
Gilang mondar-mandir di balkon kamarnya. Hatinya resah. Mengapa sulit sekali untuk sekedar mengungkapkan perasaannya pada sang istri. Kini, waktu sudah hampir larut dan Laila sudah larut di alam mimpi. Hal itu semakin membuat Gilang bimbang. Berkali-kali ia menggeram karena kesal pada dirinya sendiri.
Tak ada pilihan lain malam ini. Akan lebih baik ia tidur, karena besok ia harus bekerja. Gilang sudah naik ke tempat tidur. Ia menatap lekat wajah teduh Laila dengan hati yang bergemuruh. Ia sungguh telah mencintai wanita ini begitu dalam. Sehingga ia kini merasa tak rela meninggalkannya lagi dalam waktu yang lama.
Meski semua perasaannya belum mampu Gilang ucapkan langsung. Namun, ia akan memulai dengan semua sikap yang menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya pada sang istri.
"Selamat malam, sayang." Ucap Gilang berbisik sembari mengecup puncak kepala istrinya yang terlihat nyenyak itu.
Setelahnya Gilang pun ikut merebahkan tubuhnya dan menatik selimut. Saat ia terpejam, tanpa ia sadari Laila membuka matanya. Ia menatap nanar langit-langit kamar. Perlakuan Gilang membuatnya berdebar, sekaligus membuatnya bimbang. Apa maksud perlakuan manis suaminya ini? Apa mungkin Gilang sudah mulai menaruh hati padanya? Tapi, bagaimana dengan Mayang? Mereka bahkan masih berhubungan, meski Laila tidak tahu bagaimana jelasnya.
Menghesmbuskan napas berat, Laila kembali memejamkan matanya. Hari ini tubuhnya terasa kurang sehat. Ditambah lagi ia pingsan tadi siang. Lebih baik ia benar-benar istirahat dan melupakan semua masalah yang ada, walau hanya semalam. Setidaknya ia tidak stress dan kandungannya yang masih sangat muda akan baik-baik saja.
.
.
Pukul setengah 5 pagi Gilang bangun. Ia segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. Sekitar 15 menit ia keluar dengan rambut basah. Ia menatap tempat tidur dimana sang istri masih tertidur pulas. Gilang pun merasa heran, karena biasanya Laila bangun lebih dulu dari dirinya. Namun, sekarang bahkan ia sudah selesai mandi, Laila masih belum bangun.
Gilang pun menunaikan kewajiban shalatnya dulu. Mungkin setelah ia shalat Laila akan bangun. Namun, nyatanya tidak. Setelah ia selesai dan melipat sajadah pun, istrinya itu masih dengan posisi yang sama. Ada apa dengan Laila? Pikirnya.
"La." Ujar Gilang pelan mencoba membangunkan sang istri.
Beberapa kali sahutan, akhirnya Laila menggeliat. Dengan wajah khas bangun tidurnya, dan rambut yang acak-acakan Laila perlahan bangun.
"Tumben kamu bangunnya susah." Ucap Gilang. Laila melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi.
"Hah?? Ya ampun. Aku kesiangan, mas." Keluhnya yang buru-buru beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
Laila langsung bergegas ke kamar mandi dengan berlari. Tak sampai 5 menit ia keluar lagi dengan tergesa-gesa. Gilang hanya memperhatikannya dengan wajah bingung sampai Laila akhirnya selesai shalat. Gilang bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponselnya saat menunggu istrinya itu selesai shalat.
Namun, Gilang kembali dibuat melongo karena Laila yang naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Ada apa dengan istrinya? Ia sungguh bingung.
"La,, Kamu mau tidur lagi?" Tanya Gilang.
"Iya. Aku capek, mas. Nanti jam 7 bangunin aku ya. Kita sarapan di luar aja." Jawabnya. Gilang semakin terlihat bodoh ketika memasang pasrah melihat istrinya yang berbicara dengan mata terpejam.
"La.. Kamu kok aneh banget? Nggak baik loh tidur lagi abis shalat subuh." Katanya berusaha membangunkan istrinya itu. Yang dibangunkan hanya bergumam tanpa kata.
