Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
12. perpisahan


__ADS_3

Tak terasa, malam semakin datang membuat dua sejoli itu mengakhiri pertemuan mereka.


"Lid aku anter kamu nih?" tanya Raka agak sedikit ada keraguan, apa lagi kalau mengingat ayah Lidya yang sangat tak suka dengan sosok Raka.


"Anterin aja, aku bakal jelasin ke papa, bencinya dia ke kamu, gak sebesar sayang dia ke aku," Lidya mengeluarkan kalimat yang berhasil membuat Raka menghembuskan nafas lega.


"Ayo naik!"


Namun di sisi lain Lidya tak tau tentang apa yang sudah terjadi di rumahnya akibat perbuatan Lidya.


"Di mana Lidya?" tanya Tari gelisah. Yang merupakan Ibunda Lidya.


"Dia harus pulang sebelum Mas Adi pulang," ucapnya lagi, Tari terus saja gelisah menunggu putrinya yang tak kunjung pulang.


"Iss kak Lidya ini, selalu aja cari masalah!" gerutu Fahri yang ikut cemas.


Semua orang di rumah merasa khawatir karena Lidya yang belum pulang hingga malam datang.


***


Lidya telah sampai tepat di depan rumah, dengan segera Lidya turun dari motor Raka dan melepaskan helmnya.


"Makasih ya," Lidya memberikan helmnya pada Raka.


"Iya,"  sebuah senyuman terukir di wajah Raka, membuat Lidya merasa semakin yakin tentang pilihannya.


"Mau masuk?" Lidya menawarkan tawaran yang akan membawanya pada sebuah kemarahan besar dari sang Ayah.


"Enggak deh, lain kali aja," tolak Raka dengan lembut, meski pun sedikit kecewa tapi Lidya tak ingin memaksa Raka agar mah memasuki rumahnya.


"Ya udah aku masuk ya," ucap Lidya sebelum akhirnya pergi memasuki pekarangan rumah.


Raka menatapi punggung Lidya hingga menghilang ditelan jarak.


"Ini belum waktunya Lid, maaf aku buat kamu kecewa," gumam Raka, sebelum pergi meninggalkan pekarangan rumah Lidya.


Pintu rumah bernuansa putih itu mulai terbuka perlahan, dari ambang pintu muncul seorang gadis dengan seragam lengkap namun tampak sedikit kotor.


Tari yang merupakan Ibunda Lidya langsung berlari kecil menghampiri putri di susul Fahri yang juga mengkhawatirkan Lidya.


"Kamu dari mana aja nak?" tanya Tari khawatir.


"Jalan Ma," jawab Lidya dengan nada pelan, menyesali apa yang ia perbuat sampai  Mamanya khawatir akan keadaan Lidya. "Cepat ganti baju, sebelum Papa  kamu pulang," Tari mengarahkan putrinya agar tidak terkena amukan dari Papanya.


"Iya Ma, maafin Lidya ya," ucap Lidya sebelum akhirnya meninggalkan Tari dan pergi ke kamarnya.


Lidya mulai berjalan menaiki tangga, dan langsung menuju kamarnya, dengan apa yang terjadi hari ini cukup membuat hatinya gelisah dan senang.


"Sekarang, kayaknya harus nyiapin hati, karena pasti Papa marah besar," gumam Lidya.


Lidya berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi.


Setelahnya Lidya langsung turun menemui Mamanya.


"Ma," Lidya datang menghampiri Tari dan duduk tepat disamping kiri Tari.


"Kamu udah siap?" tanya Tari dengan tatapan nanar.


"Mama nangis? Kenapa?" tanya Lidya dengan wajah yang sempat khawatir.


"Papa kamu... Dia tau kalau kamu tadi gak langsung pulang ke rumah."


Lidya langsung terperangah kaget mendengar kalimat yang keluar dari bibir Tari.


"Kok bisa?"


"Ada salah satu pengawal yang  tanpa sengaja melihat kamu sama temen kamu, dan lagi, kamu tadi jalan sama siapa?" Tari menatap Lidya dengan kesungguhan berharap kejujuran dari putri semata wayangnya itu.


"Lidya pergi sama... Sama...."


"Sama siapa Lidya! Jawab Mama!" Tari mulai kehabisan kesabaran.


Lidya semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

__ADS_1


"Dia pergi dengan Raka Dharma Wijaya!" suara bariton itu membuat semuanya cukup kaget.


"Papa?!" ucap Lidya spontan saat melihat Adi sudah ada di ambang pintu bersama dengan beberapa Bodyguard.


"Kenapa? Kamu kaget, Papa tau soal ini?"


Lidya menundukkan kepalanya dalam, tak berani menatap mata Adi yang penuh dengan kilatan amarah.


"Lidya! Ada hubungan apa kamu dengan Raka!" Adi mulai menaikan suaranya.


Namun Lidya hanya diam tanpa suara. "Jawab!" bentak Adi, membut Lidya menjengit kaget.


"Temen pa," jawab Lidya lemah.


