
Saat pagi menyapa Caca pun mulai membuka kedua bola matanya, Caca mulai terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit
"Ya ampun orang itu benar-benar keterlaluan"
Caca pun baru tersadar bahwa tubuhnya dalam keadaan polos tanpa tertutup sehelai benang pun, dia pun kembali teringat akan malam panas yang sudah dia lalui bersama dani
"Astaga aku jadi melewati batas gara-gara pengaruh obat itu, tapi aku juga ga bisa salahin orang lain. Aku yang terlalu bodoh percaya orang lain dengan mudah"
Caca pun mencoba mendudukkan tubuhnya dengan sempurna, dan kedua bola matanya langsung tertuju ke arah sebuah foto keluarga yang terpasang di dinding kamar tersebut
"Aku udah sering ke sini, aku juga pernah masuk ke kamar ini waktu kak Daniel minta bantu aku ambil baju. Tapi kok aku ga pernah lihat foto ini ya?"
Caca melilitkan selimut ke tubuh polosnya dan dengan bersusah payah dia pun bangkit dan mendekati foto tersebut, ada sebuah perasaan yang mengganjal saat dia menatap foto tersebut. Dia pun memutuskan untuk memastikan dengan cara mendekat ke arah foto tersebut
Selama ini Daniel selalu menyembunyikan foto tersebut bila Caca akan datang ke apartemennya, Daniel membawa Caca ke apartemennya untuk memuluskan rencana nya. Dan malam itu Daniel yang tergesa-gesa tak menyangka bahwa dia akan membawa Caca ke apartemennya, dan lebih bodohnya lagi dia lupa melepaskan foto tersebut
"Orang ini kan, apa maksud dari semua ini? atau jangan-jangan sebenarnya Rico melakukan itu juga karena ini"
Tiba-tiba saja Caca kembali teringat akan sikap dan ucapan Adel saat mereka berdua ada di di bar, tak lama kemudian pintu kamar tersebut terbuka dan Daniel pun masuk dengan sebuah nampan berisikan sarapan untuk Caca. Daniel pun terkejut melihat Caca sudah berdiri tepat di hadapan foto keluarga nya
"Apa maksud foto ini kak?" dengan suara yang bergetar menahan tangisan
Daniel membuang nafasnya dengan kasar dan meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas, dia pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan menatap Caca dengan tatapan mata yang sulit di artikan
"Itu foto keluarga aku"
Akhirnya air mata Caca pun terjatuh dengan sendirinya
"Aku ga akan marah sama kamu kak tapi aku butuh satu jawaban yang jujur dari kamu, apa kamu memang sengaja dekatin aku karena dia?" Caca menunjuk ke arah foto Gio
__ADS_1
"Maaf"
Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Daniel pada saat itu karena itu semua benar adanya, sedangkan Caca benar-benar merasa dunia nya yang sempurna hancur berantakan dalam sekejap mata
Kedua bola mata Caca langsung berkeliaran mencari pakaian miliknya, dengan bersusah payah dia pun meraih pakaian tersebut dan segera menuju ke arah kamar mandi
"Apa yang kamu tangisi Ca? semua harus kamu tanggung karena pilihan kamu itu, mungkin kamu memang terlahir tanpa pernah merasakan yang namanya sebuah cinta"
Caca menangis dengan hebatnya di dalam kamar mandi, sedangkan Daniel hanya bisa diam membeku menunggu Caca keluar. Setelah merasa dirinya lebih tenang Caca pun keluar dari dalam kamar mandi dan mencari tas nya dia berencana untuk pergi dari tempat itu
"Apa kamu mau pergi?"
"Apa ada alasan aku supaya tetap di sini kak? aku harap kejadian ini cukup untuk membayar rasa benci kamu terhadap aku kak"
"Aku bisa jelasin semuanya ke kamu" menatap dengan serius
Caca pun tersenyum tipis
Caca sempat memberikan waktu yang cukup lama tetapi Daniel tetap terlihat ragu akan perasaan dia saat itu, Caca pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan apartemen Daniel. Sedangkan Daniel masih tetap terdiam melihat kepergian Caca dari tempat itu
Caca memeriksa ponselnya yang berada di dalam tas saat dalam perjalanan, ponselnya dalam keadaan tidak aktif saat itu karena ulah Rico malam itu. Saat dia menghidupkan ponselnya banyak sekali pesan masuk dari Sindy yang merasa khawatir akan keadaan dirinya
"Maafin aku ya mbak, aku ga bisa jaga diri aku dengan baik" tersenyum getir
Caca pun mengirimkan pesan bahwa dia baik-baik saja agar Sindy tak merasa khawatir kepada dirinya, dan tiba-tiba saja ponselnya pun berdering sebuah panggilan dari nomor yang tidak dia kenal pun masuk. Tapi Caca tau dengan pasti bahwa nomor tersebut adalah nomor Rico
"Halo"
"Aku mau ketemu sama kamu sebentar, ada yang mau aku omongin"
__ADS_1
"Apa perbuatan kamu semalam belum bisa membuat kamu puas?"
"Aku cuma mau minta maaf, sepertinya semalam aku sudah berlebihan sama kamu"
Caca sempat terdiam untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu, dia tak ingin air matanya terjatuh lagi di hari itu
"Aku cuma bisa berharap hutang yang selama ini kalian anggap milik aku, sudah bisa di bayar lunas dengan kejadian semalam." terdengar lirih
Entah mengapa Rico sang pembuat onar merasa ada sesuatu yang ganjal dari ucapan Caca saat itu
"Kamu ada di mana? bisa ketemu sebentar?"
"Maaf saya ga bisa lagi bermain dengan keluarga kalian"
"Ga aku cuma mau..."
Dan tut.... Ternyata Caca memutuskan sambungan teleponnya, beberapa kali Rico berusaha menghubungi Caca semuanya hanya sia-sia karena setelah itu Caca tak pernah lagi menghidupkan ponselnya
Caca kembali ke kediaman Sindy dan mulai merapikan pakaian miliknya yang ada di sana, dengan hati yang terasa sakit dia pun mulai menulis sebuah surat untuk Sindy agar tak merasa khawatir dengan sikap yang akan dia tempuh
Untuk : Mbak Sindy
Sebelumnya aku mau mengucapkan banyak terima kasih sama mbak, karena setelah aku keluar dari penjara mbak sudah bersedia menerima aku di sini
Maaf mbak aku memutuskan untuk pergi menjauh dari sini karena aku butuh waktu untuk menyembuhkan hati aku, mbak ga usah khawatir ya aku janji akan hidup dengan baik
Aku juga mau minta maaf sama mbak ya, karena aku yang dulu cuma seorang penakut yang ga berani mengakui di depan papa kalau aku yang sebenarnya menyebabkan mama kecelakaan. Sampai mbak harus pergi dari rumah karena kesalahan yang ga mbak lakukan
Aku pergi dulu ya mbak, jaga diri mbak baik-baik di sini. Aku sayang banget sama mbak..
__ADS_1
Dari : Caca adik yang selalu sayang sama mbak
Caca pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sindy dengan hati yang luluh lantak, Caca meyakinkan hatinya sekali lagi sepahit apapun sebuah kehidupan dia harus tetap berani melangkah maju. Dia akan mengubur semua kenangan indah dan pahit yang pernah dia lalui di kota itu