
Waktu terus berlalu tanpa terasa sudah satu minggu terlewati semenjak kepergian Caca dari kota itu, tak ada satu pun orang yang berhasil menemukan jejak Caca. Terlebih lagi Caca benar-benar memutuskan seluruh akses komunikasi dirinya kepada semua orang
Rizal dan Daniel masih terus berusaha untuk mencari jejak Caca, sedangkan Sindy yang sudah membuat keributan di perusahaan memutuskan untuk mengundurkan diri dari sana. Dan dia pun menerima tawaran dari Rizal untuk bergabung di perusahaan yang kini dia pimpin
Sedangkan di tempat yang berbeda keadaan Leo dan Siska kini benar-benar sudah berubah drastis, dalam sekejap mata perusahaan Leo menjadi hilang tak berbekas dan karier Siska menjadi hancur berantakan. Sudah pasti itu semua karena perintah dari seorang Daniel, tetapi itu semua tetap tak bisa membuat hati Daniel menjadi tenang dan bahagia
Di antara semua kemelut yang sedang terjadi ada Abian dan Adel yang sudah mulai berani untuk menunjukkan perasaan mereka masing-masing, dan hubungan mereka berdua berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Adel benar-benar merasa bahagia karena akhirnya dia bisa menaklukkan seorang Abian, walaupun dia masih tetap memikirkan keadaan Caca di luar sana
FLASH BACK
Selepas kepergian Sindy dari ruangan Daniel saat itu seharian penuh Abian di berikan tugas berat kepada Daniel, selain dia harus mencari tau tentang siapa pelaku sebenarnya dari kecelakaan Gio dia juga di minta mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan Caca
Hari seharian penuh Daniel di liputi perasaan gelisah, ada perasaan takut menyelimuti hatinya. dia benar-benar takut bila dia tak akan dapat lagi bertemu dengan Caca, bahkan dia kini sudah tak perduli siapa pelaku sebenarnya dari kecelakaan tersebut
Setelah melakukan mendesak dengan cukup ekstrem akhirnya sebuah kebenaran pun terungkap, bahwa bukan Caca yang mengendarai mobil tersebut pada malam naas tersebut. Hati Daniel pun menjadi semakin tak menentu, dia bahkan memerintahkan semakin banyak orang untuk mencari keberadaan Caca saat itu
Saat menjelang pulang kantor Abian tetap tak bisa meninggalkan gedung tersebut karena sang bos besar tetap berada di sana, dan akhirnya ponsel Abian pun berdering dan panggilan telepon berasal dari Adel. Abian pun segera berpamitan keluar dari ruangan Daniel
"Halo.."
"Kamu di mana kak?"
"Aku masih di kantor"
"Kamu yang jemput aku atau aku yang jemput kamu?"
Abian pun terdiam sejenak karena dia sendiri bingung harus memberikan penjelasan seperti apa kepada Adel saat itu
"Kak?"
"Maaf Del, kayaknya kita harus undur dulu janji kita buat ketemu." dengan hati-hati
"Apa kamu berencana untuk menghindar lagi kak?"
"Bukan gitu Del, tapi saat ini aku benar-benar ga bisa meninggalkan pak Daniel sendirian"
"Apa kamu yakin itu alasannya?"
__ADS_1
"Iya," penuh keyakinan
"Oke, aku tunggu kamu temui aku jam berapa pun itu"
"Tapi aku sendiri ga tau jam berapa aku baru bisa meninggalkan kantor Del"
"Aku cuma mau saat kamu pulang kantor kamu harus langsung temui aku seperti ucapan kamu kemarin kak," dengan tegas
"Oke"
Detik demi detik terus berlalu tanpa terasa tengah malam pun tiba, sedangkan Daniel seperti tak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan kantor sebelum dia mendengar kabar tentang Caca. Abian pun akhirnya mulai memberanikan diri untuk bicara
"Apa ga sebaiknya kita pulang dan istirahat pak?"
"Kalau kamu memang mau pulang, silakan..."
