Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
8. Kencan?


__ADS_3

Kini Lidya menjejakkan kaki di halaman rumahnya. Dengan Iqbal yang masih setia menantinya untuk membuka helm yang masih mereka di kepalanya.


"Bisa gak?" Iqbal mulai gelisah melihat Lidya yang masih belum bisa melepas helm.


"Bisa kok bisa," Lidya masih berusaha membuka.


Akhirnya helm itu bisa terlepas dan Lidya langsung memberikan pada Iqbal.


"Masih mau di bantu, eh ternyata udah bisa buka sendiri," Iqbal menerima helm dari tangan Lidya. Diselingi tawa jail.


"Yee dasar playboy! Seneng banget cari kesempatan dalam kesempitan! Ya udah gue masuk dulu ya," ucap Lidya.


Iqbal menggaruk tengkuknya yang tak gatal."Yaudah masuk gih, udah mau malem, gue pulang ya," pamit Iqbal.


"Iya."


***


"Gue bingung mau gimana sama Lidya, abisnya lo pada tau sendiri gimana gue sifat dulu sama Lidya, cuek, dingin, kira-kira apa Lidya masih mau sama gue?" Raka mencurahkan semua isi hatinya pada David dan Rozi.


"Kayaknya dia masih cinta deh," David mulai memberi tanggapan.


"Tapi mungkin aja enggak, kalian liat gimana kelakuan dia waktu Raka deketin dia," Rozi juga memberi tanggapan. Kali ini tanggapan Rozi membuat Raka merasa putus asa.


"Gimana kalau kita tes Lidya?" saran David.


"Tes gimana?"


"Ya tes, lo buat dia baper,"  ucap Rozi.


"Gimana caranya?"


"Ajak dia kencan!" Rozi tampak sangat bersemangat."Tapi abis inu, lo harus restui gue sama Ayu," ucap Rozi dengan sedikit tawa jail.


"Yaelah mau aje lu!" ketus Raka.


"Namanya juga usaha," sahut Rozi.


"Ok gue dengerin saran lo pada. Gue bakalan chat Lidya sekarang," Raka tampak antusias, berbagai rasa berkecamuk di dalam hatinya.


"Jangan chat dong, cemen kalau misalnya lo itu ngajak kencan lewat chat," ucap David dengan wajah yanh sangat serius.


"Terus gue harus gimana?"


"Ya ngomong langsung!"


"Oo ngomong langsung ya? Emmh harus gitu ya?" tanya Raka dengan ekspresi lugu.


"Sok polos lo!" cerca Rozi.


"Gimana lo mau ngomong langsung 'kan?" tanya David.


"Heem gimana ya, gue masih ragu," Raka memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit.


"Yaah cemen lo Ka," ucap David.


"Ya udah iya!"


"Kita tunggu aja besok, lo harus ajak dia, LANGSUNG!"  David mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan.


"Iya iya bawel amat sih ngalahin anak-anak minta permen!"


***


Lidya duduk di kursi perpustakaan, menatapi rak buku yang berjajar membentuk labirin, belum ada buku yang Lidya pilih.


"Huuh gue bingung mau baca yang mana," keluh Lidya, tak melepas pandangan dari rak buku.


Lalu dua  uluran tangan tampak menyodorkan  buku bersampul biru muda, dan bersampul merah maron.


Lidya langsung mendongak menatap siapa si pemilik tangan kekar itu.


"Kalian?" Lidya mengernyit heran melihat kedua orang di hadapannya. Mereka tak lain adalah Raka dan  Iqbal.


Lidya melihat Raka dan Iqbal keduanya masih saling menatap satu sama lain, merasa heran dengan situasi yang ada.

__ADS_1


"Nih buku buat lo, lo bingungkan mau baca apa?"  ucap Iqbal menyodorkan buku bersampul merah maron.


Lidya menatap Raka yang masih bungkam, Raka hanya dian dan menatap dingin Lidya.


"Nih, baca!" ucap Raka, menyodorkan buku, namun tetap dengan nada dingin, tatapannya datar tanpa ekspresi.


Lidyaerasa aneh dengan situasi ini, hatinya bercampur aduk, apa dia harus senang karena Raka merekomendasikan sebuah buku? Atau harus kesal dengan sikap dingin Raka?


"Emmh gak deh, kayaknya gue mau nyusul Ayu sama yang lain di kantin, makasih buat rekomendasi buku di sini," akhirnya Lidya yang bimbangemberi keputusan dan  langsung pergi meninggalkan Raka dan Iqbal.


Kepergian Lidya membuat Raka dan Iqbal saling menatap tajam. Dan bergulat dengan pikiran mereka masing-masing.


"Heh kenapa dia selalu muncul di saat yang gak tepat, tapi liat aja gue gak akan biarin dia dapetin Lidya," batin Raka.


"Siapa sih tu anak? Selalu aja ngekorin Lidya! Sok cool!" batin Iqbal.


Setelahnya mereka berdua langsung pergi meninggalkan perpustakaan. Dengan tatapan sengit dan langkah jenjang milik mereka.


***


"Hiss ini semua gara-gara murid sok pinter itu, gara-gara dia juga gue gak bisa ngajak Lidya kencan secara langsung," Raka duduk di kursi taman belakang sekolah, menundukkan kepala dan mengacak rambutnya frustasi.


Dari arah belakang tepat di mana Raka duduk tampak David berdiri dengan wajah menilai."Kenapa bro?" tanya David sambil berjalan mendatangi Raka dan duduk tepat di samping Raka.


"Gue belom sempet ngajak Lidya kencan," keluh Raka memulai curhatnya.


"Elah! Kok bisa? Cemen lo, gitu aja payah," ejek David.


"Ini semua karena anak songong itu! Brengsek!" Raka mulai merutuki sosok Iqbal yang sampai sekarang belum ia kenal. Namun selalu menggangunya.


"Ah jadi lo ada saingan?"


Raka mengganggu membenarkan ucapan David.


"Terus tunggu apa lagi? Pepet terus si Lidya, jangan sampai di rebut sama saingan lo!" David kini mengubah posisi duduknya dan merangkul Raka."Bro, inget hari ini lo sama Lidya harus jalan!" setelah kali amat itu David langsung pergi meninggalkan Raka sendiri. David tau bagaimana kondisi hati Raka saat ini. Karenanya Raka butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


Sepeninggal David Raka semakin bergulat hebat dengan pikirannya, Raka masih memikirkan bagaimana ia harus mengeluarkan kalimat yang tepat untuk mengajak Lidya jalan hari ini.


"Ok, tarik napas," Raka menarik nafasnya dalam-dalam hingga dadanya mengembang."Buang... Ok gue bakalan bilang ke Lidya sekarang," Raka berdiri meninggalkan taman dan langsung menuju kelas Lidya.


***


"Lid," suara berat itu membuat Lidya dan temannya sedikit tersentak, mereka langsung menatap si pemilik suara itu.


"Raka? Ada apa?" tanya Lidya mengernyit heran.


"Gue mau ngomong sama lo, boleh?" tanya Raka yang mulai memasuki kelas. Menatap manik mata Lidya yang terbingkai dengan kacamata menunggu jawaban dari Lidya.


Lidya melirik ke arah sahabatnya, ia tampak sangat canggung, apalagi wajah Raka sangat serius.


"Ya udah, pergi aja sono, gak papa kok," ucap Ayu mendorong tubuh Lidya.


Dengan segera Lidya bangkit dan mengikuti Raka yang sudah memulai langkah terlebih dahulu hingga kini Raka berada di hadapan Lidya.


"Ada apa?" Lidya memulai pembicaraan, tak mau bertele-tele, melihat sikap Lidya Raka mulai menelan salivanya kasar, berusaha menghilangkan gugup yang menjalar ke seluruh tubuh.


"Gu-gue mau... Ngajak lo emm... Ngajak lo itu," Raka mulai menjawab namun jawabannya justru membuat Lidya tak paham.


