
Pagi yang indah pun menyapa semua kehidupan di muka bumi ini, sinar mentari pagi yang hangat pun mulai menyelusup melalui celah gorden kamar apartemen Daniel. Lambat laun keadaan kamar tersebut pun mulai menjadi terang membuat sang pemilik kamar pun mulai terjaga dari tidurnya
"Setelah kejadian itu baru sekarang aku bisa tidur senyenyak ini, mungkin karena semalam aku ngeladenin perempuan itu kali ya" tersenyum tipis
Daniel masih belum menyadari juga bahwa Caca benar-benar sudah sepenuhnya berada di dalam hatinya, hingga tanpa sadar dia sangat membutuhkan suara Caca dan senyuman Caca di kehidupannya. Tanpa sadar tangan Daniel pun langsung meraih ponselnya dan menghubungi gadis tersebut
"Selamat pagi kak"
"Pagi, aku baru bangun ya"
"Oh, ya udah kamu siap-siap lagi kak. Udah jam berapa ini? atau aku berangkat kerja bareng mbak Sindy aja ya"
"Ga akh," menaikkan sedikit volume suaranya dan mendudukkan tubuhnya dengan sempurna
"Tapi ini udah mau telat kak," dengan nada suara sedikit bingung
"Ga boleh, kamu harus tunggu aku jemput kamu. Ini aku langsung mandi terus siap-siap"
"Tapi aku pasti jadi terlambat sampai kantor kak"
"Siapa bos di sana?"
Caca pun membuang nafasnya dengan kasar, bagaimana mungkin dia bisa melawan kata-kata yang baru saja Daniel lontarkan
"Ya udah tapi kamu cepet sedikit ya kak, ga usah pakai sarapan dulu. Nanti aku siapin sarapan buat kamu"
"Oke.."
Setelah memutuskan sambungan teleponnya tanpa sadar Daniel pun tersenyum tipis, hingga saat dia memandang foto keluarga yang terpasang di dinding
"Apa yang aku pikirkan? aku lakukan ini cuma untuk memainkan semuanya dengan sempurna, dan kamu tunggu aja sebentar lagi semuanya akan segera berakhir." tersenyum jahat
Daniel pun bergegas membersihkan diri dan menuju ke rumah Sindy, dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih yang menandakan seorang karyawan sudah telah jam kantor
"Kenapa cemberut sih?"
"Ini udah kesiangan kak, aku kan ga enak"
"Aku udah bilang sama orang kantor kalau kamu ada urusan di luar sama aku sebentar, jadi kamu tenang aja ya." tersenyum
"Oh ya kamu belum sarapan kan kak?"
Daniel pun menggelengkan kepalanya dan Caca pun langsung mengeluarkan bekal yang sudah dia siapkan
"Kamu mau makan di mana?"
__ADS_1
"Kamu suapin aku ya, biar aku bisa sekalian bawa mobil." tersenyum dengan sangat menawan
Caca pun menjawab dengan anggukkan kepalanya sedangkan Daniel langsung melajukan mobilnya, dengan sangat telaten Caca menyuapi sang bayi besar tersebut
Suapan demi suapan telah masuk ke dalam mulut Daniel, dan tanpa terasa bekal yang Caca siapkan sudah habis tak bersisa di santap oleh Daniel
"Wah makan kamu banyak juga ya kak," tersenyum
Entah mengapa detak jantung Daniel saat itu berdetak tak menentu saat melihat senyuman yang tulus dari bibir Caca
"Ga, aku ga mungkin sama perempuan ini. Ini semua pasti cuma karena aku terbawa suasana aja, gimana juga aku yang menciptakan semua ini dan aku ga boleh ikut hanyut di dalam permainan yang aku ciptakan sendiri." tersenyum tipis
"Mungkin karena masakan kamu terlalu enak, aku sampai ga mau berenti makan"
Tiba-tiba saja senyuman di wajah Caca pun memudar dan dia pun menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sedikit bersedih, Daniel yang menyadari hal tersebut pun langsung menggenggam tangan Caca dengan lembut
"Kamu kenapa?"
