
.
.
"Haduh,,, gimana ini? Bisa-bisa saya yang disalahkan kalau begini. Mbak,,, mbak,,, bangun, mbak!!!" Seru supir tersebt yang semakin panik.
Supir tersebut lalu mengambil tas sandang milik Laila. Ia berniat menghubungi seseorang di ponsel milik Laila yang bisa sekiranya membantunya. Ketika dibuka ternyata ponsel tersebut terkunci. Supir taksi itu pun semakin panik.
Namun, untung saja ada panggilan masuk yang bertuliskan Ulfi. Tanpa pikir lagi, supir taksi itu langsung menjawabnya.
"Halo, mbak. Maaf ini dengan siapanya pemilik hp, ya?" Tanya supir tersebut.
"Saya adiknya. Kenapa hp kakak saya bisa sama bapak?"
"Mbak yang punya hp ini lagi di taksi saya, mbak. Dia pingsan." Jawabnya.
"Apa? Terus sekarang bapak ada dimana?"
"Saya ada di jalan M. Mbak yang pingsan ini gimana, mbak?" Tanyanya.
"Bapak tolong antar ke jalan L, ya. Saya tunggu disini."
Dengan segera pak supir itu kembali melajukan mobilnya setelah psnggulan terputus. Sesekali ia melihat Laila dari kaca, memastikan keadaannya. Wajah Laila sedikit pucat. Ia pun segera berhenti di tempat yang tadi disebutkan oleh Ulfi.
Ia menurunkan Laila saat melihat ads Ulfi berdiri di depan gerbang. Ulfi pun mengambil alih Laila untuk dibopongnya setelah membayar ongkos taksi.
"Makasih ya, pak." Ucap Ulfi.
"Sama-sama, mbak. Saya permisi dulu." Pamitnya yang kemudian berlalu.
Ulfi membawa Laila masuk ke dalam rumah dan mengantar ke kamarnya. Ia merebahkan kakak iparnya itu di tempat tidur. Ulfi mencari minyak kayu putih untuk membantu membuat Laila cepat terbangun.
"Kak,,, bangun kak. Kak,, Duh,,, gimana, ya?" Ulfi mulai panik karena tak ada reaksi apapun dari sang kakak ipar yang masih terbaring memejamkan mata.
"Kak. Kak Laila. Bangun, kak..." Panggilnya lagi sembaru menepuk pelan pipi Laila.
"Apa aku telfon Kak Gilang aja?" Gumamnya.
Ulfi pun mencoba menghubungi Gilang dengan ponsel milik Laila karena ponselnya sendiri tertinggal di ruang tamu setelah ia menelpon tadi.
__ADS_1
"Halo, kak." Ucapnya cepat. "Kak,, kak Laila pingsan."
"Apa?" Kata Gilang yang terkejut di seberang telepon.
"Ulfi. Kamu nggak bercanda, kan? Laila kenapa? Kenapa dia bisa pingsan?" Tanya Gilang terdengar cemas.
"Aku juga nggak tau, kak. Tadi waktu aku telfon Kak Laila, yang angkat supir taksi. Katanya Kak Laila pingsan waktu di taksi." Jelasnya dengan suara bergetar.
"Di taksi? Kamu ingat wajah supir taksinya kan? Terus kamu liat plat nomornya, nggak?" Tanya Gilang bertubi-tubi.
Ulfi terdiam. Wajahnya sudah memerah menahan perasaannya yang berkecamuk. Antara takut, cemas dan bingung menjadi satu. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Supir taksinya, aku tau kak. Tapi, kalau platnya, aku nggak ingat. Aku tau supirnya, serung nongkrong di dekat kampus aku." Jawab Ulfi.
"Oke. Kakak pulang hari ini. Kamu tolong jaga Laila sampai kakak datang. Kalau Laila masih nggak bangun, kamu telfon dokter." Titah Gilang.
"Oke, kak."
Ulfi yang tak mau terjadi apa-apa pada Laila pun segera menghubungi dokter keluarga mereka. Dan setelah menunggu 15 menit akhirnya dokter keluarga yang taj lain adalah salah satu sepupunya dan Gilang pun datang. Dia adalah Putri, anak dari adik Mama Gilang.
"Fi. Laila kenapa?" Tanya Putri yang memang sudah mengenal Laila yang kini telah menjadi bagian keluarga mereka.
"Hah? Di taksi? Kok bisa?"
