Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 42


__ADS_3

.


Ceklek... Pintu kamar terbuka. Gilang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri. Ternyata Laila sedang berada di kamar mandi, karena Gilang mendengar sendiri bunyi gemericik air di lantai kamar mandi.


Ia masuk dan membuka sepatunya sambil duduk di single sofa. Lelah sekali setelah melakukan perjalanan jauh. Tubuhnya terasa pegal. Gilang mencoba meregangkan otot-ototnya untuk mengusir rasa pegal itu.


Faizan bersandar di single sofa saat Laila keluar dari kamar mandi. Ia memandang sang istri dengan tatapan lekat. Entah mengapa ada aura berbeda yang ia rasakan ketika memandang Laila. Yang pasti, istrinya itu terlihat sangat cantik dan ia nyaman memandangnya.


Laila yang merasakan jika Gilang terus menatapnya sedari tadi pun merasa salah tingkah. Ia pun berniat untuk keluar saja agar bisa menghindari kecanggungan diantara mereka. Namun, saat langkahnya berada di hadapan Gilang, Laila tiba-tiba merasa mual.


"Hoekk,,," Laila segera menutup mulutnya dengan tangan. Gilang yang melihatnya sesigap mungkin langsung memegang bahu Laila. Wajahnya terlihat panik.


"Kamu kenapa?" Tanya Gilang.


Laila menggeleng bersamaan memberi isyarat dengan tangan. Ia juga menepis dengan pelan pegangan Gilang di kedua bahunya


"La,, kamu nggak apa-apa?" Tanya Gilang lagi. Ia khawatir terhadap istrinya.


"Enggak, mas. Aku mau ke bawah dulu." Jawab Laila yang hanya menoleh sekilas pada sang suami.


Tanpa menunggu jawaban dari Gilang, Laila langsung saja melangkah meninggalkan Gilang yang masih berdiri mematung menatap kepergian sang istri. Dalam hati ia benar-benar berharap Laila baik-baik saja.


Setelah Laila pergi, Gilang pun masuk ke kamar mandi. Ia hanya mencuci muka dan kaki saja. Lalu langsung mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Karena ia telah berjanji pada Sang kakak ipar yang merangkap sahabatnya itu, akan turun kembali setelah 5 menit. Dan ia menepatinya.


Laila yang melihat sang suami sudah kembali menghampiri mereka pun merasa heran. Apa suaminya tidak mandi? Kenapa cepat sekali turun?


"Ulfi ada disini nggak, La?" Tanya Gilang karena tak melihat keberadaan adik sepupunya itu.


"Tadi iya, mas. Barusan dia keluar karena ada kelas mendadak. Baru aja pergi." Jawab Laila.


"Oh gitu." Gilang mengangguk.


Gilang duduk di sebelah Hanif. Ia lalu ikut menikmati makanan yang ada di atas meja. Namun, ia merasa ada yang janggal dengan rasa masakan tersebut. Ia pun menatap Laila.

__ADS_1


"Kayaknya rasa masakannya beda." Ujar Gilang.


"Beda maksudnya gimana, Lang?" Tanya Hanif.


Gilang pun menoleh pada Hanif. "Mm,, Beda dari yang biasanya dimasak sama Laila." Jawabnya.


"Ohh berarti Ulfi jarang masak disini, ya?" Tebak Hanif.


Laila hanya tersenyum menanggapinya. Berbeda dengan Gilang terlihat beroh ria saat mendapat jawaban seperti itu dari Hanif. Ternyata adiknya yang memasaka. Pantas saja berbeda rasanya.


Tap, Kenapa Gilang menjadi sensitif seperti ini? Bukankah biasanya ia tak mempsoalkan siapa yang memasak. Bahkan antara masakan sang mama dan Laila pun ia tak memepermasalahkan. Tapi, sekarang lidahnya seperti tidak nyaman dengan makanan ini.


"La. Boleh nggak aku minta tolong?" Tanyanya ragu.


"Apa, mas?"


"Aku,,, pengen makan masakan kamu." Ucapnya. Laila terpaku mendengar pernyataan Faizan. Ada apa dengan suaminya? Mengapa tiba-tiba mememinta masakannya?


