Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Seharusnya Saya


__ADS_3

Faizal hanyalah seorang anak yang polos tanpa tau apa yang sebenarnya telah terjadi, yang dia tau saat itu papa nya sedang merasa khawatir akan keadaan nya


"Aku ga apa kok pah," tersenyum


Yudha pun melupakan segala rasa khawatir yang sempat dia rasakan begitu melihat senyuman anak polos tersebut, dengan langkah kaki yang pasti Yudha mendekat ke arah tempat tidur di mana Faizal berada


"Anak papa kenapa bisa begini?" Yudha menatap ke arah Faizal dengan lembut


"Papa ga boleh marah sama siapapun ya, aku yang nakal dan lari ke arah bola yang jatuh ke jalanan. Maaf ya pah"


Yudha pun membuang nafasnya dengan kasar dan meletakkan tangannya di ujung kepala Faizal dengan lembut


"Yang penting kamu baik-baik aja, lain kali kamu ga boleh lagi lakuin itu ya"


"Ya pah," sambil menganggukkan sedikit kepalanya


Mereka pun berbincang ringan di tempat itu dan tak selang berapa lama Adel pun hadir di antara mereka, Adel benar-benar meminta maaf karena terlambat mengetahui tentang Faizal. Itu semua terjadi karena Caca yang tak ingin mengganggu malam pertama Adel


Saat sarapan pagi di antar untuk jagoan kecil yang ada di sana Yudha pun memerankan peran seorang papa yang baik dengan menyuapi Faizal dengan sangat telaten, dan tiba-tiba saja Abian dan Daniel pun tiba di tempat itu


Kehadiran Daniel di tempat itu bersamaan dengan Abian langsung membuat semua mata tertuju ke arah dirinya, tapi Daniel tetap berhasil memainkan peran nya dengan baik. Daniel seolah tak mengenal siapapun di tempat itu, dan dia hanya datang untuk menjenguk anak yang telah dia selamatkan. Tanpa ada yang tau bahwa hatinya merasa sakit melihat sang buah hati berada di dekat orang lain dan memanggil orang lain sebagai papa


FLASH BACK


Masih pagi buta Daniel sudah terjaga dari tidurnya, dia pun segera membersihkan diri dan bersiap-siap. Daniel yang telah rapi pun segera menghubungi asisten nya


"Selamat pagi pak," dengan sopan


"Hari ini kamu ga perlu jemput saya"


"Baik pak"


Daniel pun segera memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari apartemen nya, dengan senyuman tipis selalu menghiasi bibirnya

__ADS_1


"Aku bisa jadiin ini alasan untuk ketemu mereka, aku harus persiapkan dulu semuanya dengan baik. Aku harus mulai memberi kesan baik di depan anak aku dan Caca"


Daniel terus saja sibuk membeli ini dan itu, semua yang terbaik yang bisa dia temukan di pagi itu sudah dia beli. Setelah merasa cukup dia pun mulai menuju ke arah rumah sakit, saat tiba di rumah sakit tiba-tiba saja nyali seorang Daniel Putra Perkasa pun langsung goyah


"Tapi gimana kalau nanti dia jadi curiga sama aku? gimana kalau dia malah menjauh dari aku? jangan-jangan dia malah pergi menghilang lagi dan membawa anak kami"


Daniel yang mulai merasa frustasi pun menempelkan keningnya di atas kemudi stir dengan beralaskan tangan nya, dan tanpa dia sadari ternyata ada sebuah mobil yang baru saja terparkir tepat di hadapan mobilnya dan memandang ke arah mobilnya dengan seksama


"Itu kan mobil pribadi pak Daniel, mobil itu cuma dia pakai kalau dia mau mengendarai mobil sendiri"


Orang tersebut yang tak lain adalah Abian langsung menghadap ke arah Adel yang berada di bangku sebelah


"Kamu masuk duluan ya ke dalam, nanti aku nyusul"


