
Adel yang melihat wajah Caca mulai sedikit bersedih pun langsung mengambil tindakan secara nyata
"Sebaiknya bapak antar kekasih bapak pulang, tidak baik membuat seorang wanita menunggu lama pak." tersenyum dengan sopan
Tanpa sadar Daniel langsung menatap ke arah Caca yang saat itu sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit bersedih, entah mengapa tiba-tiba saja Daniel merasa marah kepada dirinya sendiri melihat Caca yang seperti itu. Dengan langkah yang pasti Daniel segera pergi meninggalkan tempat itu
Daniel terus melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa perduli keadaan Vivi yang sulit mengimbangi langkah kakinya, sesampainya di tempat parkir Daniel langsung memutar tubuhnya dengan wajah penuh amarah
"Apa hak kamu!!" sedikit berteriak
Vivi yang merasa jengkel pun tak mau kalah dia juga ikut menaikkan sedikit volume suaranya
"Hak sebagai seorang calon istri!! apa pantas kamu perlakukan calon istri kamu begitu di tempat umum? siapa sebenarnya perempuan itu?"
Daniel pun menjadi terdiam mendengar pertanyaan Vivi saat itu, dia seperti mendapatkan kembali kesadarannya dirinya yang sempat menghilang entah ke mana
"Siapa perempuan itu sebenarnya? kenapa tadi hati aku sakit waktu pertama lihat dia? kenapa hati aku jadi semakin sakit saat lihat dia bersedih?"
"Sebagai perempuan yang akan menjadi istri kamu aku tanya sekali lagi, siapa sebenarnya perempuan tadi?"
"Calon istri Abian," dengan suara yang kembali normal
"Perempuan yang satunya?"
"Aku ga kenal perempuan itu, tapi.."
"Tapi apa?" menatap ke arah Daniel dengan seksama
Vivi yang sudah menjadi seorang pemain sekali pun bisa merasakan bahwa saat itu Daniel sedang tak berbohong, tetapi Vivi bisa sangat yakin bahwa hati Daniel memiliki sebuah ikatan yang sulit di artikan kepada Caca. Vivi sangat yakin dari cara Daniel saat menatap ke arah Caca
"Semakin kamu berbuat seperti ini semakin aku harus menaklukkan kamu menjadi milik aku, gadis kecil seperti tadi bukan tandingan aku sama sekali." tersenyum tipis
"Kamu jadi antar aku pulang apa ga?"
__ADS_1
Daniel menatap malas ke arah Vivi dan dia pun mulai masuk ke dalam mobilnya, Daniel mengantarkan Vivi kembali ke kediaman keluarga besarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya di sepanjang perjalanan. Sekuat apapun Vivi mencoba merayu Daniel tak ada satu pun usaha Vivi yang berhasil pada saat itu
Sedangkan di tempat yang berbeda Adel berusaha mengalihkan fikiran Caca pada saat itu, dan Caca pun berusaha kuat untuk menutupi perasaan yang sedang dia rasakan. Caca tak ingin bila sang buah hati menyadari sesuatu yang selama ini telah dia sembunyi kan
Daniel pun akhirnya tiba di kediaman keluarga Vivi, dia memutuskan untuk menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah mewah tersebut
"Kamu ga mau mampir dulu?" tersenyum
Daniel menatap ke arah Vivi dengan dingin
"Sepertinya kamu lupa ucapan saya tadi"
"Oke, aku ga akan paksa kamu. Tapi kamu juga harus ingat jangan pernah permalukan aku di tempat umum seperti tadi, karena kita akan menjadi suami istri yang sah di mata semua orang." tersenyum
Daniel hanya melepaskan senyuman sinis ke arah gadis tersebut
"Sebaiknya kamu segera turun sebelum saya mengambil keputusan yang akan merugikan diri kamu sendiri"
"Kamu boleh aja sombong sekarang, tapi saya Vivian belum pernah kalah untuk masalah menaklukkan seorang laki-laki. Tapi saat ini saya harus mulai menyingkirkan semua kerikil yang akan jadi penghalang kita dulu"
Seribu pertanyaan mereka berikan kepada gadis tersebut, dan dengan bangga dia mengatakan bahwa Daniel mengantarkan dirinya kembali ke kediaman mereka. Vivi juga mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa dia akan menaklukkan Daniel sepenuhnya, hal tersebut membuat semua anggota keluarganya bahagia
Vivi segera menuju ke arah kamarnya setelah berhasil membuat tenang seluruh anggota keluarganya, dia pun segera mencari ponselnya dan menghubungi seseorang
"Halo.."
"Cari informasi tentang seseorang"
"Oke"
Vivi langsung merebahkan tubuhnya dan mengingat semua tentang Daniel, Vivi sang gadis muda yang biasa hidup dengan memiliki semua yang dia inginkan menjadi tertantang untuk memiliki seorang Daniel Putra Perkasa
"Si tampan sombong itu harus bisa jadi milik aku, ga boleh ada satu pun kerikil yang menghalangi aku untuk memiliki dia." tersenyum tipis
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang berbeda kini Adel sudah berdua dengan Caca di dalam kamarnya, sedangkan sang buah hati kembali ke kamarnya dan di temani oleh sang pengasuh
"Maaf ya Ca, gara-gara aku ajak kamu keluar kita jadi ketemu dia." dengan suara yang penuh penyesalan
"Kamu ngomong apa sih Del? aku udah putusin untuk melangkah maju, aku juga yakin suatu saat aku pasti ketemu sama dia. Jadi kejadian tadi bukan salah kamu," tersenyum
"Tapi apa kamu yakin kamu baik-baik aja?" menatap sayu ke arah Caca
"Aku baik-baik aja kok Del, siap ga siap aku harus berani berhadapan sama dia. Aku ga mungkin terus hidup dalam bayangan masa lalu"
Adel pun langsung memeluk tubuh Caca dengan erat sebagai tanda penyesalan dari dirinya, Adel pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap serius ke arah Caca
"Atau sebaiknya kamu ga usah jadi event organiser di acara pernikahan aku aja ya Ca? aku ga mau nanti kamu jadi kenapa-napa"
"Apa di mata kamu aku kelihatan lemah banget ya?" tersenyum tipis
"Tapi tadi kamu keliatan sedih Ca," lirih
"Tadi aku cuma kaget aja Del, aku janji aku ga akan pernah begitu lagi kalau ketemu dia. Jadi kamu ga boleh ganti aku sama orang lain"
"Kamu janji ga akan sedih kalau ketemu dia?"
"Aku janji sama kamu Del," tersenyum
"Karena aku ga mau lagi terikat dengan bayang-bayang masa lalu, aku ga mau Ical ikut terbawa dengan semua masa lalu kami"
Sedangkan di tempat yang berbeda Daniel sudah berada di atas bangku kebesarannya, entah mengapa dia sama sekali tak bisa konsentrasi dengan semua pekerjaan yang ada di hadapannya. Hatinya benar-benar terasa sakit saat mengingat kembali wajah Caca
"Siapa sebenarnya perempuan itu?"
Semakin Daniel berusaha mengingat akan Caca rasa sakit di kepalanya semakin terasa
"Akh!!" berteriak sambil memegangi kepalanya
__ADS_1
"Aku yakin perempuan itu pasti ada hubungannya dengan aku, aku cuma merasa sakit di kepala aku saat aku berusaha mengingat semua kejadian yang aku lupa tentang kecelakaan itu"
Daniel pun mencoba mengatur nafasnya agar rasa sakit di kepalanya mulai berkurang, tetapi yang pasti kini Daniel mulai yakin bahwa Caca memiliki sebuah hubungan terhadap dirinya