Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 22


__ADS_3

Malam yang dingin dan sepi. Laila duduk di ranjang sembari membaca novel. Suara deru hujan dan angin kencang membuyarkan konsentrasi Laila. Ia menutup jendela yang tersingkap.


Sejujurnya ia sedikit ngeri saat kilatan-kilatan membayang di jendela. Ia pun menutup tirai gorden hingga menutupi jendela. Akhirnya ia bernapas lega.


Ceklek.. Pintu terbuka menampilkan Gilang dengan pakaian rumahannya. Celana training silver dan kaos putih. Ia meletakkan tablet di nakas dekat tempat tidur. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Laila hanya melihatnya. Setelah tersadar dari keheningannya, Laila ikut mengambil tempat untuk tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, suara petir menggelegar membuat Laila terkejut bukan main. Ia bahkan sampai berteriak dengan refleks.


Membuka mata, Laila menyadari ia berada di pelukan sang suami yang hanya diam memeluknya.


"Ma,, maaf mas. Aku tadi kaget banget." Ucapnya takut.


Gilang hanya diam melihat ketakutan di wajah sang istri.


Apa aku lebih menakutkan dibanding petir itu? Laila,, Laila...


Perlahan Laila menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, sembari beringsut merebahkan badannya. Begitu pun Gilang. Ia kembali tidur dengan posisi terlentang.


Yaa Allah,, aku takut banget. Kalau ada petir lagi, gimana? Laila terus bergeming di dalam hatinya. Ia benar-benar takut dengan suara petir. Sebelum menikah, ia akan meminta sang mama menemaninya tidur jika turun hujan seperti sekarang sebelum ia tidur. Namun, jika ia sudah tertidur maka ia tak akan mendengar suara petir lagi.


Asik dengan pikirannya, tiba-tiba petir kembali menggelegar. Laila pun kembali terkejut. Ia refleks kembali memeluk Gilang. Suaminya itu kali ini hanya diam.


"Mas,,, boleh ya aku peluk mas Gilang? Malam ini aja, sampai aku tertidur. Pliss, mas. Aku takut banget sama petir." Ucapnya memohon.


"Hmmm,," Hanya deheman yang dibalas oleh Gilang. Namun, setidaknya itu mampu menenangkan hati Laila.


Perlahan, Laila mulai memejamkan matanya. Gilang terdiam dengan posisi mereka yang saling memeluk. Tangannya tergerak untuk mengusap pundak Laila. Hingga ia juga ikut tertidur.


.


.


Hujan deras masih mengguyur kota. Namun, tak membuat lelaki bertubuh jangkung itu merasa lelah dengan renungannya. Waktu terus berjalan, hingga jam telah menunjukkan pukul 10 malam.


Delon menyalakan ponselnya yang baru saja ia cabut dari pengisi daya. Seharian ia berpikir, benar-benar memikirkan jalan hidupnya kedepan.

__ADS_1


Hatinya kini merasa goyah akan cintanya yang menurutnya harus ia perjuangkan. Ucapan Gipang siang tadi masih terus berputar bagaikan kaset rusak yang berputar berulang kali di kepalanya. Ditambah lagi penegasan Laila, bahwa wanita itu bahagia dengan pernikahannya.


Rasanya Delon ingin berhenti saja mendekati wanita tambatan hatinya itu, jika memang Laila mencintai Gilang. Tapi, yang ia lihat gadis itu tak bahagia. Malah lebih banyak diabaikan oleh Gilang.


Dilema ini sungguh membuatnya tak tenang. Pikirannya semakin kacau saja. Jika saja tak hujan dan jika ia tak ingat dengan ancaman Reygan padanya tempo hari, mungkin ia sudah menimbrung ke klub malam ini. Setidaknya mengusir semua keluh kesahnya sementara.


Ting... Dentingan nada notifikasi dari ponselnya. Delon melihat layar yang menampilkan pesan singkat dari sepupunya Reygan.


Reygan : Lo dimana? Jangan macam-macam ya, Lon!! Gue nggak kau ambil resiko karena kelakuan lo...


Delon tersenyum simpul. Lalu ia mengetikkan balasan pesannya.