Caca pun menatap ke arah Daniel dengan penuh arti
"Ga, orang yang ada di hadapan aku saat ini bukan kak Leo. Aku cuma berharap kamu ga akan menyakiti hati aku seperti yang kak Leo lakukan." tersenyum tipis
"Aku ga apa kok"
Daniel yang merasa Caca sedang berbohong pun langsung menepikan mobilnya dan memandang ke arah Caca dengan serius
"Kita akan terus di sini sebelum kamu jawab aku dengan jujur, kamu tadi kenapa?"
"Maaf ya kak aku jadi merusak suasana," tersenyum canggung
"Bukan jawaban itu yang mau aku dengar, kamu jawab dengan jujur atau kita akan ada di sini seharian." dengan tegas
Caca pun tersenyum tipis
"Iya dia bukan kak Leo, kak Leo dulu ga akan pernah perduli dengan apa yang aku pikirkan"
"Aku suruh kamu jawab malah senyum-senyum ga jelas gitu"
"Aku minta maaf sebelumnya sama kamu kak, sebenarnya tadi aku sempat ingat kak Leo"
Mendengar hal tersebut tiba-tiba saja ekspresi wajah Daniel pun menunjukkan apa yang sedang dia rasakan saat itu
"Jadi maksudnya kamu ingat laki-laki lain waktu kamu lagi sama aku," mengerutkan keningnya
"Kan makanya aku minta maaf, tapi terima kasih ya kak." tersenyum dengan tulus
__ADS_1
"Terima kasih buat apa?"
"Terima kasih karena kamu membuat aku sadar kalau di dunia ini ga semua orang seperti dia," tersenyum
"Maksud kamu?"
"Kamu membuat aku sadar kalau di dunia ini masih ada orang yang bisa mencintai kita dengan tulus," tersenyum dengan hangat
Kata-kata dan senyuman yang tulus dari Caca membuat hati Daniel terasa sakit, dia sendiri tak mengerti mengapa dia merasakan perasaan tersebut. Yang pasti hatinya benar-benar terasa sakit melihat ketulusan Caca
"Apa yang aku rasain saat ini? kenapa hati aku jadi sakit lihat dia seperti itu? apa akhirnya aku terjebak di permainan yang aku ciptakan sendiri?"
Daniel pun sudah duduk di bangku kebesarannya dan dia benar-benar tak dapat mengerti mengapa hatinya masih saja terasa terganggu saat mengingat senyuman Caca yang sangat tulus, hingga dia membuka layar komputer nya dan di sana terpampang jelas foto keluarga kecilnya
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? aku benar-benar sudah terjebak di dalam permainan yang aku ciptakan sendiri"
Lamunan Daniel pun terbuyar kan oleh suara ketukan pintu
"Masuk"
Abian pun masuk ke dalam ruangan Daniel dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja Daniel
"Ada apa?"
"Semuanya sudah siap pak"
Daniel terlihat bimbang akan keputusan yang akan dia ambil pada saat itu
"Apa ada masalah pak?"
Entah mengapa tiba-tiba saja Daniel pun kembali teringat akan senyuman tulus dari bibir Caca
"Apa aku harus menghancurkan senyuman itu?"
"Boleh saya berbicara tetapi tidak sebagai seorang bawahan?"
Daniel hanya terdiam dan menatap serius ke arah Abian, dia seperti menunggu apa yang akan Abian katakan
"Kalau hati kamu tidak yakin sebaiknya jangan lakukan, karena apa yang akan kamu lakukan akan menghancurkan hidup seseorang. Setidaknya dia sudah membayar untuk kesalahan yang sudah dia perbuat"
Daniel pun menyenderkan tubuhnya dan menutup kedua bola matanya, sikap Daniel benar-benar menunjukkan bahwa dia benar-benar bimbang untuk melanjutkan rencana yang akan dia lakukan
"Jadi bagaimana pak? apa akan tetap kita lanjutkan?"
"Batalin semuanya"
__ADS_1
"Baik pak"