
Detik demi detik terus berlalu dan di setiap harinya Daniel tak pernah kehabisan akal untuk mencari alasan agar bisa berjumpa dengan penguasa hatinya, sedangkan di luar sana Vivian semakin terbakar api amarah karena keluarga besarnya benar-benar sudah mengabaikan dirinya
Vivian yang sudah mulai kehabisan akal akhirnya mencoba kembali menemui keluarga Perkasa, dengan sebuah bekal yang sudah matang akhirnya Vivian berhasil berjumpa dengan mereka
"Tante bukan ga mau membantu kamu Vi, tapi kami tau Daniel memiliki watak yang keras. Jika kami tetap memaksa dia tante yakin bahkan kami pun ga akan dia lepaskan"
Gadis tersebut sudah banjir dengan air mata dan hanya berhasil menyentuh hati semua orang yang ada di sana tanpa berhasil membuat mereka kembali berpihak terhadap dirinya
"Maaf karena aku jadi merepotkan om dan tante tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan Daniel, kalau memang om dan tante ga bersedia bantu aku ga ada gunanya lagi aku hidup tersiksa seperti ini." dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
Gadis tersebut benar-benar memainkan peran yang dia mainkan dengan sangat baik, Vivian pun mengeluarkan sebuah pisau dari dalam tas yang dia bawa dan mengarahkan pisau tersebut ke lehernya sendiri
"Selain keluarga besar aku yang kecewa atas keputusan Daniel, aku sendiri benar-benar ga akan melanjutkan hidup aku lagi"
Seluruh orang yang berada di sana merasa terkejut melihat ulah gadis tersebut, mereka pun secara serentak langsung berdiri dan berusaha menenangkan Vivian
"Maaf untuk om dan tante karena aku selalu menyusahkan kalian, tapi aku ga mau lanjutin hidup aku lagi karena hati aku benar-benar sakit kehilangan Daniel"
Orang tertua do tempat itu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai memasang wajah serius, dia merasa harus segera bertindak karena darah segar mulai keluar dari leher Vivian. Dan orang tersebut percaya jika Vivi benar-benar mencoba Daniel
"Apapun yang akan kamu lakukan di depan kami itu ga ada gunanya Vi, karena kami juga ga bisa berbuat apapun terhadap Daniel. Tapi saya janji saya akan membantu kamu"
"Apa om serius?" tanya Vivian dengan tatapan mata penuh harap
"Saya akan coba bicarakan tentang perempuan itu ke papa, saya rasa saat ini cuma papa yang bisa membujuk cucu kesayangan dia untuk meninggalkan perempuan itu. Jadi sekarang buang pisau itu, tapi maaf om cuma bisa berjanji sampai sejauh itu. Semua tetap tergantung cara papa memberikan keputusan"
Klontang suara pisau itu terhempas ke atas lantai dan para wanita yang berada di sana coba menghibur Vivian, sedangkan orang tadi memandang ke arah Vivian dengan serius
"Tindakan gadis ini tadi cukup berbahaya, tapi dengan begini aku bisa tenang bila gadis ini berada di sisi Daniel. Aku yakin rasa cinta gadis ini terhadap Daniel teramat besar, dengan begitu gadis ini akan melakukan apapun untuk membahagiakan Daniel"
Di saat semua orang di tempat itu baru saja terlepas dari rasa khawatir dan hampir sebagian dari mereka salut akan keberanian Vivian memperjuangkan Daniel, lain hal dengan Vivian karena gadis itu sedang tertawa dengan bahagia di dalam hatinya karena dia kini mendapatkan kembali dukungan dari keluarga Perkasa
__ADS_1
Dan hari pun berganti hari itu Daniel sedang bersiap ke arah rumah sang kakek, karena sang kakek menghubungi dirinya dan meminta dia untuk datang. Tiba-tiba saja ponselnya pun berdering dan panggilan telepon berasal berasal dari Rico
"Halo"
"Lu ada di mana?"
"Gw lagi di jalan ke rumah kakek"
"Sial!!"
Daniel pun mengerutkan keningnya
"Kenapa?"
"Apa lu di hubungi kakek buat datang ke rumah dia?"
"Ya, semalam kakek telepon gw dan minta gw datang hari ini"
"Kakek bilang ada sesuatu yang perlu dia bahas sama gw," jelas Daniel dengan santai
"Sebaiknya sekarang juga lu putar balik dan ga usah datang ke sana!!" ucap Rico penuh penekanan
"Lu kenapa sih?"
"Semua gara-gara calon istri lu yang ga jadi itu, dia bikin drama mau bunuh diri segala karena lu tinggalin dia. Ya lu tau lah namanya orang tua percaya aja sama semua drama yang dia buat, gw juga ga tau mereka ngomong apa sama kakek. Jadi saran gw lu jangan datang ke rumah kakek"
"Kenapa lu baru bilang sekarang sama gw?"
"Gw juga baru tau dari adek gw, makanya ini gw langsung kasih tau lu masalah ini ke"
Daniel pun mengeraskan rahangnya
__ADS_1
"Sepertinya peringatan yang aku kasih ke perempuan itu belum cukup jelas, dia masih berani bermain di belakang aku!!"
"Udah sekarang juga lu putar balik, gw yakin lu ga akan bisa melawan perintah kakek"
Daniel pun tersenyum tipis
"Gw akan tetap datang ke rumah kakek"
Rico di seberang sana sudah mengacak rambutnya karena merasa frustasi dengan pilihan yang Daniel ambil
"Lu gila ya? lu kan tau sendiri kita semua ga ada yang bisa melawan perintah kakek"
"Lu tenang aja, gw akan selesaikan masalah gw dengan cara gw sendiri. Dan terima kasih infonya"
"Terserah lu aja lah," Rico langsung memutuskan sambungan teleponnya karena merasa jengkel dengan Daniel
Sedangkan Daniel semakin melajukan mobilnya semakin cepat ke arah kediaman sang kakek, dia ingin segera membuka jalan yang lebar bagi Caca dan sang buah hati
"Awalnya aku ga mau libat kan kakek di masalah aku dan Caca karena aku mau secara perlahan mendekati Caca, tapi nyatanya mereka malah memilih jalan seperti ini. Jangan salahkan aku kalau aku memilih jalan yang sama dengan kalian"
Akhirnya Daniel pun tiba di sebuah kediaman yang menjadi momok paling di segani di antara para anggota keluarga Perkasa karena sifatnya yang tegas, tapi mereka seperti lupa bahwa sosok tersebut adalah sosok yang paling tidak bisa mengatakan kata tidak kepada Daniel
Baru saja Daniel menampakkan wajahnya dan prang.. Sebuah gelas melayang tepat je arah Daniel hingga menyayat pipi Daniel dan darah segar pun langsung mengalir dari pipi Daniel
"Kamu adalah orang yang kakek pilih secara langsung untuk menggantikan posisi papa kamu di saat umur kamu masih terlalu muda, sehingga tidak ada seorang pun berani mengusik kamu hingga saat ini. Tapi di saat kakek sudah tinggal menghitung hari, apa ini yang harus kakek terima dari kamu?" ucap sang kakek dengan nada yang tegas
Daniel tetap berdiri di tempat yang sama dengan tatapan mata yang tak goyah sedikit pun ke arah sang kakek
"Apa kamu merasa ga ada yang perlu kamu jelaskan tentang hubungan kamu dengan perempuan itu?"
"Sebelum kakek meminta aku datang aku memang sudah berencana untuk menemui kakek, karena aku harus bilang ke kakek tentang perempuan yang sudah memberikan harapan terakhir kakek." tersenyum tipis
__ADS_1