Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 24


__ADS_3

Bu Anne dengan antusias menggiring sang menantu mengelilingi mall besar itu. Mereka memasuki butik berisi gamis dan gaun rumahan muslimah. Laila menurut saja apa yang dilakukan sang ibu mertua. Meski sebenarnya moodnya kurang bagus, karena lagi-lagi Gilang merusaknya.


Laila menjadi berpikir, mungkin memang sudah diaturkan bahwa suaminya akan membuat kesabaran dan perasaannya diuji dalam pernikahan ini. Dilihat dari bagaimana setiap harinya sikap Gilang. Itu sudah membuat Laila kembali tersadar bahwa pernikahan mereka memang tak baik-baik saja.


Yaa Allah,, apa pernikahanku akan seperti pernikahan mbak Naya? Atau apa mungkin akan lebih buruk dari itu?


Laila terus saja berpikir dan bertanya-tanya dalam hatinya. Karena memang perasaannya tidak tenang.


"La,, sayang. Kenapa sih kamu melamun gitu? Ada apa? Kamu sakit?" Tanya Bu Anne merasa ada yang janggal dengan menantunya.


"Enggak kok, mah. Ila nggak apa-apa, kok." Jawab Laila.


Bu Anne menatapnya dengan lekat. Ia tak semudah itu percaya dengan jawaban sang menantu yang selalu berkata baik-baik saja. Seperti halnya Laila selalu mengatakan hubungannya dengan Gilang baik-baik saja. Padahal kenyataannya, Bu Anne sendiri tahu kalau Gilang tidak bersikap baik pada istrinya itu.


Kamu terlalu baik untuk anak mama, sayang.. Bodoh itu anak, kalau sampai dia benar-benar nyia-nyiain kamu..


Bu Anne menghela napas berat, menyayangkan sikap putranya yang salah itu. Ia benar-benar berharap Gilang sadar betapa berharganya Laila, dan menyadari bahwa Ia tak boleh menyia-nyiakan wanita baik ini.


.


.


Gilang mengangkat telepon genggamnya yang berbunyi.


"Ya, Rom."


"..........."


"Iya, kamu tolong pesan tiket buat besok pagi. Saya akan berangkat lagi kesana."


"..........."


"Oke. Kamu handle dulu ya, disana." Titahnya.

__ADS_1


Setelah obrolan mereka berakhir, Gilang kembali menyimpan ponselnya. Ia teringat untuk menelepon seseorang.


"Halo, bagaimana?"


"Aman, pak. Saya masih mengikuti ibu."


"Bagus. Kamu awasi terus, dan laporkan ke saya."


"Baik, pak. Nanti saya kabari lagi."


"Oke..."


Gilang kembali menutup panggilan. Ia bisa bernapas lega saat tahu apa yang dilakukan istrinya, dan bagaimana keadaan sang istri.


Ia sendiri bingung dengan dirinya. Di satu sisi ia tak mau kehilangan Laila. Namun, di sisi lain ia juga masih enggan untuk mengakui perasaannya dan menunjukkan sikap baik perhatiannya pada wanita itu.


"Laila,, Laila. Maaf kalau aku harus bersikap seperti ini sekarang. Tunggu sampai waktunya tepat. Baru aku akan membuat rumah tangga kita senyaman mungkin bagi kamu dan aku." Gumamnya menatap jalanan ibukota dari jendela kaca.


Rasanya ingin sekali Gilang merasakan bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang lain. Pernikahan yang normal, baik-baik saja. Selalu bersikap manis pada sang istri, mendapatkan layanan yang baik juga baginya sebagai seorang suami.


Tapi, percayalah. Saat Laila tersinggung oleh sikap dan perkataannya, ia merasa sakit. Saat Laila menangis karena dirinya, ia akan merutuki dirinya sendiri.


Begitulah yang Gilang rasakan. Apalagi saat Laila bisa bahagia dengan lelaki lain, ia sangat marah. Bahkan, sekarang ia tak akan merasa tenang jika Laila sudah didekati oleh Delon. Ya, lelaki yang ia tahu sangat memuja istrinya sejak dulu. Lelaki itu mampu membuat Gilang tak bisa tidur karena memikirkan kedekatan keduanya.


