
Happy reading gaes.....
.
.
Faizam sangat panik saat melihat Naya yang terus saja merintih kesakitan selama di perjalanan menuju rumah sakit. Sesampai disana ia langsung meminta perawat untuk membawa ke ruang persalinan.
Saat Naya tengah berbaring di brankar, perlahan rasa sakitnya mulai hilang. Ia tak lagi merasa kesakitan dan bahkan sudah tak meringis lagi. Faizan yang melihat hal itu merasa heran.
"Sa,, sayang? Kamu,,,?" Faizan bingung akan mengatakan apa.
"Sakitnya udah hilang, mas." Ucap Naya yang sejujurnya juga heran.
Ceklek.. Seorang dokter wanita paruh baya memasuki ruangan dan tersenyum ke arah keduanya.
"Gimana bu? Apa keluhannya?" Tanya Dokter tersebut dengan ramah.
"Dok, tadi istri saya kesakitan banget. Saya kira udah mau lahiran." Ujar Faizan.
"Iya, dok. Tapi sekarang udah nggak sakit lagi, dok." Sambung Naya dengan wajah bingung.
Dokter pun tersenyum menanggapi penuturan keduanya.
"Coba saya periksa ya, bu." Kata sang dokter yang diangguki oleh Naya.
"Ibu cuma kontraksi palsu. Dan belum mau lahiran. Diperkirakan mungkin dalam minggu ini. Jadi, saya harap bapak agar lebih siaga." Kata Dokter itu lagi.
"Oohh begitu ya, dok." Jawab Faizan.
"Berarti saya boleh pulang kan, dokter?" Tanya Naya. Ia sungguh tidak nyaman berada di rumah sakit. Karena memang ia tak menyukainya.
"Boleh kok, bu." Jawab dokter tersebut.
Faizan pun menghembuskan napas lega mendengar perkataan dokter. Setidaknya ia akan merasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan istrinya.
Dokter pun berlalu meninggalkan keduanya. "Sayang, apa ngga sebaiknya kita disini aja dulu? Udah malam, loh." Kata Faizan setelah melihat jam di dinding ruang rawat tersebu yang menunjukkan pukul 11 malam.
__ADS_1
"Enggak ah, mas. Aku nggak suka disini." Tolak Naya dengan menatap sekeliling ruangan yang baginya terasa aneh.
"Ya udah, deh. Kita pulang sekarang aja." Kata Faizan akhirnya.
Faizan tahu jika Naya tak suka rumah sakit. Karena itu ia tak memaksa agar istrinya mau menginap. Dan mereka pun pulang.
.
.
.
Di sebuah kamar yang pencahayaannya temaram, seorang lelaki dewasa tengah hanyut dengan pikirannya. Ia menatap wanita yang terlelap di dalam pelukannya. Wajah yang teduh itu membuatnya ikut tenang.
Ya, setelah menunaikan kewajibannya, wanita yang tak lain adalah istrinya itu terlelap karena lelah. Gilang lagi-lagi merasa tersentuh karena Laila yang sangat penurut padanya semenjak mereka menikah.
Sejujurnya Gilang merasakan perbedaan yang terjadi pada sikap istrinya sebelum dan setelah menikah. Meski tak begitu banyak yang berubah, namun dengan jelas Gilang merasakan beberapa perbedaan itu. Contohnya saja tadi. Laila langsung menuruti apa yang ia katakan tadi siang. Memberikan hak nya sebagai suami.
Dulu sebelum mereka menikah, Gilang mengenal Laila sebagai gadis yang cukup heboh dan berani. Laila juga cerewet dulunya. Namun, sekarang berbeda. Laila sudah tak banyak bicara. Ia hanya akan bicara jika perlu saja. Dan Laila sudah tak menunjukkan wajah beraninya seperti dulu.
Gilang tersenyum saat mengingat peristiwa yang terjadi di mall dulu. Ia tak menyangka jika akhirnya ia jatuh cinta pada Laila dan benar-benar menikah.
"...... Kayanya itu bagus juga apa yang kamu lakukan kemaren itu. Saya akan pertimbangkan...."
Gilang menatap Laila. Ia mengusap lembut rambut sang istri yang tak tertutup hijab.
