Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Penyelamat


__ADS_3

Cukup lama keluarga Perkasa menunggu jawaban dari Caca tetapi Caca tetap dengan posisi sama, hatinya benar-benar tak berani mengambil keputusan karena semua pilihan yang ada tak akan sanggup untuk dia jalani


"Apa kami harus menunggu jawaban kamu sampai besok?" dengan nada suara yang terdengar sinis


Caca pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap ke arah orang-orang yang berada di hadapannya, dan orang tersebut mulai mengeluarkan sebuah buku cek dari dalam sakunya


"Berapa yang kamu minta?"


"Bagaimana kalau saya memilih untuk pergi dan menghilang selama nya dari hadapan Tuan Daniel Putra Perkasa tanpa meminta apapun dari kalian, tapi dengan catatan saya membawa anak saya"


Orang yang sudah hampir menuliskan sesuatu di buku cek tersebut langsung berhenti dan menatap tajam ke arah Caca


"Apa kamu mau bermain-main dengan kami?"


"Saya akan lakukan apapun yang kalian minta, tapi tolong jangan pisahkan saya dengan anak saya"


Terlihat senyuman sinis dari wajah orang tersebut


"Apa kamu pikir kami bodoh? dengan anak itu ada bersama kamu maka kamu bisa mendapatkan Daniel dengan mudah, apa kamu pikir kamu pantas menjadi anggota keluarga Perkasa?"


"Saya tau kamu sudah melahirkan anak Daniel, dan saya bisa memberikan apapun yang kamu kalau kamu pergi dan menyerahkan anak tersebut. Karena kamu ga pantas untuk Daniel hanya perempuan seperti Vivian yang pantas untuk Daniel." dengan tegas


Caca benar-benar tak bisa berpikir dan melakukan apapun pada saat itu, serasa seluruh tenaga yang dia miliki menghilang entah ke mana


Dan tiba-tiba saja seseorang yang di kenal baik oleh kedua belah pihak pun berada di antara mereka semua, dan orang tersebut mendudukkan tubuhnya tepat di samping Caca sambil tersenyum ke arah Caca


"Kamu lagi ngapain di sini? kok kamu duduk sendirian di sebelah sini kayak lagi di sidang sama mereka?"


Orang tersebut adalah Rico sang pembuat masalah, saat itu Caca benar-benar merasa bersyukur melihat kehadiran si pembuat masalah di tempat itu. Caca merasa Rico seperti seorang penyelamat dalam hidupnya, sedangkan anggota keluarga Perkasa yang lain langsung memasang wajah malas menatap ke arah Rico


"Hei.." Rico melambaikan tangannya di hadapan Caca


"Itu aku..."


"Apa anak kamu sudah keluar dari rumah sakit?"

__ADS_1


Caca menjawab dengan gelengan kepalanya, dan Rico pun menepuk jidat nya dengan pelan


"Terus ngapain kamu ada di sini? kamu ga boleh tinggalin anak kamu yang lagi sakit"


"Ya soalnya mereka..." menatap ke arah keluarga Perkasa


Rico pun langsung menatap ke arah keluarga besarnya termasuk sang mama yang berada di antara mereka


"Kamu apa-apaan sih Rico? kami lagi bicara serius sama perempuan ini." sang mama menatap tajam


Rico hanya menjawab dengan senyuman tipis lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Caca


"Apa kamu mau aku bantu?" berbisik


Caca pun menjawab dengan anggukkan kepalanya, dan tiba-tiba saja Rico memberikan sebuah kunci mobil kepada Caca. Sedangkan Caca hanya bisa terdiam karena merasa bingung


"Sekarang kamu pergi dari sini dan tunggu aku di mobil," tersenyum tipis


Caca yang merasa semakin bingung pun menatap ke arah orang-orang yang ada di hadapannya, Rico yang mengerti perasaan Caca saat itu langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Caca agar ikut bangkit


Sang mama pun merasa marah bercampur malu atas perbuatan anaknya di hadapan keluarga besar nya


"Rico jangan berbuat hal yang tidak sopan!! apa kamu ga lihat di sini banyak orang yang lebih tua dari kamu!!"


Rico tak memperdulikan ucapan sang mama dan kembali mendorong tubuh Caca, Caca pun segera keluar dari tempat itu dan menuju ke tempat parkir lalu mencari keberadaan mobil Rico. Setelah melihat Caca sedikit jauh Rico pun kembali ke meja mereka dengan senyuman tipis


"Ya mah aku tau kok banyak orang yang lebih tua di sini, tapi apa kalian ga pikir dulu sebelum kalian berbuat sesuatu?"


"Rico!!" sang mama menatap tajam ke arah Rico


"Tenang aja mah, bukan aku yang akan menanggung perbuatan aku barusan kok." tersenyum tipis


"Apa maksud kamu?"


"Ya aku cuma di perintah kan sama seseorang yang merasa perempuan tadi penting bagi hidup dia, jadi ga mungkin aku yang di salahkan karena masalah tadi"

__ADS_1


Saat itu Rico memang tersenyum tipis tetapi tatapan matanya selalu mencuri pandang ke arah Vivian yang tanpa sadar saat itu dia menunjukkan wajah penuh amarah


"Maksud kamu?"


"Udah ya aku mau antar calon kakak ipar aku dulu balik ke rumah sakit, kasihan keponakan aku yang lagi sakit jadi di tinggalin sama mamanya. Bye semua," tersenyum tipis lalu pergi begitu saja


Semua orang hanya bisa terdiam karena ada perasaan amarah dan perasaan sedikit takut di dalam hati mereka, saat Rico sudah tiba di pintu saat itu juga Daniel mulai masuk ke tempat itu


"Terima kasih"


"Udah lah, kan gw udah bilang sama lu. Ini saatnya kita membayar kesalahan kita di masa lalu." tersenyum


"Tolong antar dia ke rumah sakit"


Rico hanya menjawab dengan mengangkat jari jempol nya, dan dia pun pergi menyusul Caca yang sudah berada di dalam mobilnya. Sedangkan Daniel melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah Vivian dan anggota keluarga Perkasa yang lainnya


Daniel mendudukkan tubuhnya tepat di tempat awal Caca berada, dengan aura dingin yang bisa membunuh orang-orang yang berada di sekitarnya Daniel benar-benar terlihat sedang marah besar


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Salah seorang anggota keluarga Perkasa memilih untuk membuka suara terlebih dahulu, karena Daniel tetap terdiam dan memandangi mereka secara tajam satu per satu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Daniel pun membuang nafasnya dengan kasar untuk mengurangi sedikit amarah yang dia rasakan


"Seharusnya aku yang tanya itu? kenapa kalian lakukan itu ke dia?" penuh penekanan


Semua orang yang berada di tempat saling menatap satu sama lain dan sudah pasti mereka sedikit bingung karena Daniel menunjukkan dengan pasti bahwa dia berada di pihak Caca


"Apa kamu tau tentang perempuan itu?"


"Aku tau dengan jelas siapa perempuan itu." dengan tegas


"Apa kamu juga tau kalau perempuan itu mempunyai..."


Daniel melepaskan tatapan membunuhnya


"Kecelakaan beberapa tahun yang lalu membuat aku kehilangan ingatan aku tentang perempuan itu, tapi sekarang aku sudah ingat semua tentang perempuan itu. Dan bahkan ada anak yang tetap dia pertahankan di saat keadaan dia benar-benar terpuruk, jadi apa kalian pikir aku akan diam aja saat kalian berniat menyakiti perempuan itu?"

__ADS_1


__ADS_2