Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 25


__ADS_3

Selepas menghabiskan waktunya bersama sang ibu mertua, Laila kini mengistirahatkan tubuhnya. Ia berbaring di kasur dengan tubuh yang sangat letih.


Saat tengah asik dengan rebahannya, pintu kamar terbuka. Gilang memasuki kamar mereka dengan kedua lengan kemeja yang ia naikkan hingga ke sikut.


"Mas. Mas udah pulang?" Sahut Laila yang sudah bangkut dari rebahannya.


Ia mengambil alih jas yang diletakkan oleh Gilang di kasur, lalu memindahkannya ke gantungan di sudut ruangan. Gilang pulang cepat hari ini, baru jam 3 sore. Namun, Laila tak ingin banyak bertanya yang akan membuat suaminya tak nyaman. Mugkin memang tak ada pekerjaan lagi di kantor yang harus suaminya urus.


"Mas mau makan nggak?" Tanya Laila.


"Enggak. Aku mau mandi aja." Jawab Gilang datar. Laila terkejut mendengar perkataan suaminya itu. Gilang menyebut dirinya dengan kata aku.


Jujur saja, Laila merasa sangat senang. Meskipun ia hanya bisa mengulum senyumnya dan memandang punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Setidaknya ada perubahan dari suaminya.


Ting.. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Laila. Ia langsung membukanya. Pesan dari nomor tidak dikenal membuat Laila merasa heran. Apalagi saat melihat sebuah foto yang dikirim oleh orang tersebut. Membuat Laila semakin bingung.


"Ini,," Laila menelan salivanya susah payah. Foto tiket pesawat dengan jurusan penerbangan Jakarta-Yogyakarta. Laila tercengang, apa maksud pesan ini? Yogyakarta, berarti tempat suaminya bekerja saat ini mengurus cabang perusahaan. Tapi, siapa yang mengirimkannya? Dan apa tujuan orang itu mengirim pesan ini kepadanya?


Satu pesan lagi tiba-tiba masuk. Laila terkejut dengan mulut sedikut terbukaa saat membacanya. Hatinya merasa tertohok.


Unknow : Gue akan ke Jogja sama Gilang. Selamat menikmati waktu sendirinya cewek rendahan..


"Astaghfirullaah. Apa ini, yaa Allah?" Ucapnya dengan suara tercekat.


Laila memegang dadanya karena merasa sesak disana. Ia kembali teringat percakapan Gilang dengan Papa Farhan pagi tadi. Laila paham sekarang, inilah alasan Gilang tak ingin mengajaknya pergi. Ternyata suaminya mencintai perempuan lain, dan memang tidak menginginkan dirinya. Bahkan, diam-diam Gilang telah membuat janji dengan perempuan itu di belakangnya.


Ia bingung sekarang, haruskah bertanya langsung pada Gilang untuk sekedar memastikan. Tapi ia ragu apa Gilang akan jujur, atau mungkin bisa saja Gilang mengelak. Mungkin ia harus memendamnya sendiri untuk saat ini. Jika waktunya sudah tepat, maka Laila ingin menanyakannya langsung pada sang suami.


.


.

__ADS_1


"Aku akan ke Jogja lagi besok pagi." Ujar Gilang.


Laila yang tengah menata pakaian di lemari berhenti sejenak dari kegiatannya.. Ia memejamkan mata mencoba untuk tetap tenang. Ia harus menahan diri.


"Apa mas mau bawa pakaian lagi?" Tanyanya.


"Enggak. Nggak usah. Pakaian yang kemaren masih ada. Nanti biar dilaundri aja." Jawab Gilang. Lelaki itu sepertinya sudah mulai bersikap lembut pada istrinya.


"Oke kalau gitu. Aku mau ke dapur dulu. Mau nyiapin makan malam." Kata Laila kemudian berlalu ke dapur.


Gilang terdiam melihat kepergian Laila. Ia menyadari raut wajah istrinya yang murung. Meskipun Laila berusaha tersenyum di hadapannya, namun Gilang dapat melihat guratan sendu di wajah wanitanya itu.


Lagi-lagi ia dibuat menghela napas berat. Dilema rasanya saat ini, karena ia harus pergi lagi tanpa membawa serta istrinya. Gilang merasa was-was dengan Delon yang gencar mendekati Laila.


Pintu kamar kembali terbuka. Laila menatapnya dengan raut wajah yang tak dapat Gilang artikan.


"Mas. Makanannya udah siap. Ayo ke bawah!" Ucapnya yang kemudian berbalik dan pergi.


Dalam hati Gilang merasa tak tenang. Ia merasa terusik oleh sikap sang istri yang semakin banyak diam.


"Mas. Besok aku izin nginap di rumah bunda, ya." Ujar Laila memecah keheningan.


Gilang tak langsung menjawab. Melainkan ia terlihat berpikir.


"Oke. Biar aku yang antar besok. Sekalian berangkat ke bandara." Kata Gilang.


Laila mengangguk setuju. Lalu, ia kembali menyuap makanan ke mulutnya. Hal itu tak luput dari pandangan Gilang. Ia terus memperhatikan wajah sang istri yang kini malah terlihat sedih. Hah, ia jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya mengganggu pikiran istri cantiknya itu.


Setelah selesai, Laila membawa piring kotor ke wastafel dan mencucinya.


.

__ADS_1


.


.


Bugh.... Suara pintu mobil yang ditutup memenuhi garasi. Johan berjalan mengitari mobilnya dan masuk ke dalam rumah melewati pintu penghubung dapur dengan garasi.


Ia langsung menuju ke kamarnya. Menenteng jas dan tas kerjanya. Sesampai di kamar, Johan melepas sepatu lalu berhampur ke tempat tidur. Lelah sekali dirinya.


Saat memejamkan mata sejenak, Johan tiba-tiba tersentak. Ia membuka matanya kembali lalu bergegas mengambil ponsel di saku jas. Entah mengapa ia terpikir untuk mencari akun sosial media gadis yang selama ini ia suka.


Rasa penasaran akan gadis pujaan hatinya itu kembali merasuki hati dan pikirannya. Ya, ia penasaran bagaimana kehidupan gadis itu sekarang. Apakah masih ada harapan untuknya bisa bersanding dengan gadis itu.


Tak dapat ia temukan dengan mudah. Begitu banyak orang di dunia ini yang bernama Laila. Apalagi dengan daerah tempat tinggal yang berbeda, tentu saja akan semakin sulit baginya untuk menemukan akun tersebut.


Johan menarik napas dalam, membuangnya beserta penat dan lelah yang kini ia rasakan. Pekerjaan yang sangat banyak, ditambah lagi masalah perjodohan yang Mamanya rencanakan. Semakin membuat dirinya dirundung kerisihan saja.


Ya, setelah perdebatannya di kantor dengan sang mama beberapa hari yang lalu, Johan memilih pasrah untuk sementara terhadap keputusan mamanya. Ia mencoba untuk menerima sembari mencari cara agar ia terbebas dari perjodohan itu. Langkah awalanya adalah memastikan kabar dan keadaan gadis yang selama ini ia cari. Jika ada peluang untuk bisa bersama sang gadis, tentu Johan akan terbebas dari jeratan perjodohan sang ibu.


"Ckkk,,, gimana lagi, ya? Akun instagramnya gue nggak tau. Gimana caranya gue bisa ketemu dia?" Johan meremas rambutnya.


"Gue harus cari Laila kemana lagi coba? Argghh... Pusing tau nggak.. Laila,, Laila. Gimana pun caranya, gue harus bisa ketemu Lai. Gue nggak mau terima perjodohan itu.


Johan semakin kalut. Apalagi saat memori di masa lalu terlintas di benaknya. Banyak hal yang tak bisa ia lupakan tentang gadis itu. Kini perasaannya sudah terlalu dalam dan sulit untuk ia ubah.


Laila wanita yang baik. Karena, itu ia dulu menaruh hati pada sang gadis dan tak bisa dengan mudah melupakannya. Ia tahu jika sejak dulu Laila tak pernag menjalin kedekatan dengan lelaki manapun. Itulah yang membuat Johan jatuh hati. Gadis itu spesial baginya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


.


.


__ADS_2