Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 37


__ADS_3

.


.


Pagi hari Ulfi sudah rapi dengan pakaian casualnya yang akan berangkat kuliah. Ia menuruni anak tangga dan menghampiri Laila di dapur. Saat memasuki area dapur, Laila merasa heran melihat kakak iparnya itu tengah menikmati suatu makanan yang Ulfi tak tau apa itu.


Ia pun berjalan semakin mendekat hingga dapat melihat dengan jelas makanan yang tergeletak diatas piring.


"Kak?" Ujar Ulfi mengalihkan Laila dari kegiatannya.


"Eh, Fi. Kamu udah siap?"


"Iya, kak. Itu kakak makan brownis?" Tanya Ulfi.


"Iya." Jawab Laila diikuti anggukan.


"Pagi-pagi begini?" Tanyanya lagi. Kali ini Laila hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Tapi, bukannya kakak nggak suka kue bolu?" Ulfi menatap Laila dengan wajah bingung. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada wanita muda didepannya ini.


"Ya,, emang sih dulu. Tapi, sekarang kakak suka. Enak, Fi. Cobain, deh." Ucap Laila terlihat antusias.


Ulfi hanya tercengang. Ada yang aneh dengan Laila. Ia masih ingat saat awal menikah, Gilang pernah bertanya padanya apa yang harus ia berikan pada Laila untuk mendapatkan hati gadis itu. Dan Ulfi memberi saran yang salah satunya adalah agar Gilang memberikan sang istri makanan yang ia suka. Ulfi pun menyebutkan beberapa jenis makanan, diantaranya yang manis, pedas, makanan berat dan ringan.


Gilang mengatakan Ulfi suka makanan manis, terkecuali kue sejenis bolu dan itu termasuk brownis. Namun, pagi ini kakak iparnya itu melakukan hal sebaliknya. Memakan makanan yang tidak ia suka.


"Kalau gitu, aku pamit ke kampus ya, kak. Kakak hati-hati di rumah ya. Aku bawa bekal aja." Kata Ulfi.


"Oh, kamu mau bawa bekal. Biar kakak siapin." Laila yang hendak berdiri dicegah oleh Ulfi.


"Enggak, kak. Biar aku aja. Kakak lanjut aja makannya." Ucapnya tersenyum.


Laila mengangguk. "Hati-hati ya." Ucap Laila saat Ulfi benar-benar akan berangkat.


"Iya, kak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam." Jawab Laila dan mengantar Ulfi hingga ke teras.


Laila menatap kepergian gadis remaja yang hampir menginjak masa dewasa itu. Ia lalu kembali masuk kedalam rumah. Laila pergi ke dapur dan membuka kulkas. Entah mengapa ia memiliki hasrat yang besar untuk mengemil saat ini.


Melihat semua isi kulkas yang hanya menyisakan beberapa sayuran dan bahan masak lainnya, Laila pun berinisiatif untuk pergi ke minimarket. Ia ingin membeli beberapa makanan untuk cemilannya.


Setelah bersiap, Laila langsung pergi. Ia pergi ke minimarket yang ada di area komplek. Letaknya tak jauh, hanya berjarak 5 rumah dari kediamannya. Berjalan selama 5 menit, akhirnya ia sampai ditempat perbelanjaan itu.

__ADS_1


Saat Laila masuk, sepasang mata ternyata terus menatapnya sedari tadi. Ya, seseorang itu mengikutinya semenjak Laila keluar dari gerbang. Terlihat helaan napas dari orang tersebut saat melihat Laila akhirnya sampai di minimarket dan masuk.


Ya, Orang itu adalah Delon. Meski telah berniat untuk melupakan Laila, namun ia masih belum bisa berhenti untuk mencaritahu dan memastikan keadaan wanita bersuami itu. Delon telah berjanji, melakukannya hanya sampai hari pernikahannya. Setelah ia menikah, ia tak akan lagi mengurusi kehidupan wanita yang dicintainya itu.


.


.


Selesai berbelanja, Laila langsung pulang. Ia menenteng dua buah kantong belanja di kedua tangannya. Saat sudah hampir sampai di rumah, sebuah mobil berhenti tepat di sisi Laila. Ia pun menghentikan langkahnya dan menatap waspada pada sosok yang keluar dari mobil tersebut.


Seorang lelaki berkaos hitam dan wajah yang menurut Laila seperti preman, membuatnya merasa takut. Ia pun segera berlari menghindar dari lelaki misterius itu.


"Awwss,,," Jerit Laila tertahan saat ia terjatuh karena kakinya yang saling menyangkut.