Ulfi menggeleng. Ia benar-benar cemas sekarang. Ia juga takut terkena amukan Gilang jikalau Laila kenapa-napa. Toh Gilang telah memberikan amanah kepada dirinya untuk menjaga istri kakaknya ini. Ia benar-benar berharap tak terjadi apa-apa pada Laila.
Putri kini tengah memeriksa Laila dengan alat medisnya. Saat proses itu berlangsung, Laila tiba-tiba membuka matanya dengan perlahan. Ia melihat seorang wanita cantik dengan hijab pasmina tengah tersenyum menatapnya.
"Apa yang kamu rasain, La?" Tanya Putri.
Laila memejamkan mata sebelum bibirnya tergerak untuk berbicara. "Pusing, kak." Jawabnya.
"Kamu nggak apa-apa kok. Istirahat aja ya. Berdasarkan pemeriksaan aku, kayaknya kamu hamil La." Kata Putri..
.
.
Gilang menyadari sikapnya barusan membuat kliennya tidak nyaman. Ia pun meminta maaf.
__ADS_1
"Pak Johan. Saya minta maaf karena saya Kelepasan. Adik saya menelepon mengabarkan kalau istri saya pingsan." Ucapnya kepada Johan masih setia duduk di sofa.
"Iya, pak Gilang. Saya maklum, kok. Anda pasti cemas sekali mendengar kabar itu. Tapi, maaf. Boleh saya tahu nama istri bapak? Saya merasa tidak asing dengan nama yang bapak sebut tadi." Kata Johan menanggapi.
"Istri saya namanua Laila, pak." Jawab Gilang.
Johan mengangguk. Dalam hati ia berpikir apakah semuanya hanya kebetulan. Apakah memang kebetulan nama mereka sama. Atau mereka memang orang yang sama. Apa Laila yang dimaksud oleh Gilang adalah Ailanya yang sudah lama ia cari.
"Pak Johan." Tegur Gilang melihat Johan yang termenung.
"Hmm? Iya, pak. Maaf, saya tadi teringat sesuatu." Ucapnya laku tersenyum.
"Mm,, kalau gitu bagaimana jika meeting kita hari ini kita sudahi dulu, pak? Saya kurang fokus jika harus melanjutkannya sekarang. " Jelas Gilang.
"Iya, pak. Nggak apa-apa. Mungkin sebaiknya begitu. Saya mengertii dengan apa yang bapak rasakan sekarang." Jawab Johan.
"Iya, pak. Terima kasih telah memaklumi saya."
Meteka laku berjabat tangan dan mengangkhiru rapat mereka. Sementara kunhungan ke lokasi pembangunan terpaksa ditunda dan Gilang akan segera pulang ke Jakarta untuk menemui istrinya. Ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Laila.
Supir taksi itu akan ia temukan dan ia tanya kejelasan yang telah terjadi. Ia merasa cemas jika saja istrinya diganggu di jalan sana.
"Saya permisi, pak." Ucap Johan yang kemudian berar-benar pergi. Gilang pun langsung menitahkan Romi untuk mengurus kepulangannya sekarang.
"Romi, suruh anak buah lo mencari tahu apa yang terjadi sama Laila tadi. Gue mau informasinya segera. Dan untuk supir taksinya, kalau ketemu jangan langsung diapa-apain. Pastiin dulu semuanya." perintahnya.
Romi pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Gilang. Sementara Gilang, ia kini mencoba menghubungi sahabatnya Faizan. Ia akan meminta Faizan agar menyuruh Laila berhenti bekerja.
"Halo. Lang, lo dimana sih? Udah lama lo nggak kelihatan. Gue kan udah bilang, jangan tinggal-tinggalin Laila terus, Lang. Lo pasti nyesal nanti kalau Laila beneran kenapa-napa saat nggak ada Lo yang bisa nolongin dia." Serobot Faizan begitu menjawab panggilan dari sahabatnya.
"Zan, plis lo dengerin gue dulu. Gue lagi kerja, Zan. Gue terpaksa menghandle pekerjaan disini, karena sepupu gue nggak sanggup. " Jawab Faizan.
"Gue nelfon lo sekarang karena gue mau lo suruh Laila berhenti dari Kafe." Ucap Gilang lagi yang seketika benar-benar menciptakan keheningan diantara mereka.".
.
.
Bersambung.....
__ADS_1