Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Perempuan Terpenting


__ADS_3

Sebagian para pria tersebut tetap memegang tubuh Caca dan sebagian lagi mulai bersiap membuka pakaian mereka, mereka semua tertawa lepas melihat Caca yang sudah menunjukkan wajah penuh ketakutan dan meneteskan air mata. Salah satu pria yang sudah dalam keadaan polos pun mulai naik ke atas tempat tidur dan berada tepat di atas tubuh Caca bertumpu dengan kedua tangannya


"Sebaiknya kamu menikmati pelayanan yang akan saya berikan," ucap pria tersebut sambil tersenyum jahat


"Tolong lepasin saya, saya janji saya akan memberikan apapun yang kalian inginkan." ucap Caca lirih


"Yang saya mau saat ini cuma menikmati kamu"


Caca berusaha meronta sekuat tenaga dan tetap saja hasilnya hanyalah sia-sia, pria tersebut mulai membuka kancing pakaian Caca dan saat kancing kedua akan di buka tiba-tiba saja ada banyak sekali pria berpakaian rapi menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut. Sontak saja membuat semua orang yang berada di tempat itu menjadi terkejut


Dan sudah pasti Daniel pun berada di antara mereka semua, Daniel yang melihat apa yang ingin mereka lakukan terhadap Caca pun tak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan sedikit berlari dia pun langsung menarik paksa orang yang berada di atas tubuh Caca, dengan secara membabi buta dia pun memukuli pria tersebut


"Bajingan!! perempuan itu adalah perempuan terpenting bagi saya!! nyali kalian terlalu besar berani berbuat seperti itu kepada perempuan itu!!"


FLASH BACK


Daniel pun sedikit berlari dan menghampiri para pengawal yang bertugas menjaga Caca


"Gimana?"


"Sepertinya perempuan ini adalah ibu Caca pak," menunjuk ke arah rekaman cctv yang menunjukkan Caca keluar dari kamar mandi sambil menyamar


"Kenapa dia sampai berbuat sejauh itu? pasti ada alasan yang membuat dia seperti itu." bathin Daniel


"Terus kemana perempuan itu saat ini?"


Para pengawal kembali menunjukkan rekaman di mana Caca naik ke atas sebuah mobil yang sudah terparkir, Daniel pun sudah memasang wajah khawatir dan tiba-tiba saja


"Sudah ketemu pak," ucap salah seorang pria yang duduk di depan laptop nya


Semua mata pun langsung tertuju ke arah pria tersebut


"Saya sudah menemukan posisi ponsel ibu Caca saat ini pak, sepertinya ibu Caca memang sengaja menghidupkan ponselnya agar kita bisa melacak keberadaan dirinya"


Pemimpin para pengawal tersebut hanya menganggukkan sedikit kepalanya, dia teringat bahwa di saat sebelumnya dia sudah pernah mengajarkan Caca hal tersebut

__ADS_1


"Kamu harus bertahan Ca, aku ga izinkan ada hal buruk menimpa kamu" bathin Daniel


Daniel dan para pengawal segera bergegas ke arah lokasi terakhir ponsel Caca berada, ternyata saat Caca mulai masuk ke dalam mobil Caca menyelipkan ponselnya ke sela bangku mobil dan membuat keadaan ponselnya tak bersuara atau pun bergetar. Dugaan para pengawal tersebut benar adanya, Caca hanya berharap Daniel akan segera mencari keberadaan dirinya setelah menyadari dirinya tak berada di sana


"Kamu yakin ini tempatnya?"


