Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 19


__ADS_3

Sudah beberapa lama Laila duduk di sofa. Entah apa yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak mengenakkan. Seperti ada yang ia tunggu. Ah, mungkin karena malam ini Gilang tidak pulang, karena itu ia merasa ada yang kurang.


Laila mematikan televisi, lalu menghela napasnya panjang. Sesuatu yang begitu berat terasa mengganjal di dadanya. Ia menyentuh perutnya yang datar.


"Seandainya nanti disini tumbuh nyawa, bagaimana kehidupan kami nanti?" Laila membatin dengan tersenyum pilu.


Melihat kebahagiaan Naya dan Faizan yang telah memiliki seorang bayi, menimbulkan rasa haru di hati Laila. Mereka sangat bahagia setelah kelahiran sang anak. Bahkan, sekarang Faizan benar-benar sangat menjaga Naya dan anaknya.


Bagaimana dengan dirinya nanti? Apa mungkin dengan sekali melakukannya akan bisa membuat dirinya mengandung? Tidak,, mereka melakukannya tiga kali. Tentu saja ada kemungkinan janin itu akan terbentuk di dalam rahimnya.


Lagi-lagi Laila menghela napas panjang. Di sela lamunannya, Bi Eti muncul dari arah kamarnya menghampiri laila.


"Non. Kok belum tidur? Kan sudah hampir larut." Ujar Bi Eti.


"Bibi? Ini Ila mau ke kamar kok, bik." Jawab Laila.


"Ya sudah. Bibi periksa pintu depan dulu ya, non." Ucap Bi Eti berlalu.


Laila pun bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar. Ia menaiki tangga dengan langkah yang tak bersemangat. Lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.


.


.


Bu Anne memasuki kamar dengan segelas air putih di tangannya. Ia meletakkan gelas tersebut di nakas samling tempat tidur lalu menutupnya. Ia menoleh ke arah kiri dimana suaminya tengah berkutik dengan tablet.


Ia menaikkan kakinya untuk berselonjor di tempat tidur. Lalu menarik selimut hingga menutupi pinggang.


"Pah. Laila itu baik banget. Mama merasa beruntung punya menantu seperti dia. Laila nggak mau membuka semua sikap buruk Gilang ke mama. Dia malah memuji anak kita." Bu Anne bercerita.


Pak Farhan meletakkan tablet di meja nakas. Lalu mulai merebahkan dirinya. Tatapannya menatap ke langit-langit kamar. Lalu, segurat senyum terlihat di bibirnya.


"Papa bersyukur karena Gilang mendapatkan istri seperti Laila. Tak mudah menemukan perempuan sebaik anak itu. Apalagi yang mau menjaga aib rumah tangganya." Pak Farhan mulai bersuara.


"Bener, pah. Untung aja Gilang nggak menikah sama Kalista. Karena perempuan itu nggak ada sopan santunnya sama sekali. Mama aja malas banget kalau ketemu dia." Bu Anne memasang wajah jengah.

__ADS_1


"Sudah lah, mah. Tak usah bicarakan hal lain seperti itu. Lebih baik sekarang kita tidur." Ucapnya pada sang istri, lalu mulai memejamkan mata.


Bu Anne hanya diam dan menuruti perkataan sang suami. Ia senang sekali jika mengingat bahwa Laila adalah menantunya. Gadis yang begitu penurut.


.


.


Pagi hari, Laila baru selesai membuat sarapan. Hari ini ia berencana untuk pergi ke Kafetaria untuk membantu Naya mengurus Kafetaria. Laila tak enak hati karena ia yakin beberapa hari kedepan Naya dan Faizan akan fokus mengurus bayi mereka.


Sembari menikmati sarapannya, Laila memainkan ponsel. Ia memeriksa whatsapp, untuk melihat pesan yang kemaren ia kirimkan ke suaminya Gilang. Ternyata pesan tersebut tak dibalas, melainkan hanya dibaca oleh suaminya. Laila tak ingin berpikir buruk. Mungkin saja, suaminya sedang sibuk dan tidak fokus.


Kini ia mulai mengetikkan kembali sebuah pesan untuk sang suami. Laila memberitahukan rencananya pada Gilang, seraya meminta izin pada suaminya itu.


"Apa Mas Gilang bakalan izinin aku, ya?" Gumamnya menerka.