"Apa?"


"GUE MAU NGAJAK LO NONTON NANTI!" ucap Raka dalam satu tarikan nafas dan pandangan yang tak lepas dari mata Lidya.


Lidya terperangah kaget, tak menyangka, bagai sebuah mimpi di siang bolong.


"Lo yakin?" tanya Lidya merasa aneh.


"Yakin."


"Lo gak salah makan 'kan pagi ini?"


"Nggak."


"Lo sehat?"


"Iss sekarang intinya lo mau apa gak?" Raka tak menjawab pertanyaan tak jelas milik Lidya dan memilih pada intinya.

__ADS_1


"Heem gimana ya?" Lidya tampak berfikir keras."Kapan?"


"Nanti pulang sekolah, bisa nggak?" tanya Raka mulai tak sabar.


"Bisa tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"David, Rozi, dan temen-temen gue wajib ikut!" seru Lidya, kini giliran Raka yang terperangah.


"Tapi...." Raka tampak ingin menolak, karena baginya ini adalah kencan mereka, dan kenapa dalam kencan harus ada penggangu?


"Iya udah, tapi gue juga bawak temen gue, mana mungkin gue cowok sendiri," ucap Raka mengalah.


"Ok."


"Gue tunggu pulang sekolah, gue di parkiran."


Lidya hanya membalas dengan senyuman dan memasuki kelasnya kembali meninggalkan Raka.


Plakkk....


Ayu langsung memukul kepala Lidya gemas karena mendengar syarat yang diajukan oleh Lidya.


"Apa lagi sih?" ketus Lidya sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"Lo ini, terbuat dari apa sih otak lo?! Udah bagus di ajak kencan berdua malah ngajak temen!"


"Ya, gue gak mau aja  yang jalan cuma gue sama Raka, gak seru!"


"Iss lo paham dikit kek, dasar jomblo akut!"


"Apa salah gue coba?" tanya Lidya.


"Lo salah banget Lid," jawab Cinta.


"Salahnya?"


"Di mana-mana kencan itu, cuma dua orang bukan rame-rame! Emang arisan?"


"Emang Raka ngajak gue kencan?  'Kan dia ngajak gue nonton, bukan kencan," ucap Lidya dengan wajah polos.


"Astagfirullah, insaf gue insaf Lid!" gerutu Ayu gemas.


"Apa sih salah gue, benerkan Raka ngajak gue nonton bukan kencan!"


"Lidya Adi Setya. Itu sama! Sama! Nama kencan juga, paham!" kini Cinta juga ikutan geram.


"Oh gitu."


"Oh gitu, oh gitu," ucap Ayu dengan nada mengejek.


"Jadi lo gak tau selama ini?" Friska mulai angkat bicara.


"Ya gue gak paham yang ginian," jawab Lidya jujur.


"PARAH!" cerca tiga teman Lidya serempak.


"Lo semua bisa gak nemenin gue?" tanya Lidya.


"Gur gak bisa, gue jaga warung," ucap Cinta.


"Kalo kalian?" tanya Lidya.


"Gak bisa juga Lid," jawab Ayu dan Friska bersamaan.


"Iss kalian nyebelin!" Lidya memalingkan wajahnya dan mengambil buku yang ada di lacinya.


"Kenapa sih mereka gak mau ikut?" batin Lidya.


"Nyebelin liat aja, ntar kalau butuh juga dateng sendiri!" batin Lidya lagi.


Semua sumpah serapah ingin Lidya keluarkan, namun tak bisa, dan akhirnya Lidya hanya bisa membatin saja.


Ayu, Friska, dan  Cinta hanya mengabaikan Lidya yang tampak kesal, karena mereka melakukan ini juga demi Lidya.

__ADS_1


"Raka kenapa ya, kok tiba-tiba banget dia berubah sama gue, ah tapi biarin, 'kan malah bagus kalau Raka berubah baik sama gue!" batin Lidya.


__ADS_2