Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Gaun berdarah


__ADS_3

Lidya hanya bisa menurut, berjalan beriringan dengan dua sahabatnya yaitu Ayu dan Cinta. Keduanya datang tepat waktu hingga Lidya tak melakukan hal konyol itu tadi. Tadi, berarti itu akan terjadi.


Lidya hanya dia, sesekali ia mengecek pisau yang ada di balik kebaya yang ia kenakan, Lidya menatap Ayu yang sedari tadi tak henti bicara, dan Cinta sebagai pendengar setia.


Mereka masih dalam perjalanan menuju aula tempat akad nikah akan dilaksanakan. Lidya kembali menggengam pisau buah itu saat mulai mendengar suara keramaian canda tawa para tamu.


Yang Lidya tahu pada saat akad yang datang hanya keluarga dan karyawan. Jadi tidak masalah jika terjadi sesuatu hari ini.


Mereka menuruni tangga, Ayu memegang tangan Lidya erat. Sedangkan Cinta,  hanya berjalan mengiringi langkah Lidya, Lidya menggenggam pisau itu dengan tangan satunya, beruntung Cinta tak menggandengnya jadi Lidya bisa memanipulasi keadaan.


Lidya dengan segera melepaskan tangan Ayu dan menariknya dalam dekapan. Lidya mengarahkan pisau itu tepat di leher Ayu. Membuat semua orang terkejut dan panik.


"Lo mau ngapain, Lid?" tanya Rozi. Wajar jika dia khawatir, karena Rozi suaminya.


Beberapa orang menatap heran, panik, marah, dan masih banyak tatapan yang tak terbaca oleh Lidya. Ia tak peduli saat ini yang ada dalam pikirannya adalah kabur dan bebas.


Raka yang awalnya duduk di hadapan penghulu kini berdiri dengan tatapan datar. Ia hanya memandangi aksi calon istrinya. Raka tersenyum seakan meremehkan. Ia yakin Lidya tidak mungkin membunuh Ayu.


Lidya membalas tatapan itu dengan kilatan amarah.


"Lid, lo mau kabur 'kan, ya?" bisik Ayu. Dengan sangat hati-hati, ia tak ingin nantinya ada yang tahu rencana Lidya, Ayu juga yakin Lidya tak mungkin membunuhnya.


"Lid, lo serius, nih? Lo nggak mau bunuh gue beneran, 'kan?" tanya Ayu lagi saat tak ada jawaban dari Lidya. Tapi Ayu tahu ini tidak mungkin terjadi, tangan Lidya saja gemetar memegang pisau itu. Bagaimana cara Lidya membunuhnya dengan kondisi gugup? Ayu juga percaya Lidya melakukan hal ini karena tidak mau menikah dengan Raka versi galak.


"Kalau memang beneran, lo jangan kuat-kuat megang tangan gue sakit, nih!" keluh Ayu.


Raka semakin yakin jika Lidya hanya mengancamnya, tatapan tajam Lidya hanya tertuju pada Raka yang semakin mendekat tanpa ia sadari. Lidya yakin Raka semakin curiga dengan niatnya karena Ayu terus saja mengomel.


Dengan tatapan tajam dan wajah tak berdosa, Lidya melempar tubuh Ayu je samping kirinya, tepat di mana Rozi berdiri. Lalu tanpa rasa ragu Lidya menancapkan pisau itu tepat di bagian perutnya.


"Lidya!" teriak beberapa kerabat termasuk Ifni.


"Aaaaa ...." Teriak para tamu yang menggema di seluruh aula pernikahan. Banyak orang tak percaya. Gerakan Lidya cukup mendadak, Rak yang berjarak tiga meter dari posisi Lidya hanya terkesiap menatap tubuh Lidya yang mulai terhuyung. Waktu seakan berhenti, Raka tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Lidya!" pekik Raka yang segera berlari menangkap tubuh Lidya yang mulai ambruk. Dengan segera Raka menarik pisau yang tertancap, saat itu juga darah mengalir deras, membasahi kebaya putih Lidya dan jas putih Raka.


"Siapkan mobil!" pinta Alka pada para bodyguard.


Raka dengan segera mengangkat tubuh Lidya yang melemah, diikuti oleh Adi dan keluarganya, para sahabat, dan keluarga Raka.


"Fahri," ucap Alka seraya menepuk pundak Fahri, membuat Fahri yang mematung berbalik.


"Lo pergi, aja. Gue urus di sini," ucap Alka pada Fahri.

__ADS_1


Fahri mengangguk dan segera pergi berlari, "Woy!" seru Alka.


"Lo lupa bawa kunci mobil," ucap Alka menunjukan kunci di tangannya.


Fahri menepuk jidatnya, lalu datang mendekati Alka, "Makasih," ucapnya.


Fahri kembali beraksi, menangani keadaan di rumah sakit, Fahri yakin pasti semua begitu terpukul.


Sial. Jalanan macet parah, pikiran Fahri semakin kacau, apa yang akan terjadi jika mobil Raka yang membawa Lidya terjebak macet. Fahri mengambil kesempatan untuk menelfon orang tuanya atau Alfa yang ikut rombongan.


Tidak ada jawaban, akhirnya Fahri beralih menelfon Rozi dan David. Tidak ada jawaban juga, ingin rasanya Fahri berlari mencari mereka. Namun, tidak mungkin. Fahri kembali menelfon Alfa dan di angkat.


"Halo?"


"Halo, gimana keadaan kakak, Al?" tanya Fahri dengan nada penuh kecemasan.


"Dia aman, tadi sempet kejebak macet, tapi si bos Raka keluar dari mobil sambil bopong Kak Lidya sampe rumah sakit," jelas Alfa dari seberang sana.


Rasa lega kembali menyelimuti Fahri, "Terus sekarang lo dimana?" tanya Fahri.


"Udah di rumah sakit, Mama sama calon besan nangis mulu,"  ucap Alfa.


"Ya udah, gue ke sana, nih. Macetnya udah kurang," ucap Fahri sebelum mengakhiri telepon.


Fahri berlari menyisiri koridor mencari ruang UGD tempat Lidya ditangani. Lega. Rasa itu yang Fahri rasakan saat melihat keluarga Adi Setya dan keluarga Wijaya yang tampak berdiri di luar ruangan.


Langkah Fahri melambat melihat setiap raut kesedihan dan kekhawatiran. Pandangan Fahri tertuju pada siang Mama yang berada dalam rangkulan Laras--Ibu Raka.


Ayu yang menangis dalam pelukan  Rozi, David yang merangkul Friska, Cinta yang duduk diam bersama Alfa, dan Papanya yang terlihat kacau. Fahri mendatangi Raka yang berdiri di ambang pintu. Menatap ke dalam ruangan itu. Raka tampak kacau, jas putihnya berlumuran darah. Wajahnya datar seolah tak ada kejadian yang berarti.


Seseorang memukul pundak Fahri, Fahri akhirnya membalik dan mendapati Alka,"Gimana?" tanya Fahri.


Alka tersenyum, "Baik, gue udah bilang kalau beritanya tersebar, bagi pegawai perusahaan Wijaya akan di pecat, kalau kerabat ... Yang gue ancam ya emm gitulah." Alka menyengir, sungguh ia bingung menghadapi para undangan yang hobi menggosip.


"Bagus," puji Fahri dengan tawa kecilnya.


Mereka mendatangi Raka bersamaan, "Gimana?" tanya Alka pada Raka yang menatap ke dalam ruang UGD.


"Ya, gitu," jawab Raka tanpa menatap Alka dan Fahri. Melihat tingkah Raka Fahri melongos tak suka. Sedangkan Alka, saat ini ia tahu benar apa yang dirasakan oleh Raka.


Sikap yang menyebalkan dari Raka kembali lagi, tapi Fahri menerima perlakuannya.


Ceklek ....

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok pria dengan wajah cantik, dengan blazer putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya.


Semua orang dengan semangat berdiri dan mengerumuni dokter cantik itu.


"Bagaimana keadaan Lidya, Dok?" tanya Ifni dengan penuh kekhawatiran.


"Keadaan pasien, baik. Pasien telah melewati masa keritis. Beruntung mukanya tidak terlalu dalam, mungkin mukanya akan sembuh paling lambat satu bulan," ucap sang dokter.


"Jika kalian ingin melihatnya, jangan terlalu ramai, saat ini pasien butuh istirahat penuh. Mungkin satu kali tiga orang," ucap sang dokter diiringi senyum simpul yang akhirnya pergi meninggalkan keluarga Adi Setya dan Wijaya.


"Ifni, kamu duluan," ucap Laras, dan dibalas senyuman oleh Ifni.


Ifni menggandeng tangan Laras, "Kita liat dia, Ras. Mas Adi, ayo." Ifni pun akhirnya pergi memasuki ruang UGD bersama Laras.


Tangis Ifni pecah saat menatap tubuh lemah Lidya yang terbaring. Laras mengelus lembut pundak Ifni, menyalurkan kekuatan, agar wanita rapuh itu kembali tegar.


Tak tahan melihat keadaan sangat putri Adi segera keluar dari ruang itu, walau bukan untuk pertama kali gadisnya terbaring tak berdaya, tapi tetap saja Adi merasa sedih.


Setelahnya para sahabat Lidya memasuki ruangan, hingga yang terakhir adalah Raka, Fahri, dan Allah yang baru saja datang.


Ketiganya menatap Lidya sendu, Fahri duduk di samping pembaringan menggenggam tangan dingin Lidya, tak terasa air mata mengalir di pualam pipi Fahri. Sakit, sedih melihat sang kakak yang terbaring lemah.


"Lo selalu aja nggak pernah mikirin diri lo sendiri. Selalu aja lo nurut apa kata Papa, kalau lo nggak mau, lo bisa nolak. Kalau aja lo mau angkat bicara, lo nggak harus kayak gini," ucap Fahri di tengah tangisnya, "Andai aja lo nggak sakit, udah gue gaplok, lo!"


Raka membalikan badannya, dan berjalan keluar dari ruang yang menyesakan itu. Raka menatap semua keluarga dengan tatapan datar, "Akad tetap akan berlangsung," ucap Raka dengan nada tegas.


Semua orang berdiri dan menatap Raka dengan penuh amarah, "Apa-apa kamu ini!" bentak Laras.


Raka memalingkan wajahnya, "Alka!" seru Raka. Dengan segera Alka keluar dan menatap setiap orang yang menatap Raka dengan tatapan menghakimi.


"Kenapa?" tanya Alka.


"Gilak lo!" cecar Ayu, sebelum Ayu pergi memasuki ruang UGD lagi.


Semua bungkam, terutama keluarga Adi. Mereka tak bisa membantah, entah apa yang membuat keberanian keluarga mereka hilang dalam sekejap.


"Panggil penghulu sekarang!" pinta Raka dengan tegasnya.


"Tapi---"


"Cepat!"


Alka tak sempat membantah, lagi pula Alka tau tujuan Raka menikahi Lidya. Alka adalah satu-satunya orang yang paling di percaya oleh Raka. Maka dari itu Alka tahu benar perasaan Raka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2