Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 32


__ADS_3

Laila menatap kepergian sang suami dengan wajah datar. Selepas Gilang benar-benar pergi, ia menghela napas berat lalu membuangnya. Saat Gilang berada bersamanya di rumah, Laila merasa tenang. Karena setiap saat dirinya selalu bisa melihat suaminya itu. Namun, ketika Gilang harus kembali pergi ke Jogja, ia merasa resah, cemas dan sedih.


Hal itu karena Mayang. Wanita itulah yang membuatnya takut untuk membiarkan sang suami pergi tanpa dirinya. Wanita itu sangat mengidamkan suaminya, bahkan hingga sekarang.


Foto yang dikirimkan nomor tak dikenal tempi hari, sangat melukai hati Laila. Kemesraan suaminya dengan sang mantan kekasih membuat hati Laila serasa dihujam bongkahan batu besar. Haruskah ia bersikap tenang seperti beberapa hari ini, meski kenyataannya ia sangat takut jika saja Mayang berhasil merebut hati suaminya kembali.


Ya, Laila akui itu. Ia benar-benar telah mencintai suaminya sangat dalam. Namun tak tahu bagaimana perasaan suaminya padanya. Sikap lembut Gilang beberapa hari ini belum tentu karena lelaki itu telah mencintainya. Namun, bisa saja karena ia selalu ditegur dan bahkan dimarahi oleh kedua orang tua suaminya itu karena sering mengabaikan Laila.


Laila kembali menghela napas saat mengingat semua itu. Rasanya ia ingin menangis. Hah,,,, entahlah. Suasana hatinya mudah berubah sekarang. Sebaiknya ia melakukan sesuatu yang dapat menghibur hatinya dan juga membuatnya lupa akan semua beban yang selama ini menghantui.


Sendiri. Ya, Laila memang sendirian sekarang. Ia telah meminta Bi Eti untuk menetap saja bekerja di rumah mertuanya. Hal itu karena ia merasa tak tega jika Bi Eti harus bolak-balik. Jadinya, sekarang ia sendiri yang mengurus semua pekerjaan di rumah itu.


Laila membuat smoothies, berhubung ada banyak stok buah dan juga es krin di dalam kulkas. Ia memotong buah anggur dan pisang, lalu menaruhnya ke dalam blender, setelahnya Laila memasukkan es krim dan menyalakan mesin pencampur tersebut.


Sembari menunggu Laila memainkan ponselnya dan duduk di kursi pantri. Matanya membulat saat melihat sebuah postingan di akun sosial media milik Mayang. Foto itu memperlihatkan sebuah cincin dengan sebuah permata di tengahnya. Sangat cantik.


Laila menyentuh bagian postingan cerita di akun tersebut. Ternyata di posting tadi malam. Sebuah video terlihat Mayang sedang tersenyum memamerkan jemarinya yang memakai cincin di postingan tadi. Hanya Mayang saja dalam sorotan kamera tersebut. Laila penasaran, siapa yang memberikan cincin itu pada Mayang.


Apa mungkin suaminya? Gilang memang pergi keluar semalam. Laila tak tahu kemana suaminya itu. Gilang hanya mengatakan ada keperluan dan Laila membiarkan saja.


"Yaa Allah,,, Aku bingung dengan semua ini. Pernikahan macam apa yang aku jalani ini?" Ucap Laila lirih. Ia meratapi nasibnya.


"Apa pun yang dilakukan oleh suamiku di belakangku, aku harap mas Gilang nggak pernah mengkhianatiku." Lanjutnya kembali berucap penuh harap.


"Astaghfirullah..." Desis Laila dengan wajah terkejut saat menyadari bahwa ia masih memblender buah-buahan tadi. Dengan segera Laila mematikannya. Smoothiesnya gagal. Semua isi blender tersebut kini telah mencair. Bukan seperti smoothies pada umumnya.


Laila benar-benar merasa lemah dan cengeng. Karena kegagalan kecil ini saja, ia sudah tak tahan dengan air matanya yang memberontak keluar.

__ADS_1


.


.


Gilang termenung selama berada di pesawat. Memikirkan istrinya, entah mengapa ia merasa ada yang benar-benar mengganjal di hatinya saat ini. Ia merasa bersalah karena masih belum bisa mengutarakan keinginannya untuk Laila ikut bersamanya.


