
Daniel kembali tertidur di atas pangkuan Caca sebagai bantalan untuk kepalanya dan sekali ini Daniel menambahkan dengan menggenggam tangan Caca, Daniel tak membiarkan Caca melepaskan tangannya sama sekali. Dengan mudah Daniel terlelap karena pengaruh obat yang dia minum, sedangkan Caca berusaha kuat mengendalikan detak jantung nya yang berdetak dengan sangat cepat
"Kenapa jantung aku bisa berdetak secepat ini sih? ingat Ca dulu dia bisa membuat kamu jatuh ke jurang yang dalam, bisa aja saat ini juga dia sedang berpura-pura dengan ini semua"
Hati dan logika Caca pada saat itu sedang berperang dengan sangat hebat, hatinya benar-benar ingin menyambut kehangatan yang Daniel tawarkan tetapi logikanya memilih untuk mengingat semua kejadian yang pernah terjadi. Hingga suara notifikasi di ponsel Caca berbunyi
Caca meraih ponselnya yang berada di dalam tas secara perlahan agar tak membuat orang yang sedang tertidur menjadi terbangun, dan ternyata Dira mengirimkan sebuah pesan kepada Caca
"Mbak semua dekorasi untuk acara besok sudah hampir selesai, mbak ada di mana? apa mbak ga mau cek dulu?"
"Benar juga acaranya besok, sebaiknya aku balik ke sana buat pengecekan terakhir"
Caca secara perlahan melepaskan tangan Daniel dan saat itu Daniel sudah mulai terlihat akan terbangun, Caca segera menghentikan semua aksinya hingga Daniel kembali terlelap. Saat nafas Daniel sudah mulai teratur Caca berusaha memindahkan kepala Daniel secara perlahan dan tiba-tiba saja Daniel langsung membuka kedua matanya
"Kamu mau kemana Ca?" tanya Daniel dengan wajah bersedih
"Aku mau cek dekorasi pak karena kata Dira mereka sudah hampir selesai, kan acaranya besok. Jadi sebaiknya bapak lanjut istirahat aja biar besok bisa fit lagi"
Bukannya menurut Daniel malah mendudukkan tubuhnya dengan sempurna
"Aku ikut ya"
"Sebaiknya bapak istirahat aja, besok acara ulang tahun perusahaan bapak. Gimana bapak bisa hadir di sana kalau keadaan bapak seperti ini?" ucap Caca dengan serius
Daniel menundukkan kepalanya seperti seorang anak kecil yang sedang mendapatkan peringatan dari orang tuanya
"Tapi aku mau dekat kamu terus Ca," ucap Daniel dengan pelan tetapi tetap terdengar
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan saat ini? hati aku ga tega mau tinggalin dia, tapi aku juga takut kalau aku semakin terjebak di perasaan ini. Aku benar-benar takut ini semua cuma khayalan semata"
__ADS_1
"Gimana kalau aku pergi dulu sebentar cek kerjaan mereka, nanti aku balik lagi ke sini"
Daniel langsung memegang ujung baju Caca
"Ikut ya," ucap Daniel dengan lirih
Caca membuang nafasnya dengan kasar dan meraih tas nya untuk mengambil ponselnya, tiba-tiba saja Daniel langsung bangkit dari duduknya dan membuat Caca memandang ke arah dirinya dengan tatapan mata bingung
"Kamu mau ngapain?"
"Aku ga perduli kamu marah apa ga sama aku, pokoknya aku tetap mau ikut"
Caca pun tersenyum tipis
"Mau ikut kemana? aku ga jadi pergi kok, aku cuma mau telepon Dira dan bilang aku ga datang lagi ke sana"
Daniel pun mendudukkan kembali tubuhnya dan segera meraih ponselnya dan langsung menghubungi sang sekretaris untuk membantu Dira di tempat itu, dia juga memerintakan sang sekretaris memastikan semuanya berjalan dengan baik
Detik demi detik terus berlalu dan tanpa tersadar Caca pun ikut tertidur dengan posisi terduduk, saat Daniel terbangun dengan keadaan yang sudah semakin membaik dia pun bangkit secara perlahan agar tak membuat Caca terbangun. Daniel memandang wajah Caca dari dekat dengan intens
"Maaf ya karena saat ini aku berbohong lagi sama kamu tapi kebohongan aku saat ini bukan untuk menyakiti kamu lagi Ca, aku cuma mau kamu bisa nyaman ada di dekat aku. Karena aku yakin dengan semua kenangan pahit yang aku berikan ke kamu, pasti kamu ga akan merasa nyaman ada di dekat aku kalau kamu tau aku ingat semuanya"
"Terima kasih kamu tetap mempertahankan Ical saat itu, mulai sekarang aku akan jadi perisai bagi kamu dan anak kita Ca. Jadi hidup lah dengan tenang dan bahagia karena cuma itu tujuan hidup aku saat ini"
Daniel mulai bangkit dan membersihkan diri, dia juga memesan makanan untuk mereka berdua. Sedangkan Caca masih asik terlelap di alam dengan posisi yang sama, Daniel sengaja tak membaringkan tubuh Caca agar dia tak terbangun
Saat pengantar makanan tiba Caca pun ikut terbangun mendengar suara bel apartemen Daniel, Caca melihat Daniel sudah berada di depan pintu untuk mengambil makanan tersebut. Daniel pun mulai berjalan ke arah ruang tamu sambil tersenyum
"Maaf ya jadi bangunin kamu tidur, aku lupa bilang sama kurir nya supaya ga pencet bel"
__ADS_1
"Kamu sudah merasa lebih baik pak?"
Daniel hanya tersenyum tipis dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping Caca
"Kita makan dulu ya"
Caca pun baru tersadar bahwa saat itu di pipi Daniel terdapat goresan luka yang cukup dalam dan itu terlihat seperti baru
"Pipi kamu kenapa?"
"Kalau aku bilang ini karena kamu, kamu percaya ga?"
"Memang aku buat apa ke kamu?" tanya Caca sambil mengerutkan keningnya
Daniel pun tersenyum tipis dan meletakkan tangannya di ujung kepala Caca dengan lembut
"Tapi ini memang karena kamu Ca, ini balasan yang harus aku terima karena aku memilih kamu di hadapan keluarga besar aku." ucap Daniel sambil tersenyum tipis
Mendengar hal tersebut dalam sekejap wajah Caca berubah menjadi cemas bercampur sedikit tak percaya, Daniel sudah mau melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil peralatan makan. Tiba-tiba saja Caca memegang tangan Daniel dan membuat Daniel kembali menoleh ke arah Caca
"Kamu bercanda kan pak?"
Daniel menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Bercanda kamu sudah sedikit berlebihan pak," ucap Caca dengan serius
"Aku ga bercanda Ca, dari pertama aku lihat kamu aku sudah yakin hati aku memilih kamu. Jadi aku langsung memutuskan hubungan antara aku dan Vivian, aku juga umumkan ke keluarga besar aku kalau aku sudah memilih kamu sebagai perempuan yang akan jadi pendamping hidup aku." ucap Daniel penuh keyakinan
Caca hanya bisa terdiam dengan serangan bertubi-tubi yang Daniel berikan, sedangkan Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Caca hingga kening mereka saling bertemu
__ADS_1
"Aku kasih tau kamu ya Ca kalau aku benar-benar serius sama kamu, impian terbesar di dalam hidup aku saat ini cuma menjadikan kamu dan Ical bagian dari hidup aku untuk selamanya." ucap Daniel dengan lembut tetapi penuh keyakinan
Daniel mengakhiri itu semua dengan sebuah ciuman yang lembut di kening Caca