Gilang menjadi gusar sekarang. Padahal tadi terlintas di pikirannya ingin sarapan dengan masakan istrinya. Gilang sudah membayangkan Ikan kuah kuning terhidang sebagai menu sarapannya pagi ini. Tapi, istrinya malah tidur kembali.
"La,,, bangun dong. Kita nggak usah sarapan di luar, ya." Gilang melembutkan nada bicaranya. Tiba-tiba Laila bangun.
"Iiihhh, mas. Aku ngantuk tau. Jangan berisik, iihh..." Laila merengek dengan wajah kesalnya.
Gilang dibuat terkejut dengan pergerakan istrinya yang tiba-tiba dan juga rengekan Laila yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Setelah mengucapkan rengekan singkat itu, Laila kembali merebahkan tubuhnya. Namun, tiba-tiba ia menangis.
"Haduh,,, La. Kok malah nangis, sih?" Gilang membujuk istrinya itu dan membawanya ke dalam pelukan. Aneh,, ini benar-benar aneh. Kenapa istrinya jadi cengeng.
"Ssstt,,, udah,, jangan nangis dong, La. Kok kamu jadi cengeng, begini? Jangan nangis lagi." Bujuknya mengusap bahu sang istri yang masih menangis.
Saat tengah berusaha menenangkan sang istri, tiba-tiba Gilang merasa ada yang aneh dengan perutnya. Ia tib-tiba merasa mual.
"Hoek,,," Gilang segera menutup mulutnya dan memberi jarak antara dirinya dengan sang istri. Laila sendiri, kinu berubah panik melihat keadaan suaminya yang seperti ingin muntah.
"Mas,,, mas kamu kenapa?" Tanyanya panik.
__ADS_1
Gilang berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel. Laila yang tadinya dalam keadaan mood yang buruk, kini ikut berlari menyusul suaminya ke kamar mandi. Ada apa dengan suaminya, pikir Laila.
Dengan penuh perhatian Laila mengusap tengkuk Gilang yang masih menunduk di wastafel. Laila ingat kalau ia pernah membaca. Lelaki bisa saja mengalami Couvade Syndrom ketika istrinya sedang hamil. Itu berarti suaminya menaruh rasa simpati dan kepedulian yang besar padanya.
Tapi, Laila belum tahu apakah benar suaminya telah mencintainya. Semoga saja benar. Ia tak ingin masalah dalam rumah tangganya semakin rumit.
"Mas. Apa yang mas rasain sekarang?" Tanya Laila saat Gilang sudah selesai membersihkan mulutnya dari muntahan. Lelaki itu terlihat terengah, ia memegang tangan Laila dengan erat.
Gilang menatap istrinya itu. Ternyata ada bekas lelehan air mata di pipi sang istri. Ia pun mengusapnya membuat Laila tertegun. Gilang juga melepas genggaman tangannya di tangan Laila, lalu beralih merapikan rambut Laila yang terlihat acak-acakan. Dengan berat, Gilang memaksakan wajahnya untuk tersenyum.
"Mas istirahat aja, ya. Kayaknya mas sakit, deh." Ucap Laila yang diangguki oleh Gilang. Mereka lalu beriringan ke arah tempat tidur. Setelahnya Gilang langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Laila membantu menyelimuti suaminya.
Laila pamit ke dapur untuk membuatkan Gilang makanan. Sebelum Laila benar-benar melangkah, Gilang masih sempat-sempatnya untuk memesan makanan yang ia mau.
"La,,, jangan bikinin bubur ya. Aku nggak suka. Bikinin aku sup aja." Katanya.
"Iya, mas. Aku bikinin." Jawab Laila dan berlalu.
Sementara itu, Gilang memejamkan matanya. Ia bingung kenapa tiba-tiba ia merasa mual tadinya. Dan kini kepalanya terasa pusing. Apa mungkun efek kelelahan karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya selama beberapa hari ini.
Mengingat sikap Laila tadi saat ia tiba-tiba muntah membuat Gilang tersenyum sendiri. Ia jadi teringat ucapan sahabat-sahabatnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Faizan, Rio dan Lian. Memiliki istri memang enak. Contohnua seperti sekarang, Laila merawatnya dengan sigap saat dirinya sedang sakit. Meski hanya sekedar mual dan muntah.
.
.
Bersambung.........
__ADS_1
.
.