
Malam semakin larut, kini jam di dinding menunjukkan pukul setengah 12 malam. Laila terbangun dan mendapati ruangan yang kembali sepi. Ia menyadari bahwa kini ia masih berada di ruang perawatannya.
Dilihatnya ke arah sofa ruangan VIP itu, ada kedua mertunya yang tengah tertidur dengan posisi duduk. Ia cukup tersentuh melihat pemandangan tersebut. Ternyata kedua mertuanya sangat peduli padanya.
Namun, ia merasa sedih karena tak sosok sang suami yang dirindukannya. Dimana suaminya? Bahkan hingga kini Gilang tak kunjung menunjukkan dirinya setelah apa yang terjadi tadi. Huh,, kenapa matanya kembali memanas?.
Laila bergerak merubah posisinya hendak membelakangi kedua mertuanya. Ia tak ingin kedua paruh baya itu menyadari jika ia sedang terluka sekarang. Namun, sayangnya Bu Anne terbangun karena mendengar ranjang yang berbunyi.
"Sayang,, kamu bangun?" Seru Bu Anne sebelum Laila benar-benar membelakanginya.
Dengan segera Laila menghapus air matanya.
"Kamu butuh sesuatu, nak?" Tanya ibu mertunya kembali membuat air mata Laila mengalir. Seandainya yang memberi perhatian seperti ini adalah suaminya.
"Enggak, mah."
"Kamu nggak apa-apa kan, nak? Apa ada yang sakit?" Bu Anne terlihat cemas.
"Nggak ada, mah. Ila cuma kebangun aja." Jawabnya. "Boleh Ila minta tolong ambilin minum itu, mah?" Tanya Laila. Ia merasa haus dan letak gelas berisi air cukup jauh darinya.
"Ini, sayang." Kata Bu Anne sembari memberikan gelas tersebut.
Laila duduk dan menerima gelas tersebut. Lalu meneguk air putih di dalamnya hingga tersisa setengah. Setelahnya Bu Anne membantu meletakkan gelas itu lagi.
Bu Anne duduk di samping brankar Laila. Ia menggenggam tangan sang menantu dengan tatapan dalam ke arah Laila. Yang ditatap hanya membalas dengan senyum sendu.
"Mama tau apa yang kamu pikirkan, nak! Kamu mencari suami kamu, kan? Kasihan sekali kamu, sayang!!"
"Mama tidur lagi aja, mah. Ila juga mau tidur." Seru Laila.
"Mama mau temenin kamu dulu, sayang. Kamu tidur aja. Biar mama jagain kamu disini." Kata Bu Anne lembut.
__ADS_1
Laila menuruti apa yang dikatakan ibu mertuanya. Ia kembali memejamkan matanya meski sulit. Jika saja ia tak ingat akan keberadaan calon anak di dalam rahimnya, Laila bisa saja menahan untuk tidak tidur karena matanya yang begitu sulit untuk dipejamkan kembali.
Setelaj beberapa menit akhirnya Bu Anne merasa lega karena kini menantunya itu sepertinya sudah terlelap. Ia melihat tak ada lagi gerakan daei Laila dan napasnya juga sudah teratur.
Ia pun bangkit dengan pelan darii kursi. Lalu berjalan dengan mengendap-endap menuju pintu keluar. Dibukanya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Satu hembusan napas lega akhirnya bisa Bu Anne keluarkan saat melihat keberadaan putra di kuris tunggu.
Ya, Gilang kembali ke rumah sakit setelah urusannya selesai. Dan kini ia tertidur di atas kursi tunggu, tanpa bantal dan selimut.
Bu Anne mendekati sang anak. Ia merasa iba melihat Gilang karena anaknya itu tak pernah merasakan tidur di atas kursi yang keras seperti itu. Bahkan tanpa beralaskan bantal dan tak tertutup selimut.
"Mama berharap setelah badai ini, semua kembali membaik. Kalian segeralah bahagia dengan keluarga kecil kalian. Mama rasa sudah cukup kalian merasakan penderitaan ini. Semoga Allah menunjukkan jalan untuk rumah tangga kalian, nak."
Setetes air mata jatuh di pipi mulus Bu Anne setelah mengucapkan harapannya itu. Ia sungguh prihatin dengan keadaan rumah tangga anak dan menantunya. Ia berharap mereka dapat melewati ujian pernikahan mereka dengan penuh kesabaran
.
.
Dengan perlahan berjalan ke arah pintu ruang sang istri. Ia melihat dari kaca kecil yang mana ia tak melihat istrinya berada di brankar. Gilang panik dan langsung membuka pintu dengan paksa. Begitu pintu terbuka ia mendengar suara air keran di kamar mandi. Ia bernapas lega.
Saat hendak kembali keluar, sayup-sayup Gilang mendengar suara aneh dari kamar mandi. Ia menajamkan pendengarannya. Seperti suara orang yang sedang mun*ah. Gilang pun dengan langkah cepat langsung menuju kamar mandi dan mendorong pintu hingga terbuka.
Ternyata benar, Laila lah yang mun*ah. Istrinya iu tengah menunduk di depan wastafel.
"Laa,," Ucapmya lirih. Dengan sigap ia menggantikan tangan sang istri menahan hijabnya agar tidak terkena mun*ahan, seraya memijat tengkuk Laila.
Beberapa saat kemudian, Laila terlihat telah selesai. Wanita hamil itu mengangkat kepalanya kembali dengan sisa tenaganya. Gilang yang melihat hal itu mengambil tisu dan mengelap wajah Laila. Wanita itu hanya diam karena tak ada tenaga lebih untuk sekedar menolak.
"Gimana sekarang? Udah enakan?" Tanya Gilang yang dibalas anggukan oleh sang istri.
Gilang menatap iba sang istri yang kini terlihat pucat. Ia menarik pelan tubuh lemah Laila ke dalam pelukannya. Dengan penuh rasa sayang, Gilang mengusap belakang kepala istrinya itu.
__ADS_1
"Aku gendong ke dalam, ya!" Bukan pertanyaan, melainkan itu diucapkan Gilang dengan nada datar.
Tanpa menunggu respon dari sang istri, Gilang langsung menggendong Laila dan membawanya kembali ke brankar. Setelah meletakkan istrinya disana, ia pun menyelimuti Laila. Ia menatap sebentar istrinya yang memejamkan mata, sepertinya Laila masih merasa pusing. Ia pun memilih untuk kembali ke luar.
Namun langkah Gilang terhenti kala mendengar suara lemah istrinya itu.
"Mas,,," Entah mengapa suara itu terasa menyayat hati. Gilang benar-benar merasa iba mendengarnya.
"Ada apa? Apa ada yang sakit? Atau kamu masih mual?" Tanya Gilang bertubi saat ia kembali menghampiri Laila. Nada suaranya sudah berubah. Lebih lembut.
Laila menggeleng. "Jangan pergi! Disini aja!" Ucap Laila lirih.
Laila ingin sekali Gilang berada di sisinya. Entah mengapa, ia merasa bahwa rasa mualnya akan hilang saat Gilang ada di dekatnya. Mungkin anaknya ingin kedua orang tuanya tidak berpisah dan selalu bersama.
Gilang terlihat ragu. Saat melihat wajah Laila yang menatapnya, ia kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia sungguh merasa bodoh karena tak percaya pada istrinya sendiri. Dan juga kian banyak kesalahan-kesalahan yang ia perbuat pada istrinya bermunculun di pikirannya.
Sentuhan Laila di di jarinya menyadarkan Gilang dari lamunannya.
"Maafin aku!" Ucapnya dengan suara yang lembut. "Maafin aku, La."
"Aku adalah suami yang buruk. Mungkin dulu aku pernah bilang kalau Faizan adalah suami yang bodoh karena pernah menyakiti menyia-nyiakan Naya." Ucap Gilang menatap lekat istrinya.
"Tapi, sekarang semua itu juga terjadi padaku. Bahkan mungkin lebih parah. Aku jauh lebih bodoh karena sudah menyakiti kamu. Aku udah bersikap sangat buruk ke kamu La, bahkan aku hampir kehilangan kamu,, dan mungkin,,, aku bisa kehilangan calon anak kita kalau aku nggak cepat menyadari semuanya." Curah Gilang panjang.
Air bening itu kini mengalir deras di pipinya. Penyesalan itu kini hinggap di hatinya. Ia bersyukur karena karena Tuhan cepat menyadarkannya, membuka pikiran dan hatinya untuk melihat semua kebenaran. Jika tidak, mungkin ia menyesal lebih dari ini.
"Maafin aku, La. Mungkin maafku ini nggak akan cukup untuk menggantikan semua kesalahan aku. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku janji nggak akan menyakiti kamu lagi. Aku janji akan membahagiakan kamu, La."
Gilang benar-benar menumpahkan rasa penyesalannya dengan berderai air mata. Laila yang memang sedang dalam keadaan mudah terbawa suasana, kini ikut menangis. Ia senang jika Gilang mau berubah. Itu berarti suaminya tak akan mengakhiri pernikahan mereka.
.
__ADS_1
.