Lelaki itu berhenti saat Laila sudah terduduk di aspal. Saat lelaki itu hendak menggapai Laila, tiba-tiba saja Laila dibuat terkejut karena lelaki misterius itu jatuh tersungkur.


Delon? Ucap Laila tanpa bersuara. Delon menolongnya. Hah,, lagi-lagi Delon muncul tiba-tiba bahkan dalam keadaan genting seperti sekarang. Kini, rasa takut Laila sudah mulai menguap saat Delon berhasil mengalahkan lelaki itu yang kini sudah berlari setelah Delon menghajarnya berkali-kali. Akhirnya hembusan napas lega kini keluar dari bibir Laila.


"La. Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang luka?" Tanya Delon yang terlihat mengkhawatirkan keadaan gadis pujaan hatinya itu.


"Enggak, kok. Aku nggak apa-apa." Jawab Laila.


"Syukur lah." Ucap Delon.


"Sama-sama, La. Aku antar kamu, ya." Kata delon menawarkan.


"Eh, nggak usah, Lon. Rumahku udah dekat, kok." Tolak Laila sopan.


"Tapi, gimana kalau ada yang gangguin kamu lagi?"


"Enggak, kok. Insyaa Allah udah aman."


"Hmm,, ya udah, deh. Aku liat kamu dari sini ya sampai kamu tiba di rumah." Laila hanya bisa mengangguk pasrah mendengar perkataan Delon barusan.


Ia pun pamit dan kembali melanjutkan perjalannya yang hampir sampai di rumah. Laila merasakan perih di tangannya. Ternyata telapak tangannya mendapat sedikit luka. Mungkin karena terbentur aspal.


Sementara itu, Gilang masih berada di tempat dimana Laila terjatuh tadi. Ia sendiri merasa ada yang janggal. Sepertinya kejadian tadi bukan kebetulan, namun ada yang sengaja untuk mencelakai Laila. Ia harus mencaritahu mengenai hal ini.


.


.


.

__ADS_1


Di sebuah ruangan bernuansa kantoran Gilang terlihat marah. Tangannya mengepal kuat. Ia baru saja mendapatkan kiriman foto yang menunjukkan istrinya tengah berdiri dengan jarak yang dekat bersama Delon. Huh, sungguh menyebalkan. Lelaki itu masih saja mendekati istrinya.


Ingin sekali Gilang menghajar wajahnya yang tidak terlalu tampan menurutnya itu, hingga Delon tak lagi berani menunjukkan wajah hancurnya dihadapan Laila.


"Apa yang mereka lakukan?" Geram Gilang.


"Ckk. Apa Laila memang cinta sama dia?" Ucap Gilang bertanya.


Ia merasa seperti tertampar akan kenyataan, bahwa istrinya memang mencintai lelaki lain. Apa memang tak ada lagi harapan untuk mendapatkan hati istrinya? Gilang merasa kalut.


Kemarahannya beberapa menit yang lalu kini berubah menjadi rasa putus asa. Cintanya sudah cukup nyata ia rasakan pada sang istri. Tapi, takdir seakan tak berpihak padanya.


"Apa memang dalam 2 bulan kedepan, pernikahan ini harus berakhir?" Gumam Gilang.


Huh,, rasanya ia tak rela melepaskan wanita itu. Ya, wanita yang telah membuat hatinya resah beberapa waktu ini. Gilang sadar, jika ia sudah sangat menyayangi sang istri. Mungkin ia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Apa ia harus kembali ke Jakarta hari ini, pikirnya.


Ia pun meminta Romi memanggil Romi lewat interkom. Setelah beberapa menit Romi datang. Namun, wajahnya terlihat sebal.


"Ada apa sih, bos? Baru juga beberapa menit gue dari sini." Gerutunya yang langsung mendapat pelototan dari sang Bos.


"Ngeluh aja terus." Sindir Gilang.


Romi terlihat menghela napas berat. "Oke. Ada apa?" Tanyanya.


"Jadwal gue untuk 3 hari kedepan gimana? Apa ada yang nggak bisa dipending atau dibatalin aja gitu?"


"Seingat gue sih besok bos ada meeting banget. Sama Damara grup."


"Meeting ketiga?" Tanya Gilang.


"Iya. Dan ini penting karena besok juga kita harus ke lokasi proyek." Jelas Romi mengutarakan.


Gilang nampak kecewa mendengar penjelasan Romi. Itu berarti ia tak bisa pulang sampai besok.


.


.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


__ADS_2