^^^^^^Gue di kantor. Lo perhatiam banget, sih... Jadi, berasa punya pacar.... ^^^^^^


Reygan : Gue nggak bercanda. Ngapain lo di kantor jam segini? Awas ya kalau lo ke klub lagi...


Lagi-lagi Delon tersenyum membaca balasan pesan dari sepupu sekaligus sahabatnya itu. Reygan memang seperti pacara yang posesif padanya. Ya, sejak kecil mereka selalu bersama. Dikarenakan mereka saudara sepupu, dan dulu mereka tinggal serumah. Berteman pun mereka cocok.


Delon tak membalas lagi pesan tersebut. Ia memilih bersandar di kursi kerjanya. Membayangkan wajah Laila yang begitu menarik hatinya.


Drrrttttt.... drrttttt..... drrtttt.. Panggilan masuk membuat Delon mendengus kesal. Namun, begitu ia tetap mengangkatnya.


"Halo,," Ucapnya...


"Delon, lo dimana sih? Kenapa lo cuma nge-read pesan gue?" Serobot seseorang di seberang telepon.


"Ckkk,,, Udah, deh. Lo bawel banget, Rey. Gue nggak bakalan macam-macam kok. Lo udah kayak pacara gue aja.." Jawabnya enteng.


"Heh, oncom. Gue bawel juga gara-gara lo yang badung. Kalau aja lo nggak mabuk kemaren, gue nggak bakalan ngawasin lo. Ini juga permintaan bapak lu.." Reygan terdengar mendumel.


"Iya,, iyaa.. Udah, ah. Gue palingan nginap di kantor. Udah, gue matiin." Ucapnya lalu memutus panggilan sepihak.


Delon menghela napas berat. Menurutnya keluarganya lebay. Karena, mengawasinya begitu detail. Apalagi Papanya yang meminta Reygan untuk memantau dirinya.


.

__ADS_1


.


Suara adzan subuh berkumandang, tak membuat dua insan yang tengah tidur sambil berpelukan tersebut terusik. Yang ada keduanya semakin mempererat pelukan mereka.


Laila membuka mata saat semakin mendengar dengan jelas suara adzan. Ia pun menyadari bahwa sekarang ia sedang berada di pelukan suaminya. Hal itu membuat Laila tak kuasa menahan senyum bahagianya. Hatinya serasa di penuhi kupu-kupu beterbangan.


Dengan perlahan Laila memindahkan lengan Gilang yang memeluknya. Ia ingin membangunkan Gilang, namun melihat tidur suaminya yang sepertinya sangat lelap membuat Laila tak tega. Ia pun bangun sendiri dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Gilang tiba-tiba membuka matanya. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia juga merasa berbunga karena apa yang baru saja ia lakukan dengan sang istri.


Dengan suara erangan pelan, Gilang bangun dari posisi rebahannya. Lalu, merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


"Shalat subuh berjamaah." Gumamnya pada dirinya sendiri saat melihat jam dinding. Ia mengulum senyum. Rasanya ia beruntung memiliki Laila sebagai istrinya. Dulu, ia sering bangun telat. Namun, setelah menikah Laila selalu bangun pagi dan membuatnya juga terbangun.


Ceklek... Pintu kamar mandi terbuka. Laila terlihat sudah lebih segar dengan wajah yang basah.


"Mas." Ucapnya terkejut melihat Gilang yang sudah bangun.


"Mas Gilang udah bangun ternyata."


Gilang mengangguk. Lalu beringsut bangkut dari tempat tidur. Ia berjalan ke kamar mandi. Saat sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia lalu berbalik.


"Tunggu saya. Saya wudhu sebentar." Sahutnya membuat Laila terpaku.


Laila merasa senang mendengarnya. Ia lalu menggelar dua buah sajadah, untuk dirinya dan suaminya dengan senyum mengembang di bibirnya. Kebahagiaan yang amat sangat bagi Laila. Karena, ia memang ingin menjalani pernikahan yang seperti ini. Bersama-sama dalam beribadah. Tentu saja akan membuat rumah tangganya dilimpahi berkah oleh Sang Pencipta.


Gilang keluar dari kamar mandi dan dihampiri oleh Laila dengan menyodorkan sarung. Gilang langsung menerima, dan memakainya.


"Ayo!" Ajak Gilang, membuat Laila tersentak. Lalu, mereka mulai shalat.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2