Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 65


__ADS_3

Malam ini Laila sedang bersantai di ruang keluarga yang ada di lantai 2. Dengan TV yang menyala dan setoples keripik kentang di tangannya, ia bisa tenang menikmati waktunya, membiarkan Gilang sibuk dengan pekerjaan di sampingnya.


Sebenarnya ia keberatan karena Gilang terlihat fokus dan membiarkan dirinya. Namun, ia mencoba mengerti karena itu semua adalah tanggung jawab suaminya.


Gilang terlihat merapikan semua kertas dan perlengkapan yang berserakan di meja. Ia lalu meminum kopi yang sudah mulai dingin yang dibuatkan Laila tadi.


"Kamu mau ikut ke Jogja?" Tanya Gilang tiba-tiba


Laila menghentikan aktivitasnya mengunyah. Ia lalu menoleh menatap Gilang yang menunggu jawaban darinya.


"Ke Jogja? Mas serius ngajak aku?" Tanya Laila masih tak percaya.


Gilang mengangguk pasti. Hal itu membuat Laila merasa senang dan segera mengangguk antusias. Entah mengapa ada rasa yang membuncah di hatinya.


"Oke, besok sore kita berangkat. Besok pagi kamu bisa siapin keperluan yang mau kamu bawa." Kata Gilang.


Laila tak hentinya tersenyum setelah ajakan Gilang tersebut. Ia merasa bahagia. Berarti Gilang benar-benar telah menerimanya. Ya, meski untuk sekarang ia masih belum tahu bagaimana pernikahannya ke depan, karena Gilang memang belum memberi penjelasan apapun selain meminta maaf dan berjanji akan menyayanginya dan anak mereka nanti.


Setidaknya untuk saat ini ia bisa lebih tenang karena sikap Gilang sudah berubah, meski terkadang masih sering dingin.


"Mas." Ujar Laila.


"Hmm?" Gilang menatapnya.


"Kalista,,, gimana? Apa dia juga ada disana?" Tanyanya ragu.


Gilang mengernyitkan dahinya, ia mengerti maksud istrinya bertanya seperti itu.


"Nggak ada siapapun yang akan ganggu kita nanti disana. Kamu tenang aja. Aku nggak ada hubungan apapun lagi sama dia." Jelas Gilang menatap Laila untuk meyakinkannya.


Laila tak menjawab. Ia melihat tak ada kebohongan di mata suaminya. Mungkin untuk saat ini ia harus yakin bahwa suaminya memang tak memiliki hubungan apapun lagi dengan wanita itu.


"Tidur yuk! Udah hampir larut. Nggak baik loh kamu begadang" Kata Gilang.


Mereka lalu beralih memasuki kamar. Gilang memang sengaja mengajak Laila untuk tidur lebih awal. Mengingat istrinya itu mungkin saja akan kembali terbangun tengah malam karena lapar, seperti beberapa hari ini.


.


.


Paginya, setelah Gilang berangkat ke kantor, Laila kini menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Hanya keperluannya saja, Gilang tidak. Karena, beberapa keperluan dan Pakaian Gilang sudah ada di sana.

__ADS_1


Laila hanya memasukkan beberapa helai saja pakaian. Karena Mereka hanya menetap 2 hari disana sebab beberapa hari lagi adalah Pernikahan Netha. Tentu mereka harus menghadiri acara tersebut.


Suara bel membuat Laila mengehentikan aktivitasnya. Ia bergegas untuk membukakan pintu, siapa tahu tamu penting.


"Assalamu'alaikum, kak." Sapa Ulfi yang berdiri dengan senyum merekah di ambang pintu.


"Wa'alaikumusaalam. Ulfi, kakak kangen." Laila langsung berhambur ke pelukan adik iparnya itu.


"Maaf ya, kak. Aku baru datang sekarang. Kemaren aku ada acara Camping. Aku juga baru tau kalau Kakak sempat dibawa ke rumah sakit." Katanya dengan wajah sedih.


"Nggak apa-apa. Ayo masuk. Ngobrolnya di dalam aja." Laila menggiring Ulfi ke ruang tengah.


"By the way, kayaknya Kakak rapi banget deh hari ini." Ulfi terlihat heran karena penampilan Laila yang berbeda.


Laila tersenyum. "Kakak sama Abang kamu mau ke Jogja." Ujar Laila.


