Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 20


__ADS_3

Laila menatap geram kedua wanita yang telah menguji kesabarannya. Dari awal bertemu, ia sudah merasakan aura tak suka dari keduanya. Dan Laila tahu penyebab Mayang dan Neta bersikap seperti sekarang.


"Maaf ya, mbak. Saya nggak pernah ada niat untuk mencari masalah dengan kalian. Tapi, kalau kalian bersikap seperti ini, tentu aja saya nggak akan diam. Asal kalian tau, saya paham kok kenapa kalian terus mengganggu saya." Laila menaikkan sebelah alisnya dan menatap remeh keduanya.


"Kalian nggak suka kan saya menikah dengan Mas Gilang." Ucapnya sarkas.


"Bagus kalau lo udah tau. Harusnya lo nyadar, kalau lo itu nggak pantes buat adik gue. Dari dulu Gilang itu cocoknya sama Mayang, bukan sama lo yang cuma pelayan rendahan." Neta kini mulai membalas perkataan Laila.


Mayang yang tadinya mulai diam kini kembali ikut angkat suara.


"Lo tuh udah ngerebut Gilang dari gue. Sampai kapan pun gue nggak bakalan ngebiarin hidup tenang sama Gilang. Karena Gilang harusnya jadi milik gue." Mayang berkata sembari menunjuk wajah Laila.


"Dengar ya. Kami menikah karena saling mencintai. Harusnya mbak yang sadar dong, kalau Mas Gilang itu nggak mau sama mbak. Jadi, tolong nggak usah mbak bilang saya merebut Mas Gilang. Orang Mas Gilangnya yang mau sama saya, kok." Pungkas Laila sembari menepis jemari Mayang yang ada didepan wajahnya dan sempat ia pegang.


Laila berlalu ke arah dapur, meninggalkan keduanya yang masih dengan rasa kesal berdiri menatap kepergiannya. Terlihat Neta mengepal tangannya erat dan menggeram marah.


"Kurang ajar. Berani banget tuh cewek." Ucap Neta kesal.


"Pokoknya gue nggak mau ngalah, Net. Gue harus bisa misahin Gilang dari cewek rendahan itu."


Neta mengusap lengan Mayang menenangkannya, meski sejujurnya ia juga sangat geram dan merasa kesal karena tak bisa mengalahkan perkataan Laila.


.


.


Di dapur Laila terlihat kesal dan berusaha meredam emosinya. Ia merasa semakin hari semakin sulit saja hal yang harus ia alami setelah menikah dengan Gilang. Mungkin kemaren-kemaren ia masih bisa mengentengkan Mayang dan Neta karena ia merasa tak mencari masalah dengan kedua wanita itu. Namun, sepertinya merekalah yang mencari masalah dengan dirinya.


Laila mengusap air matanya. Entah mengapa ia merasa cengeng sekarang. Ia memilih pergi ke ruangan Naya untuk mengambil tasnya. Ia harus menenangkan pikirannya ke luar.


Berjalan menyusuri jalanan yang terlihat ramai pejalan kaki, Laila melihat penjual es krim. Ia menghampiri lalu memesannya, mengantri diantara banyaknya peminat es krim tersebut.


Setelah mendapatkan es krim nya, Laila duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Cukup teduh karena ada pohon besar. Laila menikmati es krim sembari menyaksikan anak-anak yang banyak bermain di taman yang tak jauh dari sana.


"Ekhemm..." Deheman seseorang mengalihkan aktivitas Laila. Ia melirik seseorang tersebut.


"Delon?" Ucap Laila sedikit terkejut. Ia tak berpikir akan bertemu Delon disini.


"Hai. Sendirian aja, La." Kata Delon berbasa-basi.

__ADS_1


"Iya. Kamu ngapain disini?" Tanya Laila.


"Oh, aku tadi ada ketemu klien dekat sini. Eh, nggak sengaja liat kamu. Makanya aku samperin. Emm, nggak apa-apa kan aku disini?" Delon memasang wajah ragu.


"Iya, nggak apa-apa, kok. Disini kan tempat umum." Jawab Laila enteng.


Delon duduk di sebelah Laila. Sementara wanita itu asik dengan es krimnya. Delon memandang wajah wanita yang masih mengisi ruang hatinya itu. Wajah teduh Laila membuat hatinya kembali bergetar.


"Kamu kenapa senyum kayak gitu?" Laila tiba-tiba bertanya yang mampu membuat Delon menjadi salah tingkah.