Abian pun membuang nafasnya dengan kasar
"Di luar sana semua orang sudah kita kerahkan untuk mencari dia, sebaiknya kita juga pulang dan menunggu kabar dari mereka. Kita berdiam diri di sini juga ga akan bisa merubah apapun," menatap dengan serius
Setelah perdebatan kecil akhirnya Daniel memutuskan untuk mengikuti anjuran Abian, dan Abian pun bisa bernafas sedikit lega karena dia bisa meninggalkan gedung tersebut. Saat sudah berada di dalam mobilnya dia pun segera menghubungi Adel
"Kamu belum tidur?"
"Aku kan udah bilang aku akan tunggu kamu kak"
"Rasanya saat ini kepala aku mau meledak Del, hari ini benar-benar melelahkan"
Adel hanya bisa terdiam mendengar semua keluh kesah Abian karena dia sudah tau apa yang terjadi di gedung tersebut dari Rizal
"Kamu mau aku jemput di mana?"
"Tapi apa ga sebaiknya kamu pulang dan istirahat aja kak?"
"Ga, aku harus ketemu kamu sekarang juga"
"Ya udah kamu ke apartemen aku aja kak"
__ADS_1
"Oke, kirim alamat nya ya"
Abian pun segera menuju ke arah alamat yang di berikan, pada saat itu seluruh badan dan otaknya sudah merasa lelah. Tetapi dia sudah bertekad untuk tak membuat Adel merasa kecewa lagi terhadap dirinya, sesampainya di sana Abian pun kembali menghubungi Adel
"Aku udah di parkiran, kamu turun ya"
"Kamu aja yang naik ke sini kak"
"Tapi Del ini udah malam, lagi juga aku laki-laki kayaknya ga pantas kalau aku ke situ"
"Ya udah kamu pilih naik ke sini atau sebaiknya kamu pulang aja," dengan tegas
Abian pun akhirnya memilih untuk mengalah dan mulai turun dari dalam mobilnya, saat dia tiba di apartemen Adel wajahnya sudah terlihat sangat lelah. Dan Adel pun langsung membawa dia ke ruang tamu
Adel mengatakan dia akan menyiapkan sesuatu untuk Abian dan dia pun sengaja berlama-lama di dapur, saat Abian sudah mulai posisi terduduk pun dia mulai keluar dari dapur dan membawa secangkir teh hangat lalu meletakkan teh tersebut di atas meja
"Gimana aku bisa tega ajak kamu ketemuan lagi di luar kak? aku tau banget pasti saat ini kamu adalah orang yang paling lelah. Maaf karena aku harus berbohong sama kamu supaya kamu bisa langsung istirahat"
Abian tertidur dengan pulas tanpa sadar bahwa saat itu dia tak berada di apartemennya sendiri, hingga pagi menyapa dia pun mulai terbangun karena suara Adel yang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan
"Astaga aku kok bisa sampai ketiduran sih? berarti semalam kami ga membahas apapun, gimana kalau Adel jadi marah?"
Abian segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Adel di dapur dengan wajah tegang, sedangkan Adel langsung melepaskan senyuman yang hangat saat melihat kehadiran Abian di sana
"Kamu udah bangun kak?"
"Itu.. Maaf.. Itu aku..."
Adel pun kembali tersenyum dengan hangat
"Kamu tunggu di depan dulu ya, sebentar lagi sarapan udah siap"
"Kamu ga marah?"
"Dengan kamu tetap datang ke sini aja udah jadi sebuah pembuktian buat aku kak, jadi ga ada satu alasan aku buat marah sama kamu"
Dan semenjak itu hubungan antara Adel dan Abian pun menjadi semakin dekat, Abian tak akan lagi mempermasalahkan tentang status sosial mereka yang berbeda jauh. Bagi Abian saat itu dia akan memperjuangkan Adel sebisa mungkin, karena dia tak ingin merasa menyesal seperti yang Daniel rasakan
__ADS_1
FLASH OFF