
Hari demi hari pun terus berlalu beberapa kali Daniel datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan anak yang sudah dia selamatkan, dengan alasan tersebut Caca tak mempunyai alasan untuk tak menerima kehadiran Daniel di di tempat itu
Setiap kehadiran Daniel di tempat itu Daniel selalu membawa berbagai macam buku ataupun mainan agar Caca dan buah hati mereka tak merasa bosan berada di rumah sakit, dan hari itu Daniel sedikit lama berada di sana dan semakin lama Faizal pun merasa nyaman dengan kehadiran Daniel di dekat dirinya
Setelah merasa puas berada di rumah sakit Daniel pun memutuskan untuk pergi dari sana agar Caca tak menaruh rasa curiga terhadap dirinya
"Kalau gitu om pergi dulu ya jagoan," tersenyum dengan hangat sambil meletakkan tangannya di ujung kepala Faizal
"Om udah mau pergi ya? padahal aku masih mau main sama om di sini," dengan raut wajah kecewa
"Papa juga mau selalu ada di samping kamu sayang, tapi kalau papa paksa untuk lakukan itu pasti mama kamu akan menjauh dari papa." tersenyum
"Om janji nanti kapan-kapan om mampir lagi ke sini, atau kalau nanti kamu sudah sehat om ajak kamu jalan keliling kota ini"
"Om mau ajak aku jalan-jalan? om janji ya." dengan nada suara penuh semangat
"Pasti sayang, papa pasti akan lakukan apapun supaya bisa ada di dekat kamu dan mama kamu." tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
"Om pergi dulu ya"
"Hati-hati di jalan ya om," tersenyum dengan polos
Daniel pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Caca yang memilih untuk duduk di sofa yang ada di dalam di ruangan tersebut bersama mama Diana
"Saya permisi dulu tante," tersenyum tipis
"Oh ya, terima kasih." tersenyum canggung sambil melirik sekilas ke arah Caca
Sedangkan Caca saat itu lebih memilih untuk menundukkan pandangan matanya, karena dia tak memiliki keberanian untuk menatap ke arah orang yang ada di hadapannya tersebut. Setiap Daniel berada di sana semakin lama detak jantung Caca berdetak semakin tak menentu melihat cara Daniel memperlakukan buah hati mereka
"Bisa saya bicara sama kamu sebentar?"
Mama Diana yang melihat Caca tak memberikan jawaban apapun langsung mencolek tangan Caca
"Pak Daniel lagi ngomong sama kamu Ca," dengan suara yang pelan
__ADS_1
Dengan berat hati Caca pun terpaksa menatap ke arah laki-laki yang pernah menjadi raja di dalam hatinya tersebut
"Oh maaf pak tadi saya sedang melamun, ada apa ya pak?" menatap ke arah Daniel
"Bisa saya bicara sebentar sama kamu?" tersenyum tipis
Degh... Ada sebuah perasaan rindu yang teramat dalam melihat senyuman dari wajah orang kini ada di hadapan Caca tersebut, Caca bagaikan terhipnotis oleh senyuman tersebut dan langsung bangkit dari duduknya
"Bapak mau bicara apa sama saya?"
"Bisa kita bicara di luar?"
Dan kini Caca sudah duduk di hadapan Daniel di kantin rumah sakit tersebut, dua buah gelas teh hangat sudah berada di hadapan mereka masing-masing
"Ada apa ya pak?"
"Kemarin kamu yang mengurus acara resepsi pernikahan Abian dan Adel kan?"
"Betul pak, apa ada masalah?" Caca pun mulai memasang wajah serius
"Maksud bapak mau minta tolong apa ya pak?"
"Sebentar lagi perusahaan saya akan merayakan hari ulang tahunnya, jadi saya harap kamu bisa bantu saya untuk mengurus semua keperluan nya"
Caca hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Seingat aku ulang tahun perusahaan bukannya selalu di pegang oleh event organiser yang sama setiap tahunnya"
Daniel bisa dengan mudahnya mengetahui jalan pikiran Caca saat itu, entah karena Caca terlalu polos atau bodoh hingga hampir setiap orang bisa membaca jalan pikirannya dengan sangat mudah
"Apa ada masalah?"