Gilang ingin sekali berbicara lama dengan istrinya. Membicarakan apa yang seharusnya ia dan sang istri bicarakan, seperti pasangan suami istri lainnya di luar sana. Namun, sayangnya mereka masih sama-sama menahan ego. Bukan! Hanya Gilang yang masih berpura-pura tak peduli. Sedangkan Laila selalu mencoba bersikap hangat padanya.


Ah, Gilang benar-benar jengkel pada dirinya sendiri. Akibat egonya, ia tak bisa untuk sekedar bertanya pada sang istri bagaimana keseharian wanita itu. Dan, yang terpenting sekarang adalah, menanyakan kejadian beberapa waktu lalu di kafetaria. Gilang sudah mengetahui semua yang terjadi pada istrinya saat ia pergi.


Faizan bercerita bahwa ia mendapat pengaduan dari salah satu karyawan sang istri yang melihat langsung kejadian tersebut. Alhasil, Faizan memeriksa CCTV dan sangat geram melihat bagaimana wanita yang ia kenal itu menampar Laila.


Kini, Gilang telah merencanakan banyak hal untuk sekedar melindungi istrinya meski dari jarak jauh. Gilang telah memasang CCTV di rumahnya. Ia berjaga-jaga, mengingat Neta yang telah mengetahui alamat tempat tinggalnya.


Gilang kini telah sampai di kantornya setelah menempuh beberapa waktu perjalanan. Ia langsung menuju ke ruangannya di lantang paling atas gedung. Baru beberapa saat ia disana, pintu ruangannya diketuk.


"Masuk!" Sahutnya menanggapi ketukan pintunya tersebut.


"Bos,, abis ini meeting sama Damara grup." Kata Romi melapor.


"Damara?" Ucap Gilang berpikir. Lalu, ia mengangguk-anggukan kepala. "Siapa perwakilannya nanti?" Tanyanya.


"Pak Johan, bos. Anak bu Geya Damara." Jawab Romi.


"Oke. Nanti kita bicarainnya disini aja, Rom." Kata Gilang yang diangguki oleh Romi.


"Oh, iya. Tolong bilang sama Fando, suruh tambah anak buahnya 2 orang untuk jagain Laila. Tapi, jangan sampai Laila tau." Titahnya.

__ADS_1


"Baik, bos. Saya telfon Fando dulu." Kata Romi yang kemudian keluar dari ruangan Gilang.


Gilang menelpon seseorang setelah Romi berlalu. Ia memasang wajah serius.


"Halo,, Kamu dimana, Fi?" Ujar Gilang ketika panggilannya terhubung.


"Aku di rumah, kak. Ada yang perlu aku bantu?" Tanya seseorang di seberang.


"Iya, ada. Kamu mau kan nemenin Laila?"


"Iya, kak."


"Oke. Sekarang kamu siap-siap. Pastiin dulu Kak Neta lagi ngapain. Abis itu kamu langsung pergi. Kamu laporin semua hal yang mencurigakan ke kakak, ya!" Pinta Gilang pada gadis di seberang telepon. Ternyata itu adalah adik sepupunya, Ulfi.


"Oke, kak. Siap! Eh, tapi jangan lupa tambahin uang jajan, ya."


Gilang tersenyum. Selalu seperti itu. Namun Gilang senang dan menyayangi adik sepupunya tersebut. Karena, Ulfi terbilang penurut dan tidak suka berbuat jahat pada orang lain. Berbeda dengan Neta. Meski ia orang yang lembut dan baik, namun Ulfi cukup bisa membuat sang kakak yaitu Neta gentar melawan sikapnya.


Oleh sebab itu Gilang dekat dan akrab dengan Ulfi. Ia juga bisa diajak kompromi menurut Gilang. Penurut dan sopan. Itulah ciri khas adik sepupunya itu. Dan Gilang menyukai karakter Ulfi.


Akhirnya ia bisa bernapas lega sekarang. Meski hanya untuk sementara waktu. Setidaknya ia bisa fokus sekarang pada pekerjaannya. Gilang bertekad setelah ia kembali ke Jakarta beberapa hari lagi, ia akan benar-benar merubah sikapnya menjadi lebih baik pada sang istri.


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


.


.


__ADS_2