
Daniel membawa Caca untuk duduk di ruang tamu, Caca melihat ke sekeliling tempat itu dan tak ada satu pun yang berubah dari ingatan terakhir dia di tempat itu. Mata Caca mulai fokus kepada sebuah bungkusan yang berisikan obat-obatan dan masih terlihat rapi yang berarti Daniel belum meminum obat tersebut
"Apa bapak belum minum obatnya?"
"Ya nanti aku minum, oh ya kamu mau minum apa?"
Caca pun mengabaikan pertanyaan Daniel san langsung bangkit dari duduknya
"Kamu mau ke mana Ca?" ucap Daniel dengan nada suara yang terdengar panik
"Saya mau siapin bubur buat bapak"
Caca melangkahkan kakinya ke arah dapur dan menyiapkan semua keperluan untuk makan Daniel, dia juga menyiapkan segelas air putih hangat
"Di makan dulu pak"
Dengan patuh Daniel menyantap bubur yang sudah Caca siapkan, saat Daniel sudah selesai makan Caca langsung menyiapkan obat untuk Daniel dan memberikan obat tersebut
"Makasih ya"
Caca hanya membalas dengan senyuman tipis dan mulai merapikan bekas makan Daniel, setelah selesai Caca pun kembali ke ruang tamu dan hendak berpamitan
"Sebaiknya saya pergi dulu supaya bapak istirahat"
"Apa boleh aku minta kamu tetap di sini Ca?" Daniel menatap ke sendu ke arah Caca
"Gimana aku bisa menolak permintaan dia kalau dia liatin aku kayak gitu?"
Caca pun kembali mendudukkan tubuhnya di sofa
"Ya udah aku tetap di sini sampai bapak tertidur"
Daniel pun tersenyum bahagia dan menepuk bagian kosong di sebelahnya tanda dia meminta Caca untuk duduk di sebelahnya, tanpa sadar Caca mengikuti permintaan Daniel. Tiba-tiba saja Daniel menjadikan kaki Caca sebagai bantalan untuk dia tidur
"Pak.."
"Apa kamu mau dengar sebuah cerita Ca?"
Caca hanya terdiam
__ADS_1
"Apa kamu tau Ca? beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami kecelakaan, dan anehnya saat aku bangun aku sama sekali ga ingat alasan aku ada di tempat itu. Dan tempat itu benar-benar jauh dari sini Ca.." ucap Daniel dengan suara yang terdengar lirih
Caca yang awalnya hendak protes karena Daniel menjadikan kakinya sebagai bantal menjadi terdiam mendengar ucapan Daniel
"Semuanya aku ingat tapi apa yang aku lakukan di sana aku benar-benar ga bisa ingat, tapi yang lebih aneh setiap aku ada di sini aku merasa ada sesuatu yang sangat penting yang aku lupakan Ca, sampai hati aku terasa benar-benar sakit Ca"
Caca hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata apapun, hatinya ikut bisa merasakan perasaan Daniel saat itu
"Itu alasannya semenjak kecelakaan itu aku ga pernah merubah apapun yang ada di apartemen ini Ca, aku cuma berharap bisa mengingat apa yang aku lupain itu. Dan kamu tau hal yang paling aneh antara semua cerita aku tadi Ca?"
Caca tetap memilih untuk terdiam
"Saat aku pertama melihat kamu, hati aku terasa sakit Ca sama seperti saat aku ada di sini. Aku ga ingat atau mengenal kamu, tapi hati aku menolak untuk jauh dari kamu Ca." dengan lirih
"Maaf pak tapi aku..."
Daniel menoleh kan kepalanya ke arah Caca sehingga kedua bola mata bertemu dan Caca pun menghentikan ucapan yang akan dia keluarkan
"Apa aku jadi orang yang egois kalau aku mau selalu ada di dekat kamu Ca? apa aku orang yang jahat kalau aku mau kamu jadi milik aku selamanya?"
