
.
.
"Gilang?" Ucap Faizan tanpa sadar saat ia melewati taman tengah kota.
Faizan yang melewati area taman merasa heran mengapa sahabatnya berada di sana malam-malam sendirian. Tak kan menjadi sebuah kebingungan bagi Faizan jika saja Gilang disana bersama istrinya, Laila. Namun, kini ia hanya melihat sahabatnya sendiri disana.
Ia pun menepikan mobilnya dan berhenti di belakang mobil sahabatnya itu. Segera saja ia turun tanpa berpikir lama.
Saat turun dari mobil, Faizan menatap datar Gilang yang juga menatap ke arahnya. Ternyata sahabatnya itu menyadari kedatangan dirinya.
"Lo ngapain disini sendirian malam-malam?" Tanya Faizan tanpa basa-basi.
Gilang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia yakin jika Sahabatnya ini tahu sebab apa dirinya berada disini, maka Faizan akan langsung menceramahinya.
"Gue lagi cari angin." Jawabnya asal.
"Cari angin? Mau masuk angin, lo?" Pungkas Faizan dengan nada mengejek di akhir.
Gilang mendelik malas. "Lo ngapain kesini?" Tanya balik Gilang.
"Ya, gue kesini karena ngelihat lo disini. Makanya gue samperin." Jawab Faizan. "Kalau dilihat dari muka lo yang menyedihkan, gue rasa lo lagi galau gara-gara Laila, kan!" Ucap Gilang memainkan alisnya. Sahabatnya itu sudah berada di depannya sekarang.
Faizan duduk di sebelah Gilang. Terdengar helaan napas dari mulut lelaki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu.
"Kalau memang alasan lo ada disini sekarang adalah Laila, gue saranin lo mendingan pulang deh. Kalau kalian ada masalah, selesaikan dengan cara baik-baik, Lang. Sebagai suami lo harus bisa berpikir tenang menghadapi masalah." Ucapnya pancang memberikan wejangan untuk sahabatnya tersebut.
"Jangan seperti gue, Lang." Faizan kembali menhela napas.
"Sebagai sahabat, gue nggak mau lo melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang pernah gue perbuat. Makanya gue nggak berhenti ingetin lo. Supaya lo nggak menyesal seperti apa yang pernah gue alamin." Jelas Faizan lagi.
Terlihat wajah Gilang berubah pasrah setelah wejangan dari Faizan berakhir. Ia tak munafik, karena memang yang dikatakan sahabatnya itu benar.
Faizan menepuk pelan pundaknya membuat Gilang menatap sahabatnya itu.
"Sekarang pulang. Dia pasti nungguin lo. Karena, gue dengar lo tadi sempat demam, kan. Pasti dia cemas banget sekarang Kasihan dia, kan." Tutur Faizan lagi.
Gilang menghela napas panjang. Lalu ia mengangguk. Setelahnya mereka bangkit dan pulang.
.
.
Gilang memarkir mobilnya di garasi. Lagi dan lagi ia menghela napas berat. Entah mengapa ia merasa begitu banyak hal yang membuat pikirannya merasa terbebani. Hidupnya benar-benar jauh berubah. Sebelumnya hanya ada kesibikan akan pekerjaan yang menjadi buah pikirnya. Namun, kini rasanya pikirannya dipenuhi dengan berbagai hal. Terutama mengenai perasaan.
Ia sadar bahwa Laila kini juga berada dalam pikirannya. Gadis itu benar-benar telah berhasil membuatnya menjadi tak tenang seperti sekarang.
__ADS_1
Ceklek. Gilang mendorong pintu hingga terbuka. Ia langsung berjalan hendak menuju ke kamarnya. Ya, Gilang lewat pintu penghubung garasi dan ruang tengah. Namun, satu hal yang ia sadari. Lampu ruang tamu masih menyala. Ia pun melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 11 malam.
Dengan wajah heran Gilang berjalan ke ruang tamu. Niatnya yang hendak mematikan lampu teralihkan karena melihat seseorang tidur dengan posisi duduk di sofa yang menghadap ke pintu utama.
"Laila?" Gumamnya.
"Ngapain dia disini?" Tanya Gilang berbisik.
Ia hendak membangunkan sang istri, namun suara dari ponsel dan gerak istrinya membuat Gilang menghentikan niatnya. Ia pun mundur dan melihat saja istrinya yang perlahan terbangun. Ia mengernyit saat melihat jemari istrinya yang menyentuh layar ponsel. Dapat Gilang lihat layar ponsel yang menampilkan alarm. Untuk apa istrinya mengaktifkan alaran di jam sekarang.