"Benar pak"


"Bergerak secepatnya, saya ga mau sesuatu yang buruk menimpa Caca." ucap Daniel penuh penekanan


Dan bukan hal yang sulit bagi para pengawal Daniel untuk melumpuhkan orang-orang yang berada di tempat itu, bahkan sang bos besar pun sudah bersimpuh di atas lantai dengan banyak lebam di wajahnya


FLASH OFF


Pria yang sedang menerima pukulan dari Daniel sudah terkulai lemas di atas lantai, tetapi hal tersebut tetap tak membuat surut amarah Daniel. Dan semua orang yang berada di tempat itu hanya bisa menjadi penonton yang setia, para pengawal hanya bisa diam karena mereka mengerti seberapa penting Caca bagi seorang Daniel. Sedangkan pihak lain hanya bisa terdiam di liputi rasa takut


Caca pun mulai turun dari atas tempat tidur dan memeluk tubuh Daniel dengan sangat erat dari belakang, hanya itu yang bisa terfikir oleh Caca untuk menghentikan aksi Daniel pada saat itu


"Tolong selamatkan Ical dan orang tua aku kak," dengan suara yang bergetar


"Kenapa kamu berbuat sejauh ini Ca? kamu ga tau setakut apa aku tadi saat memikirkan semua kemungkinan buruk yang bisa menimpa kamu, kamu benar-benar keterlaluan Ca"


Tubuh Daniel bergetar dengan sangat hebat dan Caca pun bisa merasakan bahwa saat itu Daniel di liputi rasa takut yang amat besar


"Maafin aku ya kak, aku tadi cuma takut Ical kenapa-napa"


Daniel pun mulai melepaskan pelukannya dan saat itu kedua bola mata Daniel sudah berubah menjadi merah menahan air mata


"Maaf ya kak," ucap Caca dengan lirih


Daniel pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menatap ke arah para pengawal yang berada di sana


"Bagaimana?" tanya Daniel


"Kami sudah mengamankan kedua orang tua ibu Caca dan anaknya pak," dengan sopan

__ADS_1


Daniel pun mulai menatap ke arah Caca dengan tajam


"Apa sekarang kamu sudah senang?"


Caca hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, tatapan mata Daniel membuat Caca benar-benar merasa tertekan. Daniel pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Caca begitu saja, melihat hal tersebut Caca pun langsung berlari dan memeluk tubuh Daniel dari belakang dengan sangat erat


"Aku minta maaf ya kak, tolong jangan marah lagi sama aku. Waktu itu aku cuma berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan Ical kak, dan aku juga yakin kamu pasti datang menyelamatkan kami"


Entah menghilang ke mana rasa jengkel yang Daniel rasakan pada saat itu, dia pun mulai memutar tubuhnya dan baru menyadari bahwa wajah Caca saat itu sudah bersemu merah dan terlihat sedikit aneh


"Kamu kenapa? apa mereka melakukan sesuatu ke kamu?"


Caca pun mendekatkan bibirnya ke telinga Daniel


"Tadi mereka paksa aku minum obat kak, sepertinya itu obat ga jelas dan sekarang aku lagi sekuat mungkin menahan perasaan aneh ini kak"


Daniel hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna dan langsung menatap serius ke arah para pengawal yang masih setia berada di sana


"Urus mereka semua dengan baik, saya mau sebuah nama dengan jelas. Lalu antar kedua orang tua Caca dan anaknya dengan selamat"


"Baik pak"


Daniel langsung membawa Caca keluar dari tempat itu, dan saat berada di dalam mobilnya Daniel pun segera menghubungi dokter Harun


"Ya bos"


"Datang ke apartemen gw sekarang juga dan bawa obat untuk menetralkan obat-obatan yang ga jelas"


Dokter Harun pun hanya bisa terdiam karena merasa sedikit bingung dengan ucapan Daniel saat itu


"Lu dengar ga omongan gw?" tanya Daniel dengan sedikit berteriak


"Ya gw dengar kok, tapi lu juga harus ngomong yang jelas. Maksud lu obat-obatan apa?"


Daniel melirik sekilas ke arah Caca yang saat itu sudah mulai terpengaruh oleh obat yang dia konsumsi

__ADS_1


"Obat perangsang," ucap Daniel dengan suara pelan


__ADS_2