"Eh, enggak. Kamu,, cantik."


Laila menghentikan gerak mulutnya yang tengah menikmati es krim. Ia melirik Delon sekilas.


"Hahaha. Jangan salah paham. Kamu memang cantik kok, La. Semua orang juga tau itu. Tapi, aku nggak ada pikiran untuk menggoda kamu. Kamu tenang aja. Aku lagi berusaha move on, kok." Ucap Delon dan diikuti senyuman di akhir perkataannya.


Laila hanya bisa menanggapi dengan senyum simpul. Karena memang ia tak ingin terlalu percaya diri dan berpikir negatif pada lelaki di sebelahnya itu.


"Gimana pernikahan kamu?" Tanya Delon.


Laila menatapnya datar. "Kenapa kamu tanya itu?" Laila balik bertanya, ia enggan untuk menjawab.


"Tentu aja aku bahagia." Jawab Laila kembali dengan senyum simpul.


"Syukur lah kalau gitu." Ucap Delon pasrah.


Kamu bohong, La. Kamu nggak bahagia. Ingin sekali Delon mengatakannya langsung. Namun, ia tak ingin gegabah. Meski sejujurnya ia sudah tak tahan untuk merebut Laila dari Gilang, dan membuat wanita yang ia cintai ini bahagia. Hanya saja ia perlu bermain cantik.


Delon mencoba mencari topik obrolan. Setelah mengobrol beberapa Laila akhirnya pamit untuk pulang. Namun, langkahnya dicegah oleh Delon yang menawarkan mengantarnya pulang.


"Aku anter ya, La?" Katanya menawarkan.


"Nggak usah, Delon. Aku naik taksi aja." Laila menolak.


"Tapi, La. Nanti kamu kenapa-napa gimana?"


Laila menatap Delon heran dengan kening berkerut. "Aku udah gede, loh." Laila mencoba menghilangkan kecanggungan antara keduanya dengan sedikit keceriaan.


"Udah, ya. Aku pergi dulu." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Delon dengan keterdiamannya.

__ADS_1


"Sabar, Delon. Sabar. Lo hanya perlu menunggu sebentar lagi." Gumamnya.


.


.


Di tempatnya bekerja saat ini, Gilang tengah sibuk berkutik dengan berkas-berkas. Banyak dokumen yang harus ia periksa karena ini hari pertama dirinya bertugas di kantor cabang ini.


Sebuah notifikasi baru saja masuk ke ponsel Gilang, ditandai dengan bunyi dentingan nada dari benda pipih tersebut. Tanpa merasa curiga, Gilang meraih ponselnya sembari tetap fokus pada berkas yang tengahh ia periksa. Menyadari sebuah pesan whatsapp, Ia langsung saja membukanya.


Gilang merasa kesal mendapati isi pesan tersebut yang adalah sebuah foto yang memperlihatkan istrinya tengah berduaan dengan seorang laki-laki. Wajah Gilang memerah. Ia tahu sosok lelaki tersebut. Hal ini sukses membuat emosinya naik.


"Kurang ajar." Ucapnya geram. Lalu, dengan kuat Gilang memukul meja.


Ia mendial nomor ponsel Romi.


"Kamu pesan tiket sekarang juga. Saya mau pulang sekarang." Ucapnya dengan nada datar namun tegas. Setelahnya, ia mematikan panggilan secara sepihak.


"Delon.. Bener-bener nggak bisa didiemin." Gerutu Gilang dengan tangan mengepal kuat.


Ponselnya kembali berdering. Tanpa pikir panjang, Gilang segera mengangkat panggilan dari sekretarisnya tersebut. Setelahnya ia langsung bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.


"Laila,, Laila. Kamu udah bikin pikiran aku kacau. Kamu lihat aja. Setelah ini kamu nggak akan bisa ketemu lagi sama cowok itu."


Romi berjalan cepat ke arah posisinya sekarang. Wajah sekretarisnya itu terlihat bingung.


"Bos. Ada apa, sih? Kok tiba-tiba pulang?" Tanya Romi tanpa basa-basi.


"Nanti juga kamu tau sendiri." Jawab Gilang enteng. Wajahnya masih sama, datar dan dingin.


"Ayo. Anterin saya ke bandara!" Titahnya yang hanya dituruti saja oleh lelaki itu.


Di belakang Gilang, Romi menggeleng melihat tingkah bosnya itu. Semenjak menikah, jauh sekali perubahan sikap Gilang. Ia semakin dingin.


.


.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2