"Ya ampun. Udah setengah sebelas?" Ucap Laila tak menyangka.
"Ekhemm..." Gilang berdehem dengan sengaja membuat Laila sedikit terkejut.
"Mas?" Ucapnya spontan.
"Mas Gilang udah pulang? Mas Gilang tadi kemana? Mas baik-baik aja, kan?" Tanya Laila terlihat cemas.
"Saya nggak apa-apa." Jawabnya singkat.
Laila bernapas lega. Terlihat wajahnya yang sudah kembali normal tanpa ada lagi rasa cemas.
"Sebaiknya kamu tidur sekarang ke kamar." Serunya yang kemudian berbalik dan berjapan ke arah kamar mereka.
"I,, iya, mas." Jawab Laila.
Sesampai di kamar, Gilang langsung ke kamar mandi. Laila yang melihat hal itu memilih duduk di tempat tidur. Tak lama suaminya itu keluar dengan wajah basah.
Gilang mengeringkan wajahnua dengan handuk kecil yang tergantung di dinding dekat ruang ganti. Laila terus menatapnya namun Gilang berusaha mengabaikan tatapan istrinya itu.
"Mas!" Sahut Laila membuat Gilang menoleh.
"Aku,,," Laila menelan salivanya susah payah.
"Apa?" Tanya Gilang heran.
"Ayo kita coba!" Ucapnya membuat Gilang mengernyitkan dahinya.
Mereka terdiam sebentar. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kamu yakin?" Tanya Gilang saat telah mengerti kemana arah ucapan istrinya.
Laila menatapnya ragu. Namun, sesaat kemudian istrinya itu mengangguk.
Gilang menghela napas. Sebenarnya ia tak ingin memaksa Laila untuk melakukan hal itu. Ia tak ingin membuat wanita yang dicintainya itu merasa terpaksa dan tak ikhlas melakukannya. Karena itu, ia benar-benar memastikan dulu.
Perlahan Gilang mendekati sang istri. Duduk di depan istrinya itu dan menyentuh pundak Laila. Ada raut kekhawatiran di wajahnya.
__ADS_1
"Saya hanya ingin melakukannya saat kamu benar-benar siap. Dan saya nggak mau kamu terpaksa." Ucapnya.
Laila hanya diam. Namun, saat Gilang bangkit dan akan beranjak, ia langsung menahan langkah lelaki itu dengan memegang lengan Gilang.
"Aku nggak terpaksa, mas. Lagipula ini hak Mas Gilang sebagai suami aku dan sudah kewajiban aku memberikannya." Kata Laila mantap.
Gilang menatap lekat wanita pemilik hatinya. Meski sebenarnya ia bimbang, namun ia juga ingin. Setelah istrinya dengan sukarela mau melakukannya, lantas mengapa ia harus menolak? Ia tak memungkiri hal itu.
.
.
Di kediamannya, Naya tengah membuat smoothies kesukaannya. Lalu, Faizan memasuki rumah dengan menenteng kantong kresek berwarna putih. Ia dengan wajah senang memberikannya pada sang istri.
"Sayang.. " Sahutnya.
"Aku udah dapat pukisnya seperti yang kamu mau." Ucap Faizan menyodorkannya pada Naya saat ia sudsh berada du dekat istrinya itu.
"Wah,,, makasih ya, mas." Ucap Naya senang.
"Kamu bikin smoothies?" Tanya Faizan yang lebih tepatnya seperti pernyataan.
"Iya, mas." Jawab Naya. Namun tiba-tiba wajah Naya berubah. Sepertinya ia merasa kesakitan.
Faizan yang melihatnya merasa cemas. Ia memegang lengan sang istri dan menatapnya sembari bertanya.
"Sakit, mas." Ucap Naya memegang perutnya.
"Sakit? Apa yang sakit, sayang?" Tanya Faizan panik.
"Perut aku, mas. Aaarrghh,,, mas. Sakiiiit.." Naya sudah mulai menjerit tertahan.
"Aduh, sayang. Jangan-jangan kamu udah mau lahiran?" Terka Faizan panik.
Sementara Naya terus saja merintih kesakitan sembari mencengkeran lengan suaminya.
Ia sangat kesakitan hingga menghempas begitu saja bungkusan Pukis tadi ke atas meja.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Putus Faizan dan langsung membawa Naya ke luar.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.