"Bukan begitu pak, tapi sebenarnya usaha saya belum berjalan terlalu lama dan saya memegang acara kemarin karena permintaan mempelai wanita yang sahabat saya pak. Saya cuma takut nanti saya akan membuat kecewa bapak"
"Bahkan jika menghancurkan perusahaan saya sekalipun saya ga akan pernah merasa di rugikan sama kamu Ca, jika kamu meminta saya menghancurkan perusahaan sebagai syarat kamu memaafkan saya dan kembali lagi ke sisi saya. Saya pasti akan lakukan itu dengan senang hati Ca"
__ADS_1
"Sebenarnya event organiser yang biasa memegang acara kami di acara kemarin benar-benar membuat kecewa, jadi kami ga mungkin memakai jasa mereka lagi"
Sudah pasti ucapan Daniel tersebut adalah sebuah kebohongan belaka, Daniel hanya sedang berusaha mencari seribu alasan untuk bisa bertemu dengan Caca. Karena dia tau sebentar lagi Faizal akan segera keluar dari rumah sakit, dan dia tak mungkin menggunakan alasan menjenguk anak itu lagi untuk bertemu dengan Caca
"Bagaimana kalau saya memberikan beberapa referensi event organiser yang cukup ternama di kota ini, saya hanya takut tak bisa handle acara tersebut dengan baik pak." dengan sopan
"Saya yakin kamu bisa melakukan apapun karena kamu perempuan yang hebat," tersenyum dengan hangat
"Maksud bapak?" Caca menatap ke arah Daniel dengan serius sambil mengerutkan keningnya
"Astaga ini mulut ngomong apaan sih? wahai otak cepat berpikir untuk memberikan alasan yang masuk akal"
"Maksud saya kamu pasti karena bisa di lihat dari suksesnya acara resepsi pernikahan Abian dan Adel"
Entah mengapa hati kecil Caca seperti merasa terganjal oleh sesuatu, hati kecil benar-benar mulai merasa aneh dengan semua sikap Daniel
"Kan saya sudah bilang pak acara kemarin itu..."
Caca belum menyelesaikan kalimat yang akan dia katakan tetapi Daniel sudah membuka suara terlebih dahulu
"Ya saya tau karena yang menjadi mempelai wanita nya adalah sahabat kamu, apa kamu ga bisa anggap saya sebagai teman kamu juga? gimana juga kan saya orang yang sudah membantu anak kamu"
Caca pun menatap Daniel dengan tajam seolah dia mengatakan lewat tatapan mata tersebut bahwa Faizal adalah anak mereka, sedangkan Daniel memilih untuk mengabaikan itu semua dia hanya menginginkan sebuah celah untuk bisa lebih dekat dengan Caca
"Gimana?"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, tetapi saya sendiri tidak bisa menjanjikan bahwa hasil kerja saya akan memuaskan hati bapak"
"Oke,"
Daniel pun segera mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet dan memberikan kartu nama tersebut kepada Caca
"Ini kartu nama saya, kamu bisa hubungi saya untuk membicarakan hal yang lainnya"
Dengan berat hati Caca pun menerima kartu nama Daniel dan Daniel pun segera berpamitan untuk kembali ke kantornya, dia hanya harus segera menghindar dari Caca karena terlalu lama menatap Caca membuat dia ingin memeluk tubuh wanita tersebut. Setelah kepergian Daniel Caca pun melihat kartu nama tersebut dan melihat nomor telepon Daniel yang tertera di sana
__ADS_1
"Aku ga butuh ini karena sampai detik ini aku masih mengingat nomor telepon kamu dengan jelas, aktor terbaik yang memainkan peran sebagai seseorang yang jatuh cinta hanya demi sebuah kata dendam." tersenyum getir