"Teman? Apa teman namanya jika kalian peluk-pelukan! Apa teman namanya kalau kalian berpegangan tangan?!"


"Jawab Papa jujur, dan Papa akan meringankan hukuman untukmu!"


Lidya semakin menundukkan kepalanya, "Lidya pacaran sama Raka, Pa," Lidya mengucapkan kalimat dengan sangat pelan namun masih bisa di dengar.


"Apa!?"


"Lidya pacaran sama Raka!" Lidya mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan nafas.


"Baiklah, Katrina! Kamu sudah siapkan surat pindah Lidya?"


mendengar ucapan Papanya Lidya langsung terbelalak tak percaya, Dia akan pindah?


"Sudah pak," jawab wanita yang bernama Katrina itu. "Besok, Non Lidya udah bisa berangkat," sambungnya.


"Apa? Lidya pindah? Kemana pa?"


Lalu Adi memberi kode pada para Bodyguard untuk menahan Lidya.  Sementara Lidya terus meronta-ronta agar dilepaskan oleh para pria bertubuh tegap yang berdiri di dua sisi.


"Sebenarnya Lidya ini anak Papa atau anak pungut sih?!"


Adi terkejut mendengar perkataan putri semata wayangnya itu.


"Lidya!"


"Apa salah Lidya pa? Lidya udah nuruti Papa buat gak nulis lagi, Lidya masuk jurusan IPA kayak apa yang Papa mau, Lidya selalu nuruti kemauan Papa, tapi kenapa? Papa gak pernah sekali kasih Lidya kebebasan untuk memilih jalan hidup Lidya sendiri pa? Kenapa?!" Lidya kembali melanjutkan kalimatnya dengan air mata yang terus mengalir di pualam pipinya.


Adi bungkam, diam mematung dipijakannya.


"Ini yang Papa gak suka kalau kamu berteman sama mereka! Kamu jadi pembangkang!" teriak Adi tak mau mengalah.


"Jangan bawa nama mereka! Mereka gak salah! Tapi Papa yang salah!" Lidya membalas ucapan Adi dengan berani.


"Kamu-" Adi mengangkat tangannya hendak menampar Lidya.


"Mas!" teriak Tari membuat Adi menghentikan tindakannya.


Lidya hanya bisa tersenyum miris melihat tindakan Papanya.


"Kenapa? Kok berenti pa?"


"Lidya cukup! Sekarang kalian bawa Lidya ke kamarnya!" pinta Tari pada dua pria yang sedari tadi mencekal tangan Lidya.


"Lidya!" seru Adi membuat langkah Lidya terhenti.


"Papa, melakukan ini untuk kebaikan kamu, tidak lebih."


"Kebaikan yang seperti apa?" Menuturkan jawabannya dengan senyuman miris.


"Untuk saat ini kamu belum paham tentang apa yang akan terjadi di masa depan nanti, Saat kamu masih bersamanya, Papa nggak mau hidupkan kamu hancur karena dia," Adi mulai memberi penjelasan kepada putri semata wayangnya itu.


"Dari mana Papa tahu kalau misalnya Lidya  terus sama Raka, kehidupan Lidya bakalan hancur? Papa bisa baca masa depan?" Lidya mengucapkan kalimat itu dengan nada meremehkan. "Yang ada kalau papa terus giniin Lidya hidup Lidya bakalan hancur karena papa!" sambung Lidya.


Satu kali bentakan dari bibir Adi terucap dan membuat seisi rumah semakin mencekam.


"Cepat! Bawa Lidya masuk ke kamarnya!" pinta Tari. Ia tak mau keadaan semakin buruk karena Lidya yang terus membuat Adi jengkel.


"Katrina, sekarang juga saya mau kamu hubungi anak itu! Suruh dia kemari, aku punya kejutan untuknya!"

__ADS_1


"Baik pak."


Dari luar Lidya masih dapat mendengar jelas suara riuh pertengkaran Mama dan Papanya. Ini semua karena dirinya! Lidya berjalan mendekati almari berwarna putih mengambil sebuah buku bersampul polos berwarna biru muda.


Setelahnya Lidya kembali duduk di tepi kasur dan membuka buku itu pada halaman pertama, membaca tiap kata, yang membuat hatinya semakin tersakiti, di halaman terakhir terdapat foto Raka, Ayu dan dirinya, lalu foto keluarganya.


Lidya membelai semua foto itu, dengan air mata yang terus menetes, deretan air mata semakin deras saat Lidya kembali mengingat masa-masa indah saat bersama Raka, Ayu, dan keluarganya.


Masa-masa yang tak akan  pernah terlupakan. Setelah puas menatapi foto itu perlahan Lidya menutup buku bersampul polos itu dan meletakkan buku itu di dalam koper, air mata Lidya terus menetes selama Lidya memasukan baju kedalam koper.


Setelahnya Lidya berjalan dengan langkah gontai menuju boneka panda yang ada di meja belajarnya.