Adel pun hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan kepalanya, tanpa menunda waktu Adel segera turun dan menuju ke ruang rawat Faizal. Sedangkan Abian melangkahkan kakinya ke arah mobil Daniel dan bisa melihat Daniel dengan jelas yang masih setia dengan posisi yang sama


Abian pun akhirnya mengetuk kaca mobil tersebut dan Daniel yang tersadar pun membuka kaca mobilnya, dan saat itu Abian dapat melihat dengan jelas beberapa buah tangan yang ada di bangku kosong sebelah Daniel


"Apa anda ingin menjenguk seseorang pak?" dengan sopan


Bukan nya menjawab Daniel malah melontarkan kembali sebuah pertanyaan


"Kamu sendiri kenapa ada di sini? bukannya ke kantor"


"Saya sedang mengantar istri saya menjenguk anak dari teman nya yang mengalami kecelakaan pak"


"Kesempatan, jadi aku ga perlu merasa canggung kalau masuk bareng dia" tersenyum tipis


Tiba-tiba saja Daniel segera turun dan membawa buah tangan yang telah dia siapkan, bahkan butuh bantuan seorang Abian karena buah tangan yang dia siapkan terlalu banyak


Pada awalnya Abian masih tetap diam dan mengikuti langkah kaki sang bos besar, tetapi semakin lama dia merasa sedikit aneh karena melihat wajah Daniel yang terkadang tersenyum tipis dengan sendirinya


"Sebenarnya anda mau menjenguk siapa pak?"

__ADS_1


"Anak yang kemarin saya selamatkan," dengan santai


Tiba-tiba saja Abian langsung menghentikan langkah kakinya dan menatapke arah Daniel dengan serius, hal tersebut membuat Daniel pun ikut menghentikan langkah kakinya


"Aku ingat tadi pagi Adel bilang kalau pak Daniel yang mendonorkan darahnya untuk anak itu, apa mungkin saat ini pak Daniel sudah ingat semuanya?"


"Cukup ada di dalam pikiran kamu dan jangan sampai pernah keluar dari mulut kamu," ucap Daniel dengan tegas


Abian pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya


"Aku harap kalian berdua bisa menemukan kebahagiaan kalian"


Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka tanpa perlu membahas lebih jauh lagi, yang pasti Abian akan tetap diam tentang ingatan Daniel walaupun kapada istrinya sekali pun. Karena dia yakin bahwa kali ini Daniel berbohong bukan untuk melakukan sebuah keburukan


FLASH OFF


Semua orang menahan pertanyaan yang akan terlontar dari bibir mereka, mereka tau bahwa Daniel adalah sang penyelamat bagi Faizal. Tetapi semua juga tau posisi Daniel bagi Faizal yang sebenarnya, mereka merasa bingung harus berbuat seperti apa dengan orang hebat yang kini ada di hadapan mereka


Melihat semua orang menahan diri membuat Yudha mulai bangkit dari duduknya dan mengambil sikap, Yudha pun menampilkan senyuman ramah di bibirnya


"Saya dengar anda yang telah menyelamatkan anak saya, saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan anda kepada anak saya." dengan sopan


"Apa pantas kamu mengakui anak itu sebagai anak kamu? sedangkan saya yakin kamu sendiri tau bila anak itu anak saya"


Daniel sekuat mungkin menutupi perasaan dia saat itu dan dia pun mulai menampilkan senyuman ramah


"Bukan masalah besar, saya tetap akan melakukan hal yang sama bila itu terjadi kepada orang lain"


Lain hal dengan Faizal anak polos yang dan baik hati itu, mendengar seseorang yang telah menolong dirinya ada di tengah mereka membuat anak itu langsung menampilkan senyuman terbaik yang dia punya


"Jadi om yang udah tolong aku ya? aku ucapkan terima kasih ya om"


Entah mengapa hati Daniel merasa sedikit sakit mendengar anak yang seharusnya memanggil dia papa memanggil dirinya dengan sebutan om

__ADS_1


"Kamu salah nak, seharusnya kamu panggil saya papa bukan om. Seharusnya bukan orang itu yang kamu panggil papa," tersenyum palsu


__ADS_2