
Malam mulai datang, menghilangkan cahaya terang yang menyinari dunia dan membawa kegelapan, diselimuti bintang-bintang.
Lidya kini duduk bersama Fahri, adiknya yang saat ini menduduki bangku SMP. Mereka tampak fokus pada layar televisi yang menayangkan sebuah film horor, ya... Beginilah Lidya dan Fahri menghabiskan waktu setelah belajar.
Kliiing....
Suara dering ponsel Lidya membuatnya sedikit tersentak, Lidya meraih ponselnya, melihat layar ponsel yang sudah terdapat beberapa pesan di sana.
Lidya membuka pesan itu.
From Raka:
"Hai lid kira-kira gangu gak nih?"
Bagaikan ada banyak sinar rembulan yang menyinari Lidya, ia sangat bahagia sedetik setelah membaca pesan dari Raka.
From Lidya:
"Hallo Raka, mau bicara apa ya?"
Tak menunggu waktu lama, pesan dari Raka masuk membuat Lidya kembali menatap layar ponselnya.
From Raka:
"Ya, cuma basa-basi aja, sih hehe."
From Lidya:
"Oh cuma itu."
Lidya menjawab pesan Raka singkat, ya beginilah cewek gengsinya tinggi.
Lidya merutuki dirinya sendiri. Karena setelah beberapa lama tak lagi menerima pesan dari Raka, ia merasa sangat kesal karena telah mengirim pesan yang sangat singkat.
Kliiiing....
Suara itu kembali membuat Lidya antusias, Lidya langsung meraih ponselnya. Dan membuka pesan.
From Raka:
"Lid, Lo suka gak sama boneka pandanya?"
Senyuman kembali merekah.
Dengan lincah Lidya menggerakkan jemarinya di keypad, untuk membalas pesan Raka.
From Lidya:
"Suka, suka banget malah." balas Lidya.
From Raka:
"Alhamdulillah bagus deh kalau gitu."
Ya beginilah malam pertama Lidya yang di temani dering pesan dari Raka.
***
"LIDYA...."
Suara teriakan Ifni terdengar nyaring dan menggema di seluruh ruangan. Ifni adalah ibunda dari Lidya.
"Iya Ma bentar!" sahut Lidya dari arah kamar, kali ini Lidya bangun agak lamban mungkin karena tadi malam ia tidur agak larut karena sibuk membalas pesan dari Raka.
Lidya mulai menuruni tangga menuju ruang tengah, rumah dengan cat berwarna putih itu tampak sangat mewah dengan perpaduan warna emas. Rumah yang cukup luas untuk Lidya dan tiga adik laki-lakinya.
Sebagai anak sulung Lidya juga putri semata wayang keluarga Adi Setya.
Bagi Adi, Lidya adalah sumber dari keberhasilannya dibidang bisnis, awal kisah keluarga mereka adalah jerih payah Adi, yang awalnya memulai bisnis kecil, yang tak menyangka akan menjadi perusahaan yang sangat besar seperti sekarang bahkan mampu bersaing dengan keluarga Wijaya yang disebut sebagai keluarga terkaya.
"Kok lama banget sih?" tanya Ifni pada putrinya.
"Ya, Lidya kesiangan Ma, kalau gitu Lidya langsung berangkat aja ya, takut telat," ucap Lidya setengah terburu-buru.
Lidya langsung melangkah meninggalkan rumahnya. Dan langsung memasuki mobil.
"Pak Bambang jalan!" pinta Lidya pada supir yang sudah menunggunya.
"Ok non," Pak Gatot langsung melakukan mobil menuju sekolah Lidya.
***
__ADS_1
Suasana sekolah sudah mulai ramai, seorang gadis tampak gelisah dan berkali-kali menatap ke arah jam dinding yang bertengger manis di atas papan tulis.
"Di mana sih tuh anak!" gerutunya.
"Lidya belum dateng juga Yu?" tanya seorang gadis yang baru saja memasuki kelas menenteng cup yang berisi teh manis.
"Belom nih."
"Kemana dia sih?" tanya Friska heran.
"Ya mana gue tau!" balas Ayu.
"Ya gue rasa dia kesiangan kali," Cinta mulai membuka suara.
Gubraaak....
Suara gebrakan pintu membuat semua orang sangat kaget dan langsung menatap si pelaku keributan.
"Lidya!" Ayu langsung membuka suara karena merasa sangat lega dengan kehadiran Lidya.
Dengan nafas tersenggal-senggal Lidya menghampiri sahabatnya itu.
"Gue be-lum te-te-lat 'kan?" tanya Lidya dengan nafas tak beraturan.
"Gak kok," sambar Cinta.
"Lo kemana aja sih?" tanya Ayu yang merasa agak kesal.
"Gue telat bangun," Lidya mulai duduk bersama Ayu.
"Kenapa? Biasanya rajin banget bangun pagi!"
"Jadi gini...."
Lidya mulai menceritakan semuanya kepada Ayu, dan disambut anggukan oleh tiga pendengar setianya.
