berhenti tepat di depan gedung bioskop, Lidya turun dari motor Raka, dan berusaha melepas helm yang ia kenakan.
Raka akhirnya tergerak untuk menolong Lidya, namun saat hendak menolong Lidya justru sudah berhasil melepas helmnya.
"Bisa juga akhirnya," ucap Raka dengan senyuman manisnya.
"Ya bisalah, cuma gini aja kok," Lidya memberikan helmnya pada Raka, dan berjalan perlahan menjauh dari Raka, pandangan Lidya tampak menyisiri daerah yang cukup luas dan banyak motor berjejed rapi, Lidya mencari teman-temannya.
"Udah?" tanya Raka yang membuat Lidya terjengit kaget.
"Apanya?" Lidya menaikan alisnya tak paham dengan ucapan Raka.
"Nyariin Ayu, Friska, dan dua teman aneh gue?" jelas Raka.
"Heem belom ketemu, ntah kemana," Lidya merespon ucapan Raka. Dan masih menatapi sekitar lapangan parkir.
"Udah, ntar juga ketemu, mereka bukan anak kecil yang harus selalu du awasi, yuk masuk!" ucap Raka. Raka perlahan menggenggam tangan Lidya, membuat Lidya semakin merasa aneh, kaget, dan senang.
Lidya menatap tangan kirinya yang sedang di genggam oleh tangan Raka, Lidya sekarang dapat merasakan kehangatan, dan sedikit canggung diantara mereka.
Perlahan Lidya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Raka, namun Raka malah mempererat genggamannya. Membuat Lidya gagal melepaskan tangannya.
"Kenapa sih?" tanya Raka, karena merasa aneh dengan tindakan Lidya.
Namun Lidya hanya diam dan menatap ke bawah.
"Lo gak nyaman ya?"
"Eng... Enggak kok," jawab Lidya sedikit malu."Cuma... Gue ngerasa aneh aja," sambungnya.
Raka mempererat genggamannya dan menatap ke arah Lidya, sebuah senyuman tampak jelas di wajah Raka.
"Maaf kalau gak nyaman, tapi gue gak mau lo ilang di tengah lautan manusia nantinya," ucap Raka dengan senyuman manisnya dan semakin mempererat genggamannya.
"Eeeh," Lidya hanya menjengit heran melihat tingkah Raka, entah harus bagaimana menanggapi ucapan Raka.
"Lid lo harusnya seneng Raka sekarang berubah jadi baik sama lo, apa gue biarin aja ya, mungkin ini akan menjadi kenangan manis," batin Lidya.
"Kita cari mereka lagi?" tanya Raka kini ucapannya jauh lebih lembut.
Lidya tersenyum dan membalas anggukan.
"Lo gak nyaman? Beneran?" tanya Raka memastikan.
__ADS_1
"Gue seneng kok," Lidya tersenyum manis, dan membuat Raka mesara bahagia.