
Daniel memberikan pelayanan terbaik yang dia bisa untuk Caca dan saat mereka sedang berdebat kecil tentang kehadiran Faizal di acara besok tiba-tiba saja ponsel Caca berdering, sebuah panggilan telepon yang berasal dari orang yang sedang mereka bicarakan
"Nah itu Ical telepon, dari pada kita berdebat gimana kalau kita minta pendapat dia aja?" ucap Daniel dengan santai
"Ga!! anak aku masih terlalu kecil untuk hadir di acara seperti itu"
Dan lagi-lagi ponsel Caca berdering dari orang yang sama
"Angkat dulu, kasian itu Ical mungkin kangen sama mamanya"
Caca hanya melirik malas ke arah Daniel dan menjawab panggilan telepon dari sang buah hati
"Halo sayang," dengan nada suara yang lembut penuh kasih sayang
Daniel hanya bisa terdiam dan melihat Caca dengan lekat
"Seandainya dulu aku ga ragu untuk memilih kamu, pasti saat ini kamu panggil aku selembut itu juga ya Ca" bathin Daniel
"Mama lagi di mana? tante Dira udah pulang dari tadi tapi kok mama ga pulang"
"Aduh maaf ya sayang mama lagi jengukin orang"
"Siapa yang sakit mah?"
Caca melirik sekilas ke arah Daniel yang sedang menatap ke arah dirinya dengan seksama
"Om Daniel sayang"
"Om Daniel sakit ya? kok mama ga ajak aku buat jenguk om Daniel sih mah"
"Aduh maaf ya sayang soalnya tadi mama juga dadakan"
"Kan aku jadi ga enak mah, waktu aku sakit om Daniel selalu datang jenguk aku. Masa giliran om Daniel yang sakit aku ga jengukin om Daniel sih"
"Ya maaf ya sayang"
"Terus keadaan om Daniel sekarang gimana mah?"
Caca melirik lagi ke arah Daniel yang saat itu sedang tersenyum karena merasa bahagia dirinya mendapatkan perhatian dari sang buah hati
"Om Daniel udah baik-baik aja kok"
"Aku mau ngomong sama om Daniel bisa ga mah?"
"Sebentar ya sayang"
__ADS_1
Caca memberikan isyarat bahwa Faizal ingin berbicara, sudah pasti hal tersebut adalah kabar baik bagi seorang Daniel Putra Perkasa. Dan Caca pun menyerahkan ponselnya kepada Daniel
"Halo jagoan"
"Om sakit apa?" tanya Faizal dengan nada suara cemas
"Om ga apa kok jagoan, om cuma sedikit demam"
"Ical minta maaf ya om, Ical ga tau kalau mama mau jengukin om yang lagi sakit. Kalau Ical tau pasti Ical minta mama ajak Ical juga"
"Makasih ya jagoan, tapi om bisa minta bantuan kamu ga?"
Caca sudah membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena dia tau dengan pasti apa yang Daniel rencanakan dari senyuman Daniel saat itu
"Om mau minta bantuan apa sama aku om?"
"Besok temenin om datang ke sebuah acara ya"
Di seberang sana Faizal hanya bisa terdiam karena anak tersebut merasa bingung harus menjawab apa
"Kamu ga mau ya bantu om ya jagoan?"
"Aku bukan ga mau om, tapi kalau aku mau pergi kemana pun aku harus dapat izin dari mama dulu." ucap Faizal dengan polosnya
Caca sudah memasang wajah datar mendengar percakapan Daniel dengan sang buah hati
"Ya udah kalau gitu aku mau om"
"Terima kasih jagoan"
"Sama-sama om"
"Ya udah kamu ga usah khawatir lagi tentang mama kamu ya, sebentar lagi mama kamu pulang kok"
Setelah selesai Daniel mengembalikan ponsel Caca dan saat itu Caca sudah memasang wajah datar
"Kenapa sih?"
"Apa maksud kamu ngomong gitu ke anak aku pak?"
"Ya maaf, aku cuma mau kamu ajak dia ke sana." ucap Daniel sambil tersenyum
"Tapi buat apa?"
"Supaya aku bisa semakin dekat sama anak kamu, jadi aku bisa semakin mudah untuk menaklukkan hati mamanya." ucap Daniel dengan lembut
__ADS_1
"Sepertinya karena kamu habis demam otak kamu jadi mengalami sedikit gangguan pak, sebaiknya kamu cepat-cepat periksa otak kamu pak." ucap Caca dengan nada suara yang sinis
"Kok kamu tau?"
Caca pun mengerutkan keningnya sambil menatap tajam ke arah Daniel
"Sepertinya otak aku memang sedikit bermasalah karena selalu memikirkan kamu," ucap Daniel tanpa rasa malu sambil tersenyum menggoda
Caca hanya bisa terdiam dan memasang wajah malas, sedangkan Daniel langsung bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya
"Ayo aku antar kamu pulang, kasihan anak kamu sudah mulai kangen sama mamanya"
Di sepanjang perjalanan Caca terlihat banyak berdiam diri karena dia sendiri bingung harus berbicara apa, setiap dia membuka suara Daniel akan selalu mengembalikan perkataan Caca dengan sebuah rayuan. Hingga mereka tiba di depan kediaman keluarga Perdana
"Besok kamu pergi jam berapa?"
"Mungkin agak pagi pak"
"Aku besok juga harus bersiap, jadi untuk urusan Ical sama kamu nanti aku minta sekretaris aku yang urus ya."
Caca pun langsung menatap ke arah Daniel dengan tatapan penuh rasa curiga
"Kenapa lagi sih?"
"Kenapa tadi aku denger aku juga di sebut? aku rasa aku ga perlu bersiap-siap untuk acara itu, aku ada di sana sebagai pekerja bukan sebagai salah satu tamu undangan di acara itu"
Daniel tersenyum dengan hangat dan berhasil membuat Caca senam jantung untuk kesekian kalinya pada hari itu
"Karena kamu dan Ical akan hadir di sana sebagai pendamping aku di acara itu"
Caca pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Kenapa semakin lama permintaan kamu semakin aneh-aneh sih? awalnya kamu cuma minta Ical temenin kamu di sana, kenapa sekarang kamu bawa-bawa aku juga?"
"Karena aku mau kamu belajar untuk berdiri di samping aku mulai saat ini, aku mau kamu yakin kalau aku serius sama kamu." ucap Daniel penuh keyakinan
"Sebenarnya apa mau kamu kak? aku ga membatasi saat kamu mau bertemu Ical, tapi kenapa mudah banget kamu bilang itu ke aku kak? sedangkan dulu kamu ga pernah mengenalkan aku sebagai kekasih kamu di hadapan siapapun kak"
"Sebenernya apa yang kamu mau dari aku?" tanya Caca lirih dan mulai berkaca-kaca
Daniel langsung menarik tubuh Caca agar masuk ke dalam pelukannya, dia hanya ingin Caca tau bahwa dia tak bersedia melihat Caca bersedih
"Maaf aku minta maaf, aku ga ada niat bikin kamu sedih. Aku cuma mau kamu yakin kalau aku sedang memperjuangkan hati kamu Ca, aku fikir dengan cara ini kamu bisa yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu Ca. Sekali lagi aku minta maaf ya Ca, seharusnya aku mempertimbangkan perasaan kamu juga." ucap Daniel dengan lembut sambil mengusap punggung Caca dengan lembut
Entah mengapa ada perasaan yang bergemuruh di dalam hati Caca pada saat itu mendengar semua ucapan Daniel, dan akhirnya Caca pun menangis dengan hebat di dalam pelukan hangat Daniel
__ADS_1