
Daniel berusaha keras untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya tetapi rasa penasaran tentang Caca tetap tak bisa dia abaikan begitu saja, dia pun segera menghubungi Abian yang sedang berada di luar kota karena tugas dari dirinya
"Selamat sore pak," dengan sopan
"Siapa perempuan yang tadi makan bersama calon istri kamu?" Daniel langsung to the point dengan nada suara penuh penekanan
"Dia memang ga ingat apapun tentang Caca tapi hati dia tetap tak bisa berbohong"
"Orang event organiser yang menangani acara pernikahan kami pak," dengan penuh keyakinan
"Oke," Daniel langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berhasil membuat Abian di seberang sana sedikit resah memikirkan hal tersebut
"Bagaimana pun juga saya ga akan menghalangi jalan hidup kalian berdua, saya hanya menutupi semuanya sejauh ini Ca"
Hari itu pun berlalu dengan Daniel yang terus saja terbayang akan Caca, sedangkan Caca semakin memantapkan hatinya untuk melangkah maju di hidupnya demi sang buah hati
Malam itu Caca yang berencana tinggal sedikit lama di kota itu memutuskan untuk berdamai kepada sang ibu sambung, dia hanya tak ingin menambah rentetan daftar musuh di dalam hidupnya. Caca yang mengetahui bila sang papa belum kembali ke kediaman mereka memutuskan menemui sang mama di dalam kamarnya
Tok.. Tok.. Tok..
Sang mama sambung membuka pintu kamarnya dan langsung menunjukkan wajah sinis saat melihat Caca adalah orang yang datang ke kamarnya
"Boleh aku bicara sebentar sama mama?"
Sang mama sambung membuka lebar pintu kamarnya tanda dia memberikan izin Caca untuk masuk, Caca pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut. Dan kini mereka berdua sudah duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar tersebut
"Ada apa?" dengan wajah datar
"Aku cuma mau minta maaf sama mama kalau selama ini secara tidak sengaja aku ada berbuat salah sama mama"
Sang mama sambung hanya terdiam dengan wajah yang semakin tidak bersahabat, entah mengapa Caca pun semakin bila dirinya pernah membuat sebuah kesalahan yang dia sendiri tak ketahui
"Aku masih ingat mama dulu sayang dan perhatian sama aku, tapi aku sendiri ga tau sejak kapan mama mulai berubah? dan setelah aku keluar dari penjara sikap mama ke aku semakin berubah," menatap ke arah sang mama sambung dengan serius
"Seandainya aku ada buat salah sama mama baik yang di sengaja ataupun ga di sengaja aku minta maaf ya mah"
__ADS_1
Sang mama sambung memberikan senyuman yang terlihat sinis
"Tapi apa boleh aku tau mah? sebenarnya apa kesalahan yang udah aku perbuat sama mama?" menatap ke arah sang mama sambung dengan serius
Dalam sekejap wajah sang mama sambung berubah dengan sangat drastis tak ada lagi aura dingin atau pun senyuman sinis, Caca bahkan dapat merasakan sebuah kesedihan yang mendalam dari mata sang mama sambung
"Untuk apa kamu tau? karena papa kamu pun ga peranh mengetahui masalah itu, aku harus kehilangan anak aku saat papa kamu sibuk mengurus masalah yang kamu buat"
"Sekali lagi aku minta maaf ya kalau aku ada salah sama mama, aku harap kehadiran aku dan anak aku di sini ga menganggu mama. Soalnya aku berencana tinggal di kota ini sampai acara pernikahan mbak Sindy, kalau mama merasa keberatan aku dan anak aku ada di sini mengganggu, biar kami cari tempat lain untuk tinggal sementara mah"
Caca mengutarakan semua keinginan hatinya dengan sangat lembut dan berhasil membuat hati sang mama sambung yang bernama Diana menjadi sedikit melunak
"Sebaiknya kamu dan anak tetap tinggal di sini karena papa kamu butuh kalian"
"Apa kami ga akan membuat mama merasa kurang nyaman?" menatap ke arah sang mama sambung dengan serius
"Perasaan saya ga penting karena yang terpenting saat ini adalah kesehatan papa kamu," dengan tegas
"Maksud mama apa ya?"
"Apa kamu sebagai anak kesayangan papa kamu ga tau kalau saat ini papa kamu sedang sakit?"
Ucapan dari mama Diana berhasil membuat wajah Caca menjadi berubah menjadi tegang
"Papa sakit apa mah?"
Mama Diana pun membuang nafasnya dengan kasar lalu mulai menatap ke arah Caca dengan serius
"Papa menderita penyakit jantung akut, dan tekanan yang berat bisa berakibat fatal bagi papa kamu. Terakhir kali saat ada masalah di perusahaan papa kamu hampir saja kehilangan nyawa nya"
Caca benar-benar tak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut sang mama sambung
"Jadi kalau kamu dan anak kamu berencana untuk tinggal di kota ini sebaiknya kalian tinggal di rumah ini, kalau kalian memilih untuk keluar dari rumah ini sama aja kalian berencana membuat penyakit dia kambuh." dengan serius
"Maaf ya mah, aku benar-benar ga tau keadaan papa sekarang seperti itu. Kalau gitu aku akan tetap tinggal di rumah ini selama kami di kota ini" lirih
__ADS_1
Mama Diana hanya terdiam dengan wajah datar
"Tapi apa mama benar-benar ga bilang ke aku kesalahan yang udah aku perbuat sama mama?"
Mama Diana membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menatap serius ke arah Caca
"Saat ini yang terpenting adalah kesehatan papa kamu, jadi sebaiknya kita lupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu." dengan yakin
Setelah kedua wanita tersebut mencapai sebuah kesepakatan Caca pun menemui Dira dan mulai membicarakan tentang rencana yang akan mereka buat untuk acara pernikahan Adel, sedangkan mama Diana kembali teringat akan sang buah hati yang harus pergi untuk selamanya
Mama Diana pun memilih untuk duduk di taman belakang dan memandangi bunga-bunga yang tumbuh di sana, dia hanya berusaha mengalihkan rasa sakit yang sedang dia rasakan
"Aku cuma bisa diam selama ini, kalau aku bisa memilih aku lebih memilih tidak melihat anak itu lagi selamanya. Tapi aku ga mungkin lakukan itu karena dia butuh anak itu di samping dia"
Tiba-tiba saja Faizal duduk di samping mama Diana sambil memegang sesuatu di tangannya, ternyata saat anak itu melihat sang nenek ke arah taman belakang dia langsung berlari ke kamar nya dan mengambil barang tersebut
"Nenek," tersenyum
Mama Diana hanya memandang malas ke arah Faizal, dan tiba-tiba saja anak tersebut memberikan bungkusan kado yang ada di tangannya
"Untuk nenek," tersenyum dengan tulus
"Kado itu buat saya?" memandang ke arah Faizal dengan serius
Faizal menganggukkan kepalanya, sedangkan mama Diana masih diam membeku melihat senyuman anak tersebut
"Tapi nenek harus janji sama Ical nenek jangan bilang sama kakek ya"
Mama Diana mengambil kado tersebut sambil mengerutkan keningnya
"Kenapa saya ga boleh bilang sama kakek kamu?"
"Soalnya uang tabungan Ical cuma cukup untuk beli satu kado, Ical takut nanti kakek jadi iri." dengan polosnya
"Terus kenapa kamu beli kado buat saya bukan kakek kamu?"
__ADS_1
"Soalnya Ical sayang sama nenek," tersenyum dengan tulus