Caca pun perlahan memindahkan kepala Daniel dan langsung berdiri
Baru saja Caca akan mengambil tas miliknya tiba-tiba saja Daniel sudah memeluk tubuh Caca dari belakang dengan sangat erat
"Tolong jangan pergi tinggalin aku Ca, aku bisa memberikan kamu apapun yang kamu mau. Aku juga pasti melakukan apapun yang kamu perintahkan, tapi tolong jangan tinggalin aku Ca. Cuma ada di dekat kamu hati aku bisa merasa tenang"
Caca mengingat kembali tentang perempuan yang ada di antara mereka saat pertemuan mereka pertama kali, entah mengapa hati Caca merasa sedikit cemburu mengingat itu semua
"Tolong jangan seperti ini pak, bapak harus ingat kalau saat ini bapak sudah memiliki pasangan. Dan aku ga mau di cap sebagai seorang perempuan perusak hubungan orang lain," ucap Caca dengan tegas
Daniel memutar tubuh Caca dan memaksa Caca untuk menatap matanya dengan cara memegang kedua pipi Caca
"Kamu dengerin aku baik-baik, ga ada satu pun perempuan di samping aku saat ini. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku inginkan," ucap Daniel penuh keyakinan
Caca hanya terdiam dan menatap Daniel dengan tajam
"Aku serius Ca"
Caca pun terlihat mencebik bibirnya
__ADS_1
"Terus apa bapak juga lupa dengan pertemuan kita yang waktu itu? apa bapak mau bilang kalau bapak ga kenal sama perempuan itu?"
Daniel pun tersenyum tipis hatinya benar-benar merasa bahagia karena dia bisa melihat bahwa Caca sedikit cemburu dengan hubungan antara dirinya dan Vivian
"Saya ga terlalu kenal sama perempuan itu Ca, hati itu pertemuan pertama kami kok." ucap Daniel dengan serius
Caca hanya terdiam dan memasang wajah malas, Daniel memaksa tatapan mata mereka saling beradu agar Caca dapat melihat dari matanya bahwa saat itu dia sedang tidak berbohong
"Aku berani bersumpah demi apapun kalau itu adalah pertemuan pertama kami, semuanya di atur kedua keluarga kami Ca"
Entah mengapa Daniel bisa merasakan kekecewaan dari tatapan mata Caca saat itu
"Aku udah putusin hubungan itu Ca, sumpah aku ga ada niat sedikit pun untuk melanjutkan hubungan itu lagi Ca"
Caca pun mulai menundukkan pandangan matanya
"Itu ga ada hubungannya dengan aku"
"Kata siapa? itu semua karena kamu Ca." ucap Daniel dengan lembut
Caca pun mulai kembali menatap ke arah Daniel
"Karena dari pertama aku ketemu kamu waktu itu, aku yakin hati aku ga bisa berpaling lagi dari kamu Ca." penuh keyakinan
"Tapi aku rasa aku bukan perempuan yang pantas untuk kamu pak"
"Apa alasannya?"
"Karena status sosial kita berbeda jauh pak, lagi pula aku cuma seorang janda yang mempunyai seorang anak. Dengan alasan itu sudah cukup membuat jarak yang jauh di antara kita pak"
Daniel memberikan senyuman yang penuh arti
"Apa kamu bisa kasih aku sebuah alasan yang lebih masuk akal?"
Caca hanya bisa memasang wajah bingung dan Daniel langsung menarik tubuh Caca agar jatuh ke dalam pelukannya
"Dengerin aku baik-baik Ca, aku bahkan rela melakukan apapun yang kamu mau dan berubah menjadi apapun yang kamu inginkan. Jadi kalau cuma itu yang kamu jadikan untuk alasan, maaf aku ga bisa terima itu semua dan aku akan tetap mengejar kamu." ucap Daniel dengan lembut tetapi terdengar penuh keyakinan
Caca hanya bisa terdiam merasakan kehangatan pelukan seorang Daniel Putra Perkasa
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa jadikan itu sebagai alasan Ca? sedangkan dia itu anak kandung aku, jadi ga ada yang lebih pantas dari kamu menjadi pendamping hidup aku Ca"