.


.


Krekk,, Seorang wanita cantik namun berdandan menor duduk menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang ada di coffee shop tersebut. Temannya yang sudah lebih dulu berada disana menatapnya sinis, tak nyaman dengan sikapnya yang terkesan kasar.


"Kenapa sih, lo? Datang-datang ngamuk." Ujar wanita itu.


"Gimana nggak kesal coba. Gue tuh baru tau kalau si Delon yang Casanova itu ternyata suka sama adik ipar lo itu, Net." Si wanita sewot itu semakin kesal.

__ADS_1


"Hah? Maksud lo si Laila? Delon idaman sekolah itu suka sama si pelayan kafe rendahan itu? What?" Neta terlihat mendengus.


"Iya,, apa lebihnya coba si cewek rendahan itu. Bikin gue tambah gedeg aja." Wanita yang tak lain adalah Mayang, terus bersungut-sungut.


"Pokoknya gue harus bisa ngedapetin Gilang lagi, gimana pun caranya. Enak banget dia ngerasa menang karena udah dapat Gilang. Sampai kapan pun Gilang itu punya gue." Dumel Mayang.


Entah mengapa Neta malah merasa tidak suka dengan sikap Mayang kali ini. Melihat tekadnya yang begitu kuat merebut Adik sepupunya dari istrinya, membuat Neta merasa tak nyaman.


Sejujurnya, Neta hanya terhasut oleh Mayang yang notabennya adalah sahabatnya. Mereka berteman cukup lama. Dan Mayang sangat terobsesi pada Gilang. Awalnya Neta mendukung Mayang untuk menyatakan cinta pada Gilang. Namun, melihat sikap Mayang yang tak disukai oleh adik sepupunya, sempat membuat Neta berpikir untuk tak lagi membantu Mayang mempertahankan hubungan mereka yang sempat hampir kandas bahkan setelah Gilang benar-benar memutuskannya..


Namun, Mayang terus saja membujuknya dan menghasut dirinya untuk terus membantu mendekatkan Mayang pada Gilang. Bahkan, dengan tak tau malunya Mayang menangis ingin membatalkan pernikahan Gilang dengan Laila. Untung saja, ia bisa menahan Mayang kala itu.


"Eh, May. Gue kok jadi penasaran ya sama itu cewek." Ucap Neta membuat Kening Mayang berkerut.


"Maksud lo apa?" Tanya Mayang merasa was-was.


"Ya, gue jadi pengen tau aja sebenarnya si Laila itu baik apa enggak. Dan kenapa Gilang mau nikahin dia. Nggak mungkin kan Gilang asal-asalan milih cewek." Perkataan Neta sukses membuat Mayang jengkel.


"Jangan bilang lo mulai care sama itu cewek murahan. Wah, gue bener-bener nggak mau ya Net, kalau lo jadi pro ke dia." Mayang berucap tak terima.


"Ya, tergantung sih, May. Kalau dia baik dan Gilang emang bahagia sama dia, gue bisa apa. Jalan satu-satunya gue bakal ikut merestui hubungan adik sepupu gue." Ucapnya dengan ekspresi wajah yang bagi Mayang sangat menyebalkan.


Lo sih, jadi cewek agresif banget. Matre juga. Mana betah Gilang sama cewek kayak lo. Yang tentunya hanya diucapkan Neta di dalam hati.


Sementara itu, Mayang kini hanyut dengan pikirannya sendiri. Mengabaikan Neta yang juga diam. Jujur saja, Mayang takut jika Neta benar-benar tak lagi mempedulikan dirinya untuk bisa kembali bersama Gilang. Ia sungguh tak ingin melepaskan lelaki itu. Baginya Gilang adalah sosok lelaki sempurna dan menjadi idamannya.


Gilang adalah idaman banyak wanita di luar sana. Dengan wajah yang tampan, keluarga yang tajir, semua wanita pasti menginginkan menjadi pendamping hidup lelaki itu. Dan Mayang tak ingin melewatkan kesempatan itu. Selagi ia bisa mengejar Gilang, maka akan ia lakukan. Meskipun harus membuat Gilamg berpisah dari istrinya.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


.


__ADS_2