Sembari menunggu respon dari suaminya, Laila melanjutkan sarapannya yang sempat terhenti. Setelah selesai, ia pun membereskan meja makan dan pergi ke kamar untuk mengambil tas nya. Tak pikir lama, Laila langsung berangkat menggunakan taksi online yang telah ia pesan.


"Pak, hari ini saya pergi kerja, ya. Bapak disini aja jaga rumah." Ucap Laila saat berpapasan dengan Pak Ajis di pos jaga. Pak Ajis adalah supir sekaligus salah satu pekerja yang bertugas menjaga keamanan di kediaman keluarga Gilang. Dan semenjak dua hari yang lalu, Pak Ajis ditugaskan oleh Pak Farhan bekerja dengan Laila dan Gilang.


"Nggak usah, pak. Saya udah pesan taksi." Jawab Laila sopan.


"Baiklah, bu. Kalau ada apa-apa ibu segera hubungi saya saja." Kata Pak Ajis.


"Iya pak. Saya permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Pak Ajis memandang Laila memasuki taksi yang ternyata telah stay di depan gerbang. Ia merasa terkesan baik dengan majikan barunya itu. Ada rasa lega karena wanita seperti Laila lah yang menjadi menantu di keluarga majikannya. Bukan wanita yang dulu sempat membuat Pak Ajis terhina. Model kasar dan arogan yang selalu melontarkan kata-kata pedas.


Dalam hati ia mendoakan agar pernikahan Gilang dan Laila bertahan selamanya dan selalu menjadi keluarga bahagia.


.


.

__ADS_1


Di Kafetaria suasana terlihat sedikit riuh. Hari ini pelanggan terbilang ramai. Karena hanya beberapa kursi yang kosong.


Laila menghela napas panjang dan menghembuskannya seraya menyandarkan punggungnya di kursi. Akhirnya ia bisa merasa lega setelah banyaknya pelanggan yang silih berganti. Namun, baru saja ia hendat beristirahat sebuah suara terdengar menusuk telinganya.


Bagaimana tidak, kata-kata yang dilontarkan si pemilik suara adalah sebuah hinaan untuk dirinya.


"Ooh,, jadi istrinya Gilang cuma pelayan rendahan. Wahh,, kasihan banget ya keluarga lo, Net. Dapat menantu nggak berbobot banget."


"Yaa, mau gimana lagi. Gilang sih nggak mau dengerin saran gue supaya nikah sama lo. Jadinya ya begini." Perempuan yang satunya lagi, yang Laila masih ingat jelas bahwa itu adalah sepupunya Gilan yang bernama Neta, ikut mengejeknya.


"Owww,, apa jangan-jangan Gilang dipelet lagi, Net. Wah, parah ini, mah." Lagi, Perempuan berpakaian ketat itu menimpali.


"Maaf, ya. Kalau kalian berdua datang kesini cuma untuk menghina saya, akan lebih baik kalau kalian pergi aja dari sini. Karena saya tidak ingin ada keributan." Ucap Laila berusaha menahan sabar.


Neta terlihat melebarkan matanya. "Lo siapa berani ngusir kita, hah? Belagu banget lo." Ucap Neta dengan suara meninggi.


"Iya. Siapa sih, lo? Kita tau ya, kalau lo cuma pelayan." Mayang kembali berbicara.


"Saya memang cuma pelayan disini. Tapi, maaf. Ini demi kenyamanan pengunjung yang lain. Jadi, saya harap mbak berdua mohon mengerti." Sergah Laila.


Neta mendekati Laila dan mencoba mendorongnya dengan keras. Alhasil, Laila yang memang tidak siap dan dalam keadaan cukup lelah pun berhasil terdorong dan terjatuh ke meja yang ada di belakangnya. Sikutnya membentur pinggir meja.


"Awwhh..." Laila meringis saat merasakan perih di sikutnya.


"Mbak Laila?" Ucap salah satu pelayan yang ada di dekat nya. "Ya, ampun. Mbak berdua ini ngapain sih? Jangan bikin ribut dong mbak. Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini. Atau saya panggil satpam." Ancam gadis memakai apron tersebut.


Ia membantu membimbing Laila untuk berdiri dengan benar. Sementara Laila masi memegang sikutnya.


.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


__ADS_2