
Waktu berlalu begitu saja tanpa terasa Waktu empat tahun sudah berlalu, dan saat itu Adel dan Abian sedang di sibukkan untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Setelah banyak rintangan yang harus mereka hadapi kini mereka berdua sudah mengantongi restu dari pihak keluarga Adel
Hari itu mereka sedang berdua sedang makan siang bersama setelah melakukan fitting baju pengantin, Adel pun mulai menatap Abian dengan tatapan mata yang sedikit sulit di artikan. Sedangkan Abian paham betul bila Adel sudah seperti pasti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan
"Kenapa?"
"Boleh ga untuk acara kita nanti aku pakai event organiser nya Caca," dengan sedikit ragu
Mendengar hal tersebut Abian pun langsung menatap calon istrinya tersebut dengan seksama
"Apa kamu yakin?" dengan serius
Adel pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum canggung, sedangkan Abian terlihat terdiam dan memikirkan sesuatu
"Tapi apa dia mau? karena sudah pasti jadi ada kemungkinan mereka berdua jadi ketemu," menatap Adel dengan serius
"Dia harus mau dong," tersenyum tipis
"Lagi juga kan seperti yang kamu bilang kalau dia ga ingat apapun tentang Caca, jadi kalau pun mereka ketemu mungkin ga akan jadi masalah dong sayang. Aku cuma mau sahabat aku ikut andil dalam acara terpenting di dalam hidup aku," dengan wajah penuh harap
Abian pun kembali terdiam dan memikirkan sesuatu
FLASH BACK
Daniel yang sudah dalam keadaan lemah segera di larikan ke rumah sakit, pihak rumah sakit segera menghubungi nomor yang ada d ponsel Daniel dan panggilan terakhir yang tercantum adalah nomor Abian. Tanpa berpikir panjang lagi Abian segera meluncur ke tempat di mana Daniel berada
Abian juga segera mengabarkan hal tersebut kepada keluarga besar Perkasa, tetapi jarak antara kota asal mereka dan tempat Daniel mengalami kecelakaan benar-benar jauh. Sehingga mereka meminta agar Abian menjaga Daniel selama di sana dan tak ada satu pun orang datang ke tempat itu
Rico yang saat itu sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan pun segera kembali saat mendengar kabar tentang Daniel, karena bagi Rico Daniel adalah saudara terpenting di dalam hidupnya. Daniel adalah satu-satunya anggota keluarga Perkasa yang tak pernah memarahi dirinya selain saat dia membuat masalah dengan Caca
Daniel kini sudah di pindahkan ke ruang rawat dan akhirnya dia pun mulai membuka kedua bola matanya, Abian yang melihat hal tersebut langsung memanggil dokter dan akhirnya dokter menyatakan bahwa Daniel sudah melewati masa kritis
"Saya kenapa?"
"Anda mengalami kecelakaan pak"
__ADS_1
"Kecelakaan?" Daniel menatap ke arah Abian dengan tatapan mata yang aneh, saat itu dapat terlihat dengan jelas bahwa Daniel sedang berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya
Tiba-tiba saja Rico pun hadir di antara mereka dengan nafas yang memburu karena berlari secepat yang dia bisa semenjak dia turun dari mobilnya, untuk pertama kalinya seorang pembuat onar seperti Rico menunjukkan ekspresi wajah sedih dan khawatir
"Lu baik-baik aja kan? dengan nafas yang memburu
"Ternyata keluarga yang pertama menjenguk gw malah si pembuat onar," tersenyum tipis
Rico pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Daniel sambil terus mencoba mengatur nafasnya
"Lu mau berharap siapa lagi yang datang kalau bukan gw? lagian lu juga yang salah sih," tersenyum
Daniel hanya terdiam dan menatap ke arah Rico, dia tau dengan pasti bahwa senyuman Rico saat itu akan berakhir dengan perkataan yang aneh
"Kenapa?"
"Kalau mau kecelakaan itu jangan jauh-jauh," tertawa lepas
"Apa maksud lu? memang gw ada di mana?"
"Harusnya gw yang tanya sama lu? ngapain lu ada di tempat terpencil gini?"
Daniel pun mencoba mengingat kembali apa yang sedang dia lakukan di tempat itu hingga keadaan dia kini hanya bisa berbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit, semakin mencoba mengingat apa yang terjadi Daniel merasakan kepalanya semakin sakit. Abian pun segera bergegas memanggil dokter karena melihat keadaan Daniel
Pihak rumah sakit pun melakukan pemeriksaan lanjutan, dan sebagai pihak keluarga Rico menemui dokter yang menangani Daniel ke ruangannya
"Jadi apa yang terjadi sama saudara saya dok?"
"Sepertinya pasien kehilangan sebagian memori di dalam otaknya, hal tersebut mungkin terjadi karena benturan yang keras saat kecelakaan atau karena sebuah beban yang berat"
"Tapi dia ingat saya dok," menatap ke arah dokter dengan serius
"Karena sepertinya hanya beberapa hal yang pasien lupakan, bisa jadi alam bawah sadar pasien menginginkan hal tersebut"
"Apa dia akan lupa selamanya dok?"
__ADS_1
"Untuk hal tersebut saya tidak bisa menjamin apapun untuk kasus seperti ini ada berbagai macam, saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit yang lebih besar"
Entah hanya karena terjadi kecelakaan atau karena tekanan hati Daniel saat itu, Daniel benar-benar melupakan semua kenangan tentang Caca. Dia benar-benar di beri kesempatan kedua untuk hidup tanpa ada nama Caca di dalam ingatan nya
FLASH OFF
"Selama ini Adel memang punya banyak teman tapi rata-rata semua teman yang ada di dekat selalu punya niat tersembunyi, baru Caca orang yang berteman dengan dia dengan tulus. Lagi pula sampai saat ini pak Daniel ga ingat apapun tentang Caca, mungkin ga akan jadi masalah apapun"
Abian pun akhirnya memilih untuk mengikuti keinginan calon istrinya tersebut, Abian hanya tak ingin mempermasalahkan sebuah hal kecil
Bagi seorang Abian mendapatkan hati Adel adalah perkara yang mudah bahkan dahulu kala Adel yang selalu mengejar dirinya. Tapi lain hal dengan mengantongi restu keluarga Adel, dengan status dan keadaan mereka Abian butuh sebuah perjuangan yang sangat berat
Di tempat yang jauh di sana ada seorang anak kecil yang sedang berlari ke arah seorang pria muda yang sangat tampan, pria tersebut tersenyum hangat dan langsung menggendong anak tersebut lalu mencium pipi anak tersebut dengan lembut
"Anak papa ga nakal kan hari ini?"
"Ga dong pah, aku kan anak baik jadi aku selalu nurut semua omongan mama." tersenyum dengan bangga
Pria tersebut mencium kembali pipi anak tersebut
"Itu baru namanya anak papa," pria tersebut mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah
"Apa hari ini papa datang sendiri?"
"Ya sayang, adik kamu lagi agak rewel jadi mama Alya lagi jaga adek kamu"
"Apa adik aku lagi sakit pah?"
"Cuma sedikit meriang karena mau tumbuh gigi," tersenyum
"Terus kenapa papa datang ke sini? harusnya papa jaga adik aku dong." memasang wajah sedikit cemberut
Pria tersebut pun tersenyum tipis
"Karena hari ini jadwal papa jenguk jagoan kecil papa," mencium pipi anak tersebut
__ADS_1