Memeluk erat boneka itu. "Aku... Hiks... Pasti bakalan rindu kamu?" Lidya masih memeluk boneka itu, dan hanyut dalam kesedihan.


Tok... Tok... Tok....


Suara ketukan pintu membuat kesedihan  Lidya  buyar dalam waktu sekejap.


Pandangan Lidya tertuju pada pintu bernuansa putih yang tertutup rapat.


Lidya merasa kesal. Padahal pintu itu dikunci dari luar lalu kenapa mereka mengetuk pintu, masuk ya tinggal masuk.


Sesaat kemudian perlahan pintu terbuka, Lidya terkejut melihat Raka berdiri tepat diambang pintu.


"Raka!" Lidya langsung berlari dan menghambur kedalam pelukan sang kekasih.


"Kamu kenapa?" tanya Raka mengatupkan tangannya di wajah Lidya.


"Papa..." Lidya terbelalak sebelum akhirnya tersadar sepenuhnya. "Kamu kok ada disini?" tanya Lidya kaget, sangat kaget.


"Karena katanya ada hal penting yang mau kamu bilang ke aku, apa?" Raka juga ikut bingung akan situasi ini.


"Aku gak ada ngabarin kamu, bahkan handphone aku gak sama aku."


"Terus siapa?"


"Saya!" suara bariton yang sangat familiar itu kembali membuat Lidya terkejut.


"Papa?"


"Om Adi?"


"Saya manggil kamu, karena putri kesayangan saya ini akan menyampaikan suatu gak kepada kamu!" Adi tersenyum sinis menatap manik mata Raka yang mulai penasaran.


"Apa?" Raka bertanya pada Lidya penuh kekhawatiran.


"Gak ada," jawab Lidya jujur.


"Kamu jujur sama aku," Raka meremas tangan Lidya lembut dan menatap manik Lidya yang mulai tergenang oleh air mata.


"Anak saya, Lidya. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan kamu!"  ucapan Adi langsung membuat Lidya dan Raka terbelalak.


Lidya pun tak kalah terkejutnya mendengar perkataan Adi.


Namun Raka tak percaya, Raka masih berharap jika semua yang di ucapkan oleh Adi Setya hanya sebuah kebohongan.


Namun saat melihat Lidya yang memiliki membenamkan kepalanya dalam. Entah apa yang membuat gadis itu tertunduk, rasanya tak ada gunanya lagi Lidya membela. Hal ini tentu saja membuat Raka merasa sangat kecewa.


"Kalau kamu memang gak cinta sama aku lagi kenapa kamu terima aku!"


"Kalau kamu mau membalas semuanya, kenalan dengan cara ini?"


"Sudahlah! Anak saya tidak pantas untuk, kamu tau Raka Dharma Wijaya, kenapa saya tidak mau anak saya dekat dengan kamu, karena kamu akan merusak kehidupan anak saya, kamu akan membuat dia seperti menjadi seperti keluarga Wijaya yang penghianat!"


"Tuan Adi Setya! Bukankah yang penghianat itu anda dan putri anda?! Tolong jangan memutar fakta! Itu tak akan baik." Raka tak ingin kalah, ia tak tahan terus dihina oleh Adi.


"Heh kamu tau apa? Kamu tak lebih dari salah satu di antara pemuda Indonesia yang hanya akan mengandalkan orang tua!"


"Apa? Anda tidak salah bicara? Anda yakin anak anda tidak ada sebagai salah satu pemuda itu? Kita lihat saja nanti!" Raka tersenyum sinis. "Saya berjanji dihadapan anda tuan Adi Setya!  Di hadapan cinta saya yang berkhianat!" Raka menunjuk Lidya yang tertunduk diam. Dengan penuh amarah. "Dengan bangunan ini sebagai saksi! Dan Allah sebagai penentu utama. Saya berjanji akan  membuat kesombongan anda turun di hadapan seluruh Indonesia, saya akan menikahi putri kesayangan anda! Yang anda yakini hidupnya akan hancur jika ia tetap bersama saya! Ya. Saya akan menikahi putri anda! Tapi tidak untuk mencintainya, melainkan untuk membuatnya menderita! Seperti ucapan anda! Saya akan buat anda memohon untuk segalanya! Ini janji saya! janji dari Raka Dharma Wijaya, saya akan ingat hari ini, selalu!  silahkan anda lari, jika anda takut akan takdir!"


Raka menatap Adi dengan penuh amarah, Raka tak pernah menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Dengan langkah jenjang Raka pergi meninggalkan kamar Lidya dan menutup pintu dengan kasar.


"Dasar anak tak tau sopan santun!" cerca Adi.

__ADS_1


Melihat semua ini, Lidya hanya bisa diam, tak bisa menyangkal, tinggal menunggu hari dimana Raka akan berubah seperti Singa yang penuh dendam.


Cinta dan benci adalah rasa yang sulit di pahami, jika terlalu membenci dapat menimbulkan cinta, jika terlalu cinta dapat menimbulkan benci.


__ADS_2