"Nggak nyangka sekarang apa yang kamu ucapkan dulu jadi kenyataan. Ternyata kamu memang sudah ditakdirkan Tuhan untukku." Gumam Gilang berbisik.
Ia pun membenarkan posisinya agar dapat tidur dengan nyaman. Setelahnya ia ikut terlelap bersama sang istri.
.
.
Paginya, Laila termenung di dapur. Pikirannya merasa tak tenang dan bimbang. Tadi ia tidak melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan Gilang. Karena, ia baru membangunkan Gilang setelah durinya selesau shalat.
Entahlah. Ia hanya merasa canggung setelah apa yang mereja lakukan semalam. Dan kini Laila merasa kalut. Berbagai hal berkelana di pikirannya. Namun begitu, ia sangat berharap semua pikiran buruknya tak terjadi nantinya.
__ADS_1
"Ekhem.." Deheman tersebut membuyarkan lamunan Laila.
Ia menoleh ke belakang dan mendapati sang suami yang tengah mengambil gelas di atas meja dan menuangkan air putih ke dalamnya.
Ada yang berbeda dengan penampilan Gilang pagi ini. Suaminya itu tak memakai setelan kerja, namun hanya kaos lengan pendek dan celana jeans pendek. Laila merasa heran, namun ia tak berani bertanya.
"Kamu kenapa bengong?" Tanya Gilang.
"Eh, nggak apa-apa, mas." Jawab Laila gugup.
Gilang ber-oh ria. Ia lalu duduk di kursi makan untuk sarapan. Beberapa saat ia menunggu Laila, namun istrinya itu tak menghampirinya. Akhirnya ia mengambil roti dan selai, lalu mengolesnya sendiri tanpa ada piring sebagai alasnya.
Menyadari tak ada reaksi apapun dari istrinya, Gilang pun menoleh ke belakang. Ternyata Laila melamun. Ada apa dengan istrinya? Pagi-pagi sudah bermenung. Ia menatap sebentar wajah Laila yang terlihat murung. Entah mengapa membuat Gilang jadi berpikir negatif pada istrinya.
Ia meneguk air dan meletakkan gelas dengan sedikit hentakan hingga menimbulkan bunyi yang membuat Laila terkejut.
"Kamu menyesal?" Tanya Gilang membuat Naya bingung.
Apa maksud pertanyaan suaminya? Menyesal? Menyesal karena apa?
"Apa kamu menyesal sudah melakukannya semalam?" Tanya Gilang lagi dengan wajah dingin. Ia bangkit dari duduknya. Dan hendak pergi.
"Mas. Enggak gitu, mas. A,, aku.." Laila ingin meluruskan namun lidahnya merasa kelu.
Ia hanya bisa pasrah melihat kepergian suaminya. Karena Gilang sudah pergi keluar dari rumah. Ia ingin sekali mengatakan pada Gilang bahwa apa yang dikatakan suaminya itu tidaklah benar. Meskipun awalnya Laila merasa berat untuk melakukannya. Namun, setidaknya ia telah ikhlas memberikannya pada Gilang.
Lalia memilih untuk pergi ke kamar. Mungkin ia bisa menenangkan pikirannya. Tak ada Bi Eti yang menghiburnya dikarenakan Art nya itu izin pulang kampung untuk beberapa hari. Katanya ada acara keluarga.
Hening. Laila merasa kesepian di rumah sendirian. Meski rumah itu tak terlalu besar, namun baginya cukup membosankan karena ia belum lama tinggal disini. Berbeda dengan kediaman mertuanya. Disana ia akan merasa terhibur karena ada ibu mertua dan Eyang. Bahkan, ada keluarga lain dari suaminya yang sesekali berkunjung.
"Yaa Allah, entah bagaimana kehidupan pernikahanku ke depan. Aku tak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi padaku. Bahkan, untuk menikah dalam waktu secepat ini saja aku tak menyangka. Aku berharap agar penikahan ini dapat bertahan selamanya Yaa Allah. Aku hanya ingin menikah sekali dalam hidupku. Dan aku mencintainya." Ucap Laila penuh harap, berdoa pada Sang Maha Kuasa.
Berserah pada Allah adalah jalan satu-satunya yang harus ia lakukan sekarang. Toh semua sudah diatur oleh Allah dalam kadarnya masing-masing. Ia hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
.