Gilang sendiri bingung harus menjawab apa. Ia pun menatap makanan di hadapannya yang tadinya telah ia suap satu sendok ke dalam mulutnya. Namun, entah mengapa ia menjadi geli melihatnya.


"Plis,, tolong masakin aku makanan yang lain, La!" Ucap Faizan memohon.


"I,,, iya mas. Aku masak sekarang." Jawab Laila yang tak tega melihat wajah memelas suaminya.


.


.


Seorang wanita dengan wajah datar menatap pemandangan di depannya. Ia tengah berada di balkon kamar di lantai dua rumah mewah tersebut. Dialah Kalista Nowela, seorang model muda cantik dengan tubuh yang proporsional.


Kalista tengah menikmati waktu liburannya di Indonesia hingga 2 bulan ke depan. Dan ia sudah berada di tanah air selama hampir 1 bulan. Dan ya, sekarang ia tengah berada di apartemen yang ia beli 1 bulan yang lalu. Dan disinilah ia tinggal selama sebulan ini.


Seseorang memasuki kamar sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Kalista meliriknya sebentar dan kembali beralih menatap pemandangan yang benar-benar menyegarkan pikirannya.

__ADS_1


"Nih." Ujar wanita muda dengan rambut sebahu yang diberi sentuhan warna biru dan ungu itu.


Kalista hanya menoleh sesaat dan terkesan cuek saja. "Oke. Thanks.." Ucapnya.


"Oke. Jadi, sekarang gimana? Apa lo masih dengan rencana yang sama?" Tanya wanita itu. Kalista mengangguk.


"Udah deh, Ta. Gue rasa nggak ada gunanya juga. Yang ada nanti karir lo jadi merosot dan nama lo jadi buruk di mata para fans lo. "


"Udah lah, Ren. Kalau pun gue nanti nggak bisa ngedapetin Gilang lago, seenggaknya gue bisa ngerusak rumah tangga mereka. Lagian ya, Ren. Gue tuh heran, kenapa lo segitunya ngelarang gue. Apa lo juga suka sama Gilang?" Tuduh Kalista membuat Shiren tercengang karena tak habis pikir dengan apa yang dituduhkan sahabatnya ini.


Jelas-jelas ini semua untuk kebaikan Kalista juga. Toh, jika Kalista tak berbuat hal buruk apapun, takkan ada sensasi buruk yang terjadi dan membuat namanya sebagai model terkenal menjadi buruk di mata fans'nya.


Shiren hanya menasehati karena ia peduli pada Kalista yang notabennya adalah sepupunya dan ia sendiri adalah manager Kalista. Shiren tahu apa sebenarnya motif Kalista berniat menghancurkan rumah tangga Gilang dan Laila. Namun, ia tak ingin ikut campur lagi karena Kalista sangat batu untuk dinasehati.


"Ren, gue rasa gue punya ide deh. Gimana kalau kita celakain cewek itu?" Ungkap Kalista mengenai idenya yang tiba-tiba muncul.


"Haduh,, enggak deh Ta. Nggak mau. Gue takut kita dapat masalah. Resikonya terlalu besar, Ta. Kalua dia kenapa-napa, Gilang pasti marah banget. Dan lo tau kan, Kalau Gilang menuntut kita gimana? Bisa panjang urusanya." Shiren terlihat frustasi. Ada-ada saja yang Kalista pikirkam.


"Udah, deh. Jangan mikirin rencana buruk lagi. Lo nggak kenal sama cewek itu. Dan gue rasa, Gilang sama istrinya itu udah jodoh yang pas, Ta. Mendingan sekarang lo fokus sama karir lo. Atau lo mau benar-benar hancur dan karir lo berakhir aampai disini aja?" Ancam Sherin membuat Kalista menatapnya tajam.


"Ah,,, udah deh Ren. Lo bikin gue mumet aja, deh. Kenapa lo nggak pernah mau dengerin saran gue tentang masalah ini. Gue males tau nggak." Dumelnya kesal.


"Ta. Setengah jam lagi ada pemotretan. Mendingan sekarang lo siap-siap." Titah Shiren.


Kalista mengepal tangannya menatap kepergian Shiren yang meninggalkannya begitu saja dan tak mendengar keluh kesahnya..


.


.


Bersambung.


..

__ADS_1


__ADS_2