Ulfi berubah antusias mendengar pernyataan Laila. Ia ikut senang mendengar kabar perubahan sikap Gilang sekarang. Ia bersyukur karena Allah telah membukakan hati Kakak sepupunya itu sebelum terlambat.


Ia tersenyum karena semakin senang saat mengingat kehamilan Laila. Saat ia hendak menyentuh perut Laila, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Kakak lihat dulu, ya " Kata Laila.


"Eh, biar aku aja, kak." Ulfi segera mencegahnya, entah mengapa ia merasa harus dirinya yang melihat kedepan.


Benar saja. Ada sebuah kotak berwarna hitam. Tanpa pikir lagi, Ulfi mengambilnya dan langsung membuka kotak tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat menemukan benda aneh di dalamnya dan sebuah kertas bertuliskan ancaman.


Sebuah popok bayi dipenuhi cairan berwarna merah seperti darah, dan kertas bertuliskan ancaman akan kehilangan janinnya dan Gilang. Ulfi sangat yakin jika ancaman ini pasti ditujukan untuk Laila. Tapi, siapa yang mengirimnya.


Dengan wajah memerah menahan cemas dan kesal, Ulfi kembali memastikan sekeliling halaman. Mungkin saja masih si pelaku yang bersembunyi.


Ulfi memilih memasuki rumah, namun bertepatan dengan itu sebuah mobil nampak berhenti. Ulfi pun lupa sesaat dengan apa yang ia pegang. Ia hanya memperhatikan mobil itu memasuki gerbang dan berhenti di teras. Hanif keluar sembari tersenyum menyapa Ulfi.


"Ini apa?" Tanya Hanif heran.


Ulfi tersadar dan berniat menyembunyikanya namun ditahan oleh Hanif.


"Coba lihat!" Ujar Hanif merebut kotak tersebut.


Ulfi merasa cemas saat melihat wajah dingin Hanif.


"Jangan kasih tau Laila masalah ini!" Ucapnya dengan tegas membuat Ulfi semakin menciut. Ia hanya bisa menggeleng kaku hingga Hanif berlalu begitu saja darj hadapannya. Lelaki itu mengendarai mobilnya keluar. Entah kemana ia tak tahu dan tak mau tahu.

__ADS_1


Ulfi memasuki rumah dan mengatur napasnya sebelum ia kembali menghampiri Laila.


"Siapa, Fi?" Tanya Laila yang kini tengah mengaduk sereal dan susu.


"Itu kak, orang nanya alamat." Jawab Ulfi berusaha setenang mungkin.


.


.


Hanif yang tengah fokus menyetir tak sengaja melihat Gilang di mobil yang berlawanan arah dengan. Ia pun seketika berteriak memanggil Gilang.


Dikarenakan jalanan komplek yang sepi, Gilang yang mendengar langsung saja menepikan mobilnya. Ia melihat di spion, Hanif berjalan mendekat ke arah mobilnya. Ia pun juga turun.


"Gilang!"


"Hanif! Ada apa?" Tanya Gilang heran.


"Gue abis dari rumah lo, dan tadi gue liat adik lo lagi megang ini." Jelasnya menyodorkan kotak hitam.


"Ini apa?" Tanya Gilang lagi yang semakin bingung, dan perlahan membukanya. Hanif tak menjawab, melainkan hanya menghembuskan napas berat.


Gilang yang sudah melihat isi kotak tersebut merasa kesal. "Kurang ajar. Siapa kira-kira yang udah ngirim teror ini, ya?" Gumamnya.


"Terus sekarang Laila gimana?" Gilang panik saat teringat akan istrinya.


"Laila belum tau. Dan sebaiknya nggak usah lo kasih tau. Bahaya buat kandungannya." Jelas Hanif. "Lo tenang aja. Gue bantuin cari tau siapa pelakunya. Mendingan lo fokus sama adek gue."


"Oke. Makasih ya. Kalau gitu gue pulang dulu." Pamitnya yang terlihat cemas.


Hanif kembali ke mobil. Ia terhening saat akan kembali menyetir.


"Siapapun itu,, gue pastiin nggak akan bisa tenang. Karena lo udah berani mencoba buat merusak rumah tangga adik gue." Ucapnya menggenggam erat setir mobil.


.


.


Bersambung......


.

__ADS_1


.


__ADS_2