"Cieee...."
Lidya mendengus kesal, inilah jadinya saat ia sudah berkata jujur.
"Gak ada apa-apa juga! Gak usah lebay deh!"
"Tau! lo aja yang parno!" cerca Friska.
"Ah udah deh, gak usah di bahas males gue!" tak sadar pipi Lidya mulai merona. Ayu benar, cinta memang indah walau harus di alami pahit pada awalnya.
***
Bel mulai berbunyi tanda istirahat.
"Lid!"
"Hemm," gumam Lidya.
"Lo ikut ke kantin gak?" tawar Ayu.
"Gak ah gue mau ke perpus aja," ucap lidya seraya menaikan kacamatanya.
"Yee dasar kutu buku!" cerca Ayu.
Ayu merasa kesal pada Lidya.
"Yuk Friska, Cinta kita ke kantin aja!" ajak Ayu pada dua temannya.
"Kita duluan ya, Lid," ucap Cinta.
***
Lidya berjalan menyusuri labirin yang terdiri dari beberapa rak buku yang tersususn rapi.
Lidya masih saja fokus mencari buku yang ia inginkan.
"Di mana sih!" keluh Lidya saat menyadari entah di mana letak buku yang ia cari.
Sampai akhirnya Lidya mendapatkan buku itu ada di lorong ujung.
Dengan langakah semangat Lidya mengambil buku itu, dan tak lama ada beberapa jemari yang meraih buku yang sama.
Lidya terkejut dan langsung menatap si pemilik jemari itu.
"Lo?" Lidya benar-benar sangat kaget melihat orang itu.
__ADS_1
"Oh maaf ini lo duluan ya," ucap siswa itu dan langsung pergi meninggalkan Lidya.
"Iqbal!" seru Lidya, pria itu langsung menatap Lidya.
"Ada apa?"
"Gak manggil aja," Lidya terkekeh pelan melihat ekspresi Iqbal yang cukup lucu.
Lidya berjalan meninggalkan Iqbal yang mungkin masih kesal, Iqbal adalah teman satu tim saat menjalani MPLS beberapa hari lalu. Dan Iqbal sangat baik.
"Lid!" seru Iqbal, Lidya pun menoleh menatap Iqbal yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Ada apa?"
"Gak papa cuma rindu," ucap Iqbal dengan senyuman yang membuat lesung pipi di wajahnnya terbentuk.
"Healah!" dengan hati kesal Lidya keluar dari perpustakaan.
Lidya berjalan melewati koridor, ia sedikit tak nyaman dengan beberapa siswa yang sedang bermain basket di lapangan.
Lidya takut nantinya bola itu akan melayang dan jatuh di kepalanya.
Dan benar saja, sebuah bola mendarat mulus membuat pelipis Lidya terasa sakit.
"Auuw," keluh Lidya, ia memegangi kepalanya yang malang.
"Maaf ya Lid, gue gak sengaja," seorang siswa tampak mendekati Lidya dan menolongnya.
"Lo gak papa 'kan?" tanya siswa itu memastikan.
Lidya mendongak dan menatap orang itu, Raka.
Lidya merasa kaget dengan apa yang ia lihat.
"Lo gak papa?" tanya Raka lagi.
Lidya hanya menggeleng pelan."Gue pergi dulu," Lidya melangkah meninggalkan Raka.
***
Lidya sampai di kelasnya, masih sunyi, semua murid pasti di kantin.
Lidya duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan pintu membuat perhatian Lidya teralihkan.
"Raka?" Lidya mengernyitkan keningnya dan menaikan kacamatanya.
"Hai, gue mau minta maaf sama lo," Raka mulai berjalan mendekati Lidya. Mengambil salah satu kursi dab menyandingkannya dengan kursi Lidya.
"Nih buat lo, sekali lagi maaf," Raka memberikan minuman rasa coklat.
"Gue udah maafin kok, tenang aja, and maksih buat minumannya," Lidya menerima minuman itu dengan senang hati.
"Masih sakit ya?" Raka mengelus pelipis Lidya lembut, sesaat Lidya merasa membeku, jantungnya berdegup kencang.
"Eng... Enggak kok," Lidya langsung mengelakkan tangan Raka dari pelipisnya.
"Ma... Maaf," tiba-tiba saja suasana menjadi kaku.
Tak ada yang membuka suara.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini seorang siswa dengan buku di tangannya.
"Iqbal?" Lidya tampak heran.
"Eh maaf gue ganggu ya, hehe."
"Gak kok," jawab Raka."Gue tinggal ya," Raka langsung pergi menuju pintu dan meninggalkan Lidya.
"Ada apa Bal?"
"Ini, guru kimia suruh sekretaris nyatet ini nanti, karena dia gak masuk," jelas Iqbal menyerahkan buku kepada Lidya.
"Oh ok, makasih ya."
"Yaudah, gue ke kelas dulu," ucap Iqbal.
"Iya."
__ADS_1