
Gilang sampai di rumah setelah maghrib. Ia merasa heran melihat rumahnya gelap. Tak ada lampu yang menyala. Apa sedang ada pemadaman listrik? Tapi, kenapa hanya rumahnya yang mati lampu, tetangganya tidak.
Ia menjadi resah sekarang. Apa jangan-jangan Laila tidak ada di dalam. Gilang bergegas menuju pintu dan mencoba membukanya. Ternyata benar, pintu terkunci. Wajah Gilang berubah kesal.
Hah,, Gilang menyesal menyuruh Pak Amir untuk libur hari ini. Setidaknya lelaki paruh baya yang bekerja sebagai penjaga di rumahnya itu dapat memberi informasi jika istrinya pergi.
Gilang mencoba menghubungi Laila, namun tidak diangkat. Gilang menggeram kesal. Lalu, ia menelfon sang ibu. Mungkin saja Laila berada di disana seperti saat ia Pergi ke Jogja waktu itu.
"Mah, Laila ada di rumah mama?" Tanya Gilang saat sang mama mengangkat panggilannya.
"Enggak. Laila nggak ada disini." Bu Anne menjawab dengan nada tenang. "Mungkin di Kafetaria kali, Lang." Katanya lagi.
"Gilang coba lihat kesana dulu." Katanya sebelum mengakhiri percakapan.
Gilang kembali menyetir mobilnya menuju Kafetaria. Ia berharap tidak ada sesuatu yang buruk. Karena, tadi Laila tidak meminta izin padanya akan pergi ke Kafetaria. Biasanya istrinya itu selalu meminta izin.
Sesampai di Kafetaria, Gilang tak melihat keberadaan istrinya melainkan hanya ada Yessi.
"Laila ada?" Tanya Gilang pada Yessi.
Yessi yang ditanya seperti itu pun sedikit terkejut. "Laila hari ini nggak datang, pak." Jawab Yessi jujur.
Gilang terdiam. Jika tidak disini, dimana istrinya? Jantung Gilang berpacu semakin cepat. Entah mengapa ia semakin cemas.
Tidak mungkin Laila ada di rumah orang tuanya. Kemaren, Hanif berkata akan menyusul kedua orang tua mereka ke Lampung. Itu berarti keluarga istrinya tak ada disini. Lalu, dimana istrinya?
"Pak? Apa ada masalah?" Tanya Yessi hati-hati.
"Oh, nggak. Saya permisi dulu." Ucapnya kemudian berlalu.
Yessi hanya melongo menatap keanehan sikap Gilang. Sepertinya laki-laki itu sedang panik. Terlihat jelas dari wajahnya. Apa ada masalah dengan Laila, pikirnya.
Gilang berpikir untuk menelfon Naya. Mungkin saja Laila berada disana.
"Halo, Laila ada disana nggak, Nay?" Tanya Gilang.
__ADS_1
"Enggak. Bukannya kalian mau kencan berdua sekarang? Kok kamu nanya Laila ke aku?" Naya terdengar bingung.
"Kalian nggak lagi bertengkar kan?" Tanya ibu muda itu di seberang telepon. Nada suaranya terdengar menyelidik.
"Enggak, lah. Ngapain juga ngajak kencan kalau lagi bertengkar. Ya udah. Assalamu'alaikum." Pungkas Gilang yang merasa kesal karena tuduhan Naya.
Ia meremas rambutnya merasa frustasi. Sebenarnya kemana istrinya?
.
.
Sudah malam. Laila menyalakan beberapa lampu di rumah yang lumayan besar itu. Cukup besar untuk satu orang. Ia merasa lapar sekarang. Tadi ibu mertuanya meninggalkan beberapa bahan masakan untuk dirinya.
Dengan pasti, Laila melangkah ke dapur. Mencoba memeriksa isi kulkas. Ternyata ada banyak sayuran dan buah. Juga ada ayam disana, dan beberapa bahan lainnya.
"Kalau makan ayam goreng tepung sekarang, enak kayaknya." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Ia memasak selama beberapa menit. Setelahnya ia menghidang masakannya di meja makan. Ia langsung menyantapnya. Selesai makan, Laila membereskan piring bekas makannya dan mencucinya.
Laila duduk di sofa ruang tengah. Terasa hening. Tiba-tiba ia merindukan suaminya. Sedang apa lelaki itu sekarang? Apa Gilang tak menyadari ketidakberadaan Laila di rumah? Apa lelaki itu akan mencarinya?
Jika suaminya tahu sekarang ia hamil, bagaimana sijap Gilang setelahnya? Apa akan berubah lebih perhatian padanya? Huh,, Laila nerasa sedang bermain tebak-tebakan saja. Menebak sesuatu yang tak pasti.
Sementara di tempat Lain, Naya tengah gelisah karena merasa ada yang tidak beres antara Gilang dan Laila. Ia yakin, pasti sedang ada sesuatu terjadi.
Naya terus menghubungi Laila, berharap ada jawaban dari gadis itu. Naya tak bisa lepas perhatian begitu saja. Ia sudah benar-benar menganggap Laila seperti adiknya sendiri. Sehingga ia tak bisa seakan menutup mata dari masalah yang terjadi pada gadis itu.
"Ckkk,,, kamu dimana sih, La?" Gumam Naya terus.
Akhirnya ia menelfon Faizan untuk memastikan. "Mas, Laila ada disana nggak?" tanyanya ketika Faizan mengangkat panggilannya.
"Loh, bukannya Laila kesini sama Gilang. Kan Gilang sendiri yang bilang, sayang." Jawab Faizan.
"Iya, mas. Tapi beberapa menit yang laku Gilang nelfon aku. Dia nanyain Laila. Kan aneh, mas. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama Laila, mas?" Naya berubah panik.
__ADS_1
"Jangan berpikir negatif, sayang. Coba kamu telfon Laila dulu."
"Udah. Aku udah telfon Laila berkali-kali. Tapi nggak diangkat. Aku cemas banget dia kenapa-napa, mas." Curah Naya akan kegelisahannnya.
"Kamu tenang dulu. Aku akan cari Laila." Putus Faizan. Ia tak mau membuat Naya cemas begitu. Apapun akan dilakukannya. Terlepas dari sebab Laila dan Naya bersahabat, ini juga menyangkut persahabatannya dan Gilang. Apapun akan ia lakukan untuk membantu Gilang. Karena, ia selalu ingat bagaimana Gilang selalu ada untuknya.
"Yaa Allah,, semoga Laila baik-baik aja." Ucap Naya berdoa. Naya tak ingin terlalu risau karena ada anaknya yang harus ia urus.
Kembali ke Laila, wanita hamil itu kini masih setia bermenung. Namun,, sudah berpindah tempat ke kamar yang dikatakan oleh ibu mertuanya tadi sebagai kamar utama. Terasa nyaman bagi Laila, meski suasananya masih baru.
"Yaa Allah,,, Aku tak ingin berburuk sangka. Tapi, aku takut kalau sebenarnya Mama Anne punya rencana yang akan membuat aku dan mas Gilang cepat berpisah. Bagaimana anakku nanti? Aku nggak mau anakku lahir saat kami benar-benar berpisah, Yaa Rabb.." Air mata Laila tak tertahan. Kini ia merasa kesepian.
ia tak tahu kenapa rasanya begitu menyedihkan. Padahal satu bulan menikah ia sudah biasa ditinggal sendiri oleh Gilang. Lalu, mengapa sekarang ia merasa sedih? Laila hanya bisa mengusap air matanya yang kian deras mengalir.
Rasa sesak kini menusuk dadanya. Entah apa rencana Allah, yang pasti ia berharap keluarganya tetap utuh.
Ponsel Laila tiba-tiba berdering. Tertulis disana nana Mama Anne. Dengan segera ia menghapus air matanya dan menormalkan suaranya, lalu Laila mengangkatnya.
"Halo, La. Kamu baik-baik aja, kan?" Bu Anne terdengar khawatir.
"Iya, mah. Ila baik-baik aja, kok." Jawab Laila lembut.
Terdengar hembusan napas lega di seberang sana. "Syukurlah, nak. Besok mama akan kesana, ya." Kata Bu Anne.
"Lebih baik kamu istirahat, ya. Kasihan kamu dan kandungan kamu kalau kamu tidurnya kemaleman."
Laila tersenyum. Sepertinya dugaannya salah. Bu Anne masih memberi perhatian padanya, meski harus membuatnya jauh dari Gilang. Ia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Ibu mertuanya melakukan semua ini.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
.
.