Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 47


__ADS_3

.


.


"..... Gilang apa kabar, tante?" Kalista bertanya dengan gayanya yang sepertinya masih memiliki perasaan terhadap Gilang.


"Oh, Gilang. Dia baik, dan bahagia juga sama istrinya." Ucap Bu Anne sengaja.


Kalista menunjukkan ekspresi terkejutnya. "Oh,, Gilang udah nikah ya, tante? Yah,,, padahal aku masih sayang banget sama dia. Aku juga berharap bisa balik lagi sama Gilang." Bu Anne merasa jengah dengan reaksi Kalista yang dibuat-dibuat.


Ia tak membalas lagi. Melainkan hanya merutuki wanita seksi di hadapannya itu. Ia tahu bagaimana sifat Kalista. Dan ia juga tahu jika saat ini Kalista hanya bersandiwara. Mana mungkin gadis itu tidak tahu kalau Gilang sudah menikah. Pasti ia telah mengetahui kabar itu. Merepotkan saja bertemu disaat seperti ini.


"Mm,, maaf ya, Kalista. Tante lagi buru-buru. Duluan, ya!" Pamit Bu Anne kemudian berlalu. Tak nyaman sekali berada lama-lama di dekat wanita berpakaian kurang bahan ini.


Kalista yang melihat kepergian Bu Anne merasa geram. Bisa-bisanya wanita tua itu bersikap dingin padanya. Bukankah dulu Bu Anne sangat baik dan peduli padanya. Bahkan, dulu wanita itu pernah membahas pernikahan antara dirinya dan Gilang. Sekarang mengapa berubah?Huh,, semakin sulit saja baginya untuk mendekati Gilang kembali.


"Ckk,, yang kemaren gagal. Sekarang gue ngapain lagi coba?" Keluhnya sendiri.


Ya,, beberapa hari yang lalu ia sempat ingin melakukan kejahatan pada Laila. Ia berniat untuk mencelakai Laila dengan menabrak gadis itu saat keluar sari taksi sepulamg bekerja. Namun, sayang. Laila ternyata pingsan dan tiba-tiba sudah diangkat oleh supir taksi untuk turun.


Ia cukup kesal. Apa lagi saat melihat Ulfi yang tak lain adalah adik sepupu laki-laki yang ia kejar, juga membantu Laila. Sepertinya mereka akrab, karena Kalista melihat sendiri wajah cemas Ulfi.


.


.


"...... Lo tolong cariin tempat yang bagus ya. Yang romantis. Kalau bisa yang outdoor." Kata Gilang berucap pada seseorang si seberang telepon.


"..............." Gilang berdecak mendengar ocehan sahabatnya yang meledekinya.


"Bisa nggak sih lo serius dikit. Jangan ledekin gue mulu lah, Zan." Eluh Gilang.


"................"

__ADS_1


"Oke. Gue tunggu kabar dari lo ya, Zan." Gilang memelas untuk pertama kalinya. Ya, biasanya ia dikenal sebagai seseorang yang mandiri, tegas dan pintar. Namun, kali ini ia mengaku lemah karena kurang paham mengenai percintaan.


Setelah menutup panggilannya dengan Faizan, lelaki muda itu pun merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Istrinya saat ini tidak berada di kamar. Entah apa yang dilakukan Laila sekarang, tadinya wanita hamil itu mengatakan akan mencuci pakaian. Namun, sudah 2 jam Laila berada di bawah, dan belum kembali ke kamar mereka.


Ponsel pintar Gilang kembali berdering saat ia baru saja memejamkan mata. Salah satu orang kepercayaannya di kantor menelepon.


"Halo. Ada apa, Al?" Tanya Gilang tanpa basa-basi. Jika Alfat menghubunginya itu berarti ada hal penting.


"Mohon maaf, bos. Ada seorang wanita melamar pekerjaan menjadi Sekretaria bapak. Bagaimana, bos?"


"Siapa namanya?" Gilang merasa penasaran. Perusahaannya tidak membuka lowongan pekerjaan untuk saat ini. Dan apa ini? Ada yang melamar sebagai Sekretarisnya. Yang benar saja. Ia masih memiliki Romi dan Alfat sebagai sekretaris dan wakilnya.


"Namanya Kalista, bos."


Boomhh,,, mendengar nama itu Gilang merasa darahnya naik hingga ke ubun-ubun. Berani sekali wanita itu bermain-main dengannya.


"Kamu terima dia, Al. Tapi, sebagai staff biasa. Jangan beri dia jabatan tinggi." Titah Gilang. Sutas senyum smirk muncul di bibirnya. Boleh, kalau memang Kalista mau bermain-main dengannya. Akan ia turuti.


"Oke, bos." Setelahnya panggilan berakhir. Gilang menjadi jengkel sendiri. Namun ia berusaha menurunkan emosinya yang hendak meluap. Tak ada gunanya ia marah sekarang. Karena sepertinya Kalista ada maksud terselubung. Ia yakin sekali jikalau wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu telah merencanakan hal licik.


Laila memasuki kamar membuat pikiran Gilang teralihkan. Ia melihat istrinya itu membawa nampan yang ada piring diatasnya. Gilang melihat jam di dinding. Ternyata sudah jam setengah 2 siang. Sepertinya Gilang sedikit terlambat makan siang.


"Maaf ya,mas. Tadi aku masaknya lama. Sekarang mas makan dulu, ya." Ujar Laila. Ia menyiapkan masakannya itu, menyodorkannya pada Gilang yang Laila yakini merasa lapar.


Gilang hanya tersenyum melihat kesigapan Laila mengurusnya. Ia benar-benar tersentuh dengan perlakuan istrinya yang sangat mencerminkan kebaikan dan ketaatan seorang istri. Padahal Gilang masih ingat kalau tadi pagi ia membuat istrinya itu kesal dan menangis karena terganggu tidurnya.


"Mas. Makan!" Titah Laila lembut membuat lamunan Gilang buyar.


Gilang menerima piring berisi makanan tersebut. Ia tak ingin disuapi lagi, karena sekarang ia sudah memiliki cukup tenaga untuk makan sendiri. Tidak seperti tadi pagi.


Keheningan kini tercipta, menyelimuti kedua insan itu. Entah mengapa kini Gilang merasa suasana begitu canggung. Begitu juga Laila. Ada rasa sedih saat ia mengingat hubungan mereka yang sebenarnya.


Hari ini, ia benar-benar melakukan tugasnya mengurus sang suami yang sakit, setelah selama 1 bulan ini mereka tak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Laila teringat perjanjian mereka. Tentu saja ia tak lupa. Ia selalu ingat hal itu. Tinggal 2 bulan lagi. Sepertinya tak ada yang berubah. Gilang tak mengatakan mencintainya.

__ADS_1


Laila merasakan panas di matanya. Ia pun berlalu keluar dari kamar dan meninggalkan Gilang yang masih lahap makan.


Gilang menatap heran Laila yang tiba-tiba pergi setelah beberapa saat istrinya itu hanya diam. Ia tak merasa curiga akan apapun, memilih untuk kembali melanjutkan suapannya yang terhenti sesaat. Ia memakan makanan itu sampai tandas.


.


.


Satu hari berlalu. Kini pasangan muda itu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Laila tengah memasak makanan untuk mereka sarapan. Seperti biasa ia yang selalu memasak karena tak ada Bi Eti lagi di rumah itu.


Gilang sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Setelah merasa rapi, Gilang kini turun ke lantai dasar rumahnya. Saat di anak tangga ia mencium aroma yang sangat menggoda perutnya. Gilang pun langsung menuju ruang makan.


Benar saja. Beberapa makanan sudah terhidang di meja. Gilang tahu semua itu adalah masakan sang istri. Ia menatap penuh cinta wanita berhijab yang membelakanginya itu.


Gilang teringat sesuatu. Ia teringat dengan rencanannya yang akan mengajak Laila makan malam hari ini. Karena ia akan mengungkapkan perasaannya pada sang istri, maka ia akan berpura-pura kembali dingin dan cuek sampai nanti malam.


"Mas. Mas udah siap?" Ucap Laila yang sudah berbalik dan membawa semangkuk sup.


"Hmm,," Gilang menjawabnya dengan deheman, membuat Laila tertegun.


Ia masih ingat bagaimana sikap suaminya kemaren. Bahkan Gilang sangat manja dan selalu tersenyum padanya. Hal itu sebenarnya membuat Laila mulai terbawa perasaan. Namun, ia segera menepis semua ingatannya dan mencoba bersikap seperti biasa.


Ia mulai mengambilkan makanan untuk Gilang dan menaruhnya di piring.


"Ini cukup, mas?" Tanyanya dan Gilang mengangguk.


Laila hanya pasrah dengan sikap sang suami yang kembali dingin. Apa Gilang hanya memanfaatkan perhatiannya karena lelaki itu kemaren sakit? Sudahlah. Ia tak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Karena memang lelaki di hadapannya kini tak mencintainya.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


.


__ADS_2