
Daniel mulai melepaskan pelukannya saat merasa Caca sudah mulai tenang dan memberikan Caca sebotol air mineral yang berada di dalam mobilnya, Daniel tak dapat berkata-kata lagi saat melihat Caca menangis dengan hebat. Yang Daniel tau hanya hatinya terasa amat sakit melihat Caca menangis seperti itu
Caca yang sudah mulai merasa tenang mulai menatap ke arah Daniel dengan serius karena dia merasa harus mendapatkan penjelasan dari semua perbuatan Daniel, Caca merasa dia harus memperjelas semua yang ada
"Kamu harus tau kalau dulu kita pernah saling mengenal pak"
Daniel berusaha kuat untuk menutupi perasaan yang dia rasakan saat itu
"Maaf karena aku ga bisa ingat kamu"
Caca pun tersenyum getir
"Ga masalah pak, karena masa lalu kita bukan sesuatu yang baik untuk di ingat. Jadi tolong jangan lagi membebani aku dengan semua permintaan aneh kamu pak, aku rasa perasaan yang bapak rasakan ke aku bukan perasaan suka terhadap lawan jenis. Tapi lebih ke perasaan bersalah, walaupun bapak ga bisa mengingat aku"
Daniel hanya bisa terdiam dengan wajah yang sulit di artikan oleh Caca pada saat itu
"Kalau ga ada yang mau di bahas lagi, aku turun dulu pak"
Baru saja Caca bersiap untuk turun tiba-tiba saja Daniel sudah memegang tangan Caca dan membuat Caca menoleh kembali ke arah dirinya
"Dari mana kamu bisa yakin kalau yang aku rasakan cuma perasaan bersalah bukan perasaan cinta?"
Caca pun membuang nafasnya dengan kasar
"Karena kamu sendiri yang bilang itu dulu ke aku pak, sesaat sebelum kamu mengalami kecelakaan"
Daniel berusaha keras untuk mengingat tentang apa yang pernah dia katakan, dan akhirnya dia pun menyadari di mana letak kesalahan dia saat itu
"Jadi itu alasan kamu menanyakan hal itu di rumah sakit Ca? apa karena itu juga kamu berbohong tentang Ical sama aku? karena kamu ga yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu, kamu fikir aku ada di sana hanya karena perasaan bersalah setelah mengetahui kenyataan tentang kecelakaan Gio"
Daniel pun tersenyum tipis membuat Caca menatap bingung ke arah dirinya
"Kalau kamu memang sehebat itu bisa membaca hati dan pikiran orang lain, kenapa sulit untuk kamu membaca hati dan pikiran aku Ca?"
__ADS_1
Daniel memegang kedua pipi Caca agar tatapan mata mereka berdua bisa dapat saling bertemu
"Dengerin aku baik-baik Ca, aku mungkin belum mengingat apa yang pernah terjadi di antara kita berdua. Tetapi yang namanya hati ga akan bisa berbohong Ca, dan aku yakin baik dulu ataupun sekarang aku mencintai kamu dari dasar lubuk hati aku yang terdalam"
Wajah Caca sudah mulai berubah menjadi semu merah karena ucapan Daniel yang penuh keyakinan
"Mungkin karena aku yang dulu mencintai kamu terlalu dalam, jadi bahkan saat aku ga mengingat kamu sekali pun aku tetap ga bisa menerima perempuan lain di dalam hati aku Ca. Apa itu juga belum bisa kamu jadikan bukti yang cukup? bukti kalau aku benar-benar mencintai kamu"
Caca yang merasa tak sanggup lagi menatap mata Daniel pun berusaha melepaskan wajahnya dari kedua tangan Daniel, dan Daniel pun tersenyum tipis lalu semakin erat memegang kedua pipi Caca
"Lepas pak"
"Oke, aku lepas tapi setelah aku mencium kamu supaya kamu semakin yakin dengan perasaan aku ke kamu"
Caca pun hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, Daniel mulai mendekatkan bibirnya ke arah Caca
"Apa dia mau cium bibir aku?"
Caca yang merasa panik pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memejamkan kedua bola matanya, dan yang terjadi adalah Daniel mencium kening Caca dengan lembut. Perbuatan Daniel berhasil membuat Caca malu bukan main karena telah berpikiran sejauh itu
Caca mulai membuka kedua bola matanya setelah merasa kedua tangan Daniel tak lagi memegang kedua pipinya
"Jadi besok kamu sama Ical di jemput sama sekretaris aku ya, nanti kita berangkat bareng ke sana"
"Aku ga bisa pak, aku harus ke sana sama Dira melakukan pengecekan sebelum acara mulai"
"Aku sudah suruh orang untuk handle pekerjaan kamu," ucap Daniel dengan entengnya
"Tapi pak..."
"Tolong Ca untuk sekali ini ga ada kata tapi, untuk sekali ini aja aku ga mau ngalah sama kamu. Cuma dengan cara ini kamu bisa semakin yakin dengan perasaan aku ke kamu Ca"
"Akh!! kamu kenapa kamu paksa aku terus sih?"
__ADS_1
"Ya maaf, karena ga mungkin aku biarin kamu sibuk urus acara itu besok. Padahal kamu calon nyonya besar di perusahaan itu"
"Jangan selalu mengucapkan kata-kata yang aneh pak," ucap Caca dengan pelan walaupun masih terdengar
Daniel pun tersenyum tipis dan meletakkan tangannya di ujung kepala Caca
"Seandainya kamu mau aku bisa nikahi kamu secepatnya"
Entah sudah secepat apa detak jantung Caca pada saat itu, tanpa Caca sadari tembok tinggi yang dia bangun kini benar-benar sudah runtuh. Dan hatinya benar-benar merindukan kelembutan dari orang tersebut
"Kamu punya nomor sekretaris aku kan?"
Caca menjawab dengan anggukkan kepalanya karena saat itu dia sudah tak sanggup untuk melihat ke arah Daniel
"Kalau kalian udah siap hubungi sekretaris aku ya, nanti dia datang jemput kamu sama Ical"
"Terserah kamu aja pak"
Caca segera melarikan diri saat Daniel sudah melepaskan dirinya, dan kini dia pun sudah berada di dalam kamarnya. Lalu Dira pun datang untuk melaporkan kepada Caca bahwa tadi ada banyak tenaga profesional yang datang dan membantu pekerjaan mereka, sehingga mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sangat lancar
"Kok bisa?"
"Katanya orang yang di kirim sama pak Daniel mbak"
"Oh ya, besok kamu tolong handle di sana ya. Besok mbak sama Ical mau datang ke acara itu karena permintaan dari pak Daniel"
Dira pun langsung memasang wajah sedikit khawatir
"Mbak tau apa yang bikin kamu khawatir, tapi mbak juga ga bisa tolak permintaan dia tadi"
"Aku yakin mbak punya pertimbangan sendiri, oh pantas orang-orang tadi bilang supaya aku tenang aja dan mereka akan datang membantu untuk acara besok"
Caca pun tersenyum tipis
__ADS_1
"Ternyata kamu memang sudah mempersiapkan sampai sejauh ini ya kak, apa aku boleh sekali lagi percaya sama kamu kak? sampai detik ini aku memang ga pernah bisa menggantikan kamu dengan orang lain kak, tapi aku juga takut kalau kamu akan menyakiti hati aku lagi kak. Wahai hati jika kamu ingin memberi dia kesempatan, tolong buka pintu kamu dengan lebar dan beri dia kepercayaan yang kamu miliki"