Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Nasib Buruk


__ADS_3

Daniel sudah mulai membuat langkah selanjutnya kini dia mulai mengerahkan segala kekuatan dan koneksi yang dia punya agar bisa segera menemukan Caca, sedangkan Caca sedang menikmati indahnya rasa bersyukur akan keadaan dia saat itu


"Mama mungkin ga akan bisa memberikan semua yang kamu mau sayang, tapi mama janji mama akan selalu melakukan yang terbaik untuk kamu. Sekeras apapun jalan yang harus kita hadapi di depan nanti, kita harus bisa saling menguatkan ya sayang." tersenyum tipis sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata


"Bagaimana hari ini mbak?"


"Ya gitu deh Dira masih suka mual kalau cium bau nasi, ternyata wanita yang sedang hamil benar-benar aneh ya. Tapi kamu tau mbak benar-benar merasa bahagia," tersenyum


Tiba-tiba saja Dira mendapatkan panggilan telepon dari ibunya


"Ya bu"


"Kamu bisa tolong ibu ga nak?"


"Ada apa ya bu?"


"Tolong beliin ibu obat kayaknya ibu ga enak badan nak, adik kamu masih di sekolah"


"Aku izin mbak Caca dulu sebentar ya bu"


"Ya nak"


Ternyata Caca sudah menatap ke arah Dira sambil tersenyum


"Mbak saya boleh izin pulang sebentar, ibu saya ga enak badan minta saya beliin obat"


"Ya boleh lah, kamu harus sayang sama ibu kamu ya. Kamu lihat aja keadaan mbak, jadi kita harus sayang sama orang yang sudah melahirkan kita." tersenyum dengan tulus


"Makasih ya mbak, aku cuma sebentar aja mbak." Dira tersenyum tak enak hati meninggalkan Caca seorang diri


"Udah kamu nanti ga usah balik lagi ke sini, lebih baik kamu jagain ibu kamu dulu." tersenyum


"Tapi mbak..."


Caca pun tersenyum dengan sangat tulus


"Ga ada kata tapi, karena ini perintah dari bos kamu." tersenyum tipis


"Makasih ya mbak, tapi aku pasti nanti balik lagi kalau adik aku udah pulang dari sekolah"


"Ya udah gitu juga boleh"

__ADS_1


Caca tau dengan pasti bahwa saat itu Dira mengkhawatirkan ibunya dan juga dirinya, sehingga dia menginginkan Dira untuk kembali ke rumahnya dan tak melarang untuk kembali setelah adiknya pulang sekolah


Dira pun akhirnya segera berpamitan dan kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan ibunya, sedangkan Caca memilih untuk bermain-main dengan bunga yang ada di sana. Dan tiba-tiba saja ponselnya pun berdering


"Halo.."


"Apa ini Caca florist?"


"Ya benar, mau pesan apa pak?"


"Maaf kalau pesan sekarang dan di antar sebelum jam makan siang bisa ga?"


"Mau pesan nya apa ya pak? kalau papan bunga mungkin ga akan keburu pak"


"Saya mau pesan buket bunga mawar untuk melamar pacar saya nanti saat makan siang"


"Aku ambil ga ya? tapi kan Dira lagi ga ada"


"Mbak?"


"Oh ya pak"


"Baik pak, mau di kirim mana ya pak?"


Orang di seberang sana mulai menyebutkan sebuah alamat kantor di mana dia bekerja, dan Caca pun menerima hal tersebut. Caca pun mulai merangkai bunga yang akan di kirimkan, setelah selesai Caca segera memanggil ojek pangkalan yang berada tak jauh dari sana untuk mengantarkan bunga tersebut


Caca menerima hal tersebut hanya tak ingin pelanggan toko nya merasa kecewa, dan dia juga ingin bunga yang dia siapkan bisa membawa kebahagiaan bagi pasangan tersebut. Tetapi siapa sangka bila hari itu nasib buruk akan menghampiri dirinya


Tempat yang akan di datangi oleh Caca berada di seberang jalan, sedangkan saat itu keadaan jalanan sedang sedikit macet dan sang pemesan bunga sudah berkali-kali menghubungi Caca karena jam makan siang hampir tiba


Caca pun akhirnya memilih untuk turun dari motor dan menyeberangi jalan dengan cara berjalan kaki untuk menghemat waktu, dia meminta sang ojek agar nanti kembali bertemu di depan gedung yang di tuju. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja sebuah mobil menghantam tubuh Caca dengan cukup kuat


Tubuh Caca pun sudah tergeletak di atas aspal dan bunga yang akan Caca antar pun sudah terlempar entah kemana, Caca merasakan sekujur tubuhnya sakit hingga dia tak sanggup untuk bangkit dengan sendirinya. Orang-orang pun mulai mengerumuni dirinya dan sang tukang ojek pun langsung meninggalkan motornya dan berlari ke arah Caca


"Kenapa bisa begini? mama mohon kamu harus kuat sayang" memegang perutnya


Secara perlahan Caca mulai kehilangan kesadarannya tanpa tau apa yang akan dia terima saat nanti dia membuka kedua bola matanya


Dan ternyata di waktu yang bersamaan ada Sindy dan Rizal yang sedang menuju ke kota di mana Caca berada, sedangkan Daniel belum menerima kabar tentang keberadaan Caca saat itu karena dia sedang berada di sebuah seminar sebagai seorang motivator contoh pengusaha muda yang sukses


FLASH BACK

__ADS_1


Hari itu saat Rizal mendapatkan kabar tentang keberadaan Caca dia langsung memanggil Sindy ke ruangannya


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk"


"Maaf bapak memanggil saya?"


"Ya ampun mbak kita kan udah saling kenal, kalau kita lagi berdua begini ga usah pakai bahasa yang formal dong"


"Saya merasa tak enak hati pak, bagaimana pun saat ini bapak adalah alasan saya." dengan sopan


"Ya udah terserah mbak aja deh, padahal tadinya aku mau kasih kabar baik tentang Caca." memasang wajah malas


Mendengar nama Caca wajah Sindy pun langsung berubah drastis menjadi berbinar-benar


"Apa kamu udah dapat kabar tentang Caca?"


Rizal masih memasang wajah yang sama dan tiba-tiba saja dia pun bangkit dari duduknya lalu mengarahkan langkah kakinya ke arah pintu


"Loh, kamu mau ke mana?"


Rizal pun memutar tubuhnya sambil tersenyum


"Mau ke tempat Caca lah mbak," dengan santai


"Kamu ga lagi bercanda kan? kamu beneran udah tau Caca ada di mana?." menatap dengan serius


Rizal pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, hati Sindy bagaikan mau meledak karena kabar gembira tersebut. Dan bodohnya tanpa sadar Sindy pun berlari ke arah Rizal dan langsung memeluk tubuh Rizal sambil berlompat kecil


"Bener kan? akh aku juga mau ikut ke tempat Caca ya." tertawa dengan riang


Serangan mendadak dari Sindy berhasil membuat Rizal terkejut bukan main, dia pun hanya bisa terdiam sambil membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Melihat ekspresi wajah Rizal yang tegang pun akhirnya Sindy mendapatkan kembali kesadarannya, secara spontan Sindy pun langsung melepaskan tangannya dari tubuh Rizal


"Maaf..." tersenyum canggung


"Ayo mbak kita jalan sekarang"


Rizal langsung memutar tubuhnya dan berjalan dengan cepat, sedangkan Sindy hanya bisa mengekor dari belakang tanpa tau sama sekali bahwa saat itu detak jantung Rizal berdetak dengan sangat cepat karena ulahnya


FLASH OFF

__ADS_1


__ADS_2