
.
.
Laila menatap Gilang yang kembali masuk ke dalam mobil. Ia melangkah mundur hingga ke sisi gerbang saat suaminya melajukan mobil memasuki halaman. Laila mengejar suaminya itu.
"Mas,, mas.. Kita harus bicara, mas!" Sahut Laila.
Gilang menghentikan langkahnya merasakan tangan sang istri menyentuh tangannya. Ada desiran di dadanya, namun ia tepis.
"Nggak perlu. Saya capek, mau istirahat." Ucapan Gilang membuat Laila termangu.
Apa suaminya tak mencemaskan dirinya yang menghilang sejak kemaren siang? Air matanya kembali mengalir. Dengan refleks ia mengucapkan sesuatu yang membuat Gilang berhenti dari langkahnya.
"Mas, aku hamil." Ujar Laila.
Mencoba menetralkan detak jantungnya, Gilang kembali melangkah dengan cepat memasuki rumah. Laila mengikuti di belakangnya.
"Mas,, mas dengar aku. Aku hamil, mas. Kamu nggak senang sama kehamilan aku?" Tanya Laila.
"Bagus kalau kamu hamil. Dengan begitu akan semakin mudah untuk kita berpisah. Kamu sudah tau kan mengenai perjanjian saya sama Mama. Saya rasa nggak perlu waktu 3 bulan untuk kita bercerai." Gilang berucap dengan tenang.
Laila tercekat mdengan mata membulat mendengar pemuturan suaminya. "A,, apa? Mas,,, bukannya kamu sangat ingin punya anak? Kenapa kamu ngomong begitu, mas?"
"Ya, saya memang sangat ingin punya anak. Tapi, anak saya sendiri. Bukan anak dari laki-laki lain."
"Maksud mas Gilang apa? Ini anak kita, mas. Mas Gilang nuduh aku selingkuh?" Laila tak terima dengan tuduhan Gilang.
"Saya nggak perlu jawab, kan. Kamu pikir saya percaya sama kamu? Kita cuma melakukannya sekali. Dan saya yakin nggak akan langsung jadi. Nggak ada yang tau kan apa yang kamu lakukan saat saya pergi. Dan semalam kamu menghilang, sekarang datang-datang kamu mengaku hamil." Tutur Gilang lagi.
Sejujurnya ada rasa sakit saat ia harus mengeluarkan semua kata-kata itu. Sakit menghadapi kenyataan bahwa istrinya mengkhianatinya. Tak ada artinya semua usahanya untuk memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
Laila masih mencerna apa yang dikatakan suaminya. Apa maksudnya ini? Mengapa semuanya menjadi rumit? Kenapa Gilang menuduhnya selingkuh? Bukankah seharusnya Laila lah yang marah karena Gilang yang akan bertunangan dengan wanita lain sementara dirinya tengah mengandung darah daging suaminya itu.
"Kalau kamu mau aku bertanggung jawab, aku akan memberikan dispensasi atas pernikahan terpaksa ini. Tapi, kita tetap akan bercerai." Ucap Gilang lagi.
Laaila tak mampu berucap apa-apa lagi. Hanya deraian air mata yang kini menjadi saksi betapa sakitnya hati wanita itu. Lidahnya kelu. Ia hanya mampu menatap punggung sang suami yang perlahan menjauh seiring langkahnya menaiki anak tangga.
"Yaa Allah,,, mengapa jadi seperti ini? Tolong tunjukkan jalan untuk menyelamatkan pernikahan hamba yaa rabb" Lirih Laila yang kini terduduk di lantai.
.
.
Gilang menghempaskan pintu hingga menimbulkan bunyi. Ia berada di ruang kerjanya. Hatinya hancur. Baru sekarang ia menyadari jika dirinya sudah mencintai sang istri sangat dalam. Hingga sangat sakit rasanya saat mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Laila padanya.
Ia memijit keningnya yang terasa nyeri. Laila hamil. Masih terus terngiang perngakuan istrinya itu. Kenapa rasanya ada getaran aneh kala membayangkan kehamilan Laila. Oh mungkin karena dirinya yang terlalu menginginkan seorang anak, terlebih hal itu juga merupakan harapan Eyang.
"Laa,,, Apa kamu memang sangat ingin menghakhiri pernikahana kita? Apa kamu nggak bisa menerima pernikahan ini?" Ucap Gilang lirih.
Ia kembali tersentil mengingat bagaimana pernikahan ini bisa terjadi. Apa ia telah membuat Laila tersakiti karena memaksa gadis itu menjadi istrinya.
"Mas." Ujar Laila saat pintu sudah terbuka sempurna. Ia melangkah mendekati Gilang.
"Mas, kita harus bicara dulu, mas. Mas Gilang harus dengerin aku dulu." Ucap Laila memohon.
Gilang menatapnya tajam. Hatinya merasa harus membiarkan Laila berbicara. Ia ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh istrinya itu.
"Mas,, aku mohon mas Gilang percaya, kalau anak yang aku kandung ini anak kamu mas. Aku nggak pernah selingkuh, mas. Aku nggak pernah mengkhianati mas Gilang."
Gilang menatap lekat Laila, tak ada kebohongan dalam tatapan mata istrinya itu. Melainkan hanya ada keteduhan.
"Harusnya aku yang marah, mas. Mas Gilang tega mau tunangan sama wanita lain, padahal aku sedang mengandung anak kamu, mas." Kata Laila dengan air matanya yang sudah tak dapat ia tahan lagi.
__ADS_1
Gilang yang tadinya hanya diam kini mulai tersulut mendengar tuduhan Laila. "Apa maksud kamu? Kamu jangan membuat pengalihan, ya? Kamu mau melemparkan kesalahan kamu pada saya?" Ucap Gilang dengan penuh penekanan.
Laila tersentak mendengar nya. Kenapa suaminya seperti tak menerima dengan apa yang ia katakan? Bukankah jelas nama yang tertera di undangan tersebut nama Gilang. Laila takkan menuduhkan apapun jika itu tanpa bukti.
"Udahlah, Laila. Saya udah terlanjur muak dengan semua ini. Saya juga udah tau kalau selama saya ke Jogja, kamu sering ketemu sama Lelaki breng**k itu kan?"
Laila merasa sesak saat lagi-lagi Gilang menuduhnya. Memang benar ia sering bertemu Delon, tapi itu tanpa disengaja. Ia selalu bertemu dengan Delon secara kebetulan. Bahkan, lelaki itu juga kebetulan menolongnya disaat dirinya dalam bahaya.
"Saya lelah. Lebih baik kamu keluar. Jangan ganggu saya. Dan saya akan mengurus berkas perpisahan kita segera." Ucap Gilang akhirnya.
Laila ingin protes. Namun entah mengapa berat sekali mulutnya berucap. Tubuhnya terasa panas dingin, dan kepalanya berdenyut. Sejujurnya ia merasa lelah karena menempuh perjalanan jauh dalam kondisi tubuh yang kurang sehat.
Kala Gilang berbalik, ia terkejut mendengar suara sesuatu yang jatuh. Ia langsung berbalