
Bu Anne menggoyangkan lengan Laila dengan pelan.. Wanita muda itu masih saja terlelap setelah hampir 2 jam mereka menempuh perjalanan.
"La,,, Sayang! Bangun, La!" Bu Anne menepuk pelan pipi Laila.
Laila menggeliat setelah beberapa kali merasakan goncangan kecil. Ia mengerjap menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya.
"Udah nyampe ya, mah?" Ucap Laila bertanya.
"Udah.!" Jawab Bu Anne sembari menatap Laila canggung.
Sebenarnya ada rasa tak nyaman yang dirasakan oleh Bu Anne dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Sejujurnya ia tak tega, apalagi kalau Laila benar-benar sedang hamil.
Dahi Laila terlihat mengernyit saat menyadari sekelilingnya. Ia menatap heran rumah minimalis yang ada di depannya kini.
"Ini rumah siapa, mah?" Tanya Laila.
"Ini rumah mama, sayang. Dulu mama pernah tinggal disini waktu Gilang masih bayi. Dulu sempat dikontrakkan, tapi sebulan yang lalu orangnya pindah." Jelas Bu Anne.
"Oh, gitu." Laila mengangguk menanggapi.
"Ayo kita masuk, sayang!" Bu Anne menggandeng lengan menantunya itu.
Laila mengikuti Bu Anne. Ia cukup terkesan dengan tampilan bangunan itu. Tidak terlalu besar namun terlihat elegan dengan dua lantai dan desaign modern.
Bu Anne mengajak Laila duduk di ruang tengah. Laila masih mematut-matut seisi bangunan itu.
"La. Untuk sementara kamu disini dulu, ya!" Ujar Bu Anne.
Laila terdiam. "Mama akan pulang, tapi kamu tetap disini." Lagi Bu Anne berucap.
"Memangnya kenapa, mah?" Tanya Laila bingung.
Bu Anne menghela napas berat. "Nanti kamu akan tau sendiri, nak!" Kata Bu Anne dengan wajah pasrah.
Laila tak menjawab lagi. Ia kembali diam. Susah payah ia menelan salivanya. Berbagai hal kini berkelana di pikirannya. Kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja menjadi alasan mertuanya memintanya untuk tetap di rumah yang asing baginya ini.
__ADS_1
"Mah,,, Apa ini,,, ada hubungannya dengan perjanjian Mama dan mas Gilang?" Laila akhirnya mengeluarkan satu dari sekian banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
Bu Anne menegang seketika saat mendengar pertanyaan dari sang menantu. Namun, ia berusaha untuk terlihat tenang dan menggeleng pelan.
"Maafin mama karena pasti kamu bakalan kepikiran. Tapi, mama berharap kamu nggak terlalu berpikir jauh mengenai hal ini, nak. Kamu harus tetap rileks sampai beberapa waktu kedepan." Bu Anne diam sejenak. Ia menggerakkan tangannya, menyentuh perut Laila.
"Apa sekarang yang mama pikirkan benar adanya, La?" Tanya Bu Anne. Laila tercekat. Tiba-tiba mata Laila terasa memanas. Ternyata Ibu mertuanya sangat peka dan pengertian. Mata Laila kini terlihat berkaca-kaca, ia mengangguk perlahan.
Bu Anne tersenyum karena terharu, kini matanya ikut memanas. Dan sebutir bulir bening berhasil jatuh dari pelupuk matanya.
"Kamu jaga diri kamu dan calon cucu mama ya, sayang. Mama sangat sayang sama kalian berdua." Ucap Bu Anne sebelum merengkuh tubuh Laila ke pelukannya.
Laila ikut terbawa suasana karena perlakuan sang ibu mertua. Ia tak tahu pasti apa rencana Bu Anne, namun yang bisa ia lakukan hanya menuruti saja. Lebih tepatnya pasrah menjalani semua ini.
Bu Anne melihat jam di tangannya. Sudah sore, dan ia harus pulang kembali ke Jakarta. Sejujurnya ia merasa berat harus meninggalkan menantunya itu seorang diri. Bagaimanapun, Laila juga tanggung jawabnya karena telah masuk ke dalam keluarga mereka sebagai menantu. Dan ia juga sangat menyayanginya.
"Mama harus pulang sayang. Maafin mama ya, nak." Ucap Bu Anne mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Mah,,," Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Laila kala Bu Anne berpamitan padanya. Ia merasa bimbang saat Bu Anne memberikan sebuah ponsel padanya.
"Kamu pegang ini. Mama udah simpan nomor orang tua kamu disini, juga nomor kakak kamu. Tapi, nggak ada nomor suami kamu disini. Mama minta kamu jangan hubungin dia dulu ya, sayang! Pliss kamu lakukan apa yang mama bilang ini. Semua demi kebaikan rumah tangga kalian." Ucap Bu Anne panjang.
Bua Anne kembali memeluk Laila. Lalu, ia beralih mengusap perut datar Laila. Air matanya masih saja menetes.
"Sekali lagi mama minta maaf, nak." Ucap Bu Anne lagi sebelum benar-benar berlalu meninggalkan Laila dengan kegusaran hatinya.
Laila hanya menatap nanar kepergian wanita paruh baya itu. Entah apa yang sebenarnya menjadi penyebab ibu mertuanya itu melakulan ini. Laila berharap, Bu Anne tidak berencana untuk mempercepat perpisahannya dengan Gilang. Ia belum sanggup. Apalagi sekarang ia baru tahu bahwa dirinya tengah mengandung darah daging lelaki itu.
"Semoga apa yang nenek kamu bilang itu benar, nak. Mama hanya bisa berdoa agar keluarga kita tetap utuh selamanya, dan kamu dapat hadir kedua ini dengan keadaan keluarga yang harmonis." Laila mengusap dengan iba perutnya yang kini sedang tumbuh seorang nyawa yang harus ia jaga.
Bu Anne masih menangis setelah ia berada di dalam mobil. Ia terpaksa melakukan ini, jika tidak maka anaknya yang bodoh dalam hal percintaan itu tak akan pernah berubah dan menyadari perasaannya.
Meski sebenarnya Bu Anne telah menyadari jikalau Gilang telah mencintai istrinya, namun ia tetap saja geram saat melihat kebodohan Gilang yang terus saja berdiam diri tanpa mau menggapai cintanya.
"Kita langsung pulang atau gimana, nyonya?" Tanya supir menatap Bu Anne dari kaca spion.
__ADS_1
"Langsung pulang aja, Pak!" Jawabnya menghapus air mata di pipinya.
"Baik, nyonya!" Jawab Pak Boron.
Gilang masih memeriksa laporan saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Oh, iya belum melaksanakan shalat Ashar.
Dengan segera Gilang menuju kamar pribadi di ruang kerjanya itu dan mengambil wudhu di kamar mandi. Setelahnya ia langsung melaksanakan shalat.
Saat salam kedua, Gilang tiba-tiba teringat sesuatu. Pikirannya merasa tertuju pada Laila. Kira-kira apa yang sedang dilakukan istrinya sekarang?
Gilang pun menghubungi sahabat-sahabatnya di grup menanyakan persiapan mereka untuk acara makan malam romantis Gilang nanti malam.
Me:
"Gimana woi?"
^^^^^^Faizan: ^^^^^^
^^^"Udah, aman. Lo terima beres aja nanti!^^^
Me:
Yang bener?"
^^^Faizan:^^^
^^^"Iya, bener! Nggak percaya banget lo sama kita!" Dumel Gilang di layar chat grupnya itu."^^^
Me:
Oke, thanks ya. Nanti gue langsung bawa istri gue kesana.!" Gilang tersenyum saat mengetikkan pesan yang terakhir.
"Semoga aja, kamu bahagia saat melihat kejutan itu, La. Aku berharap ke depannya kita akan benar-benar bisa menjalani pernikahan kita seperti pernikahan di luar sana pada umumnya. Aku cinta kamu, La. Dan aku nggak akan pernah mau berpisah dari kamu, kecuali maut memisahkan kita." Kata Gilang berbisik pada dirinya sendiri.
Huh,,, Hari ini benar-benar membut Gilang merasa sangat sibuk. Namun, demi memperbaiki hubungannya dengan sang istri, ia akan melakukan apapun mulai sekarang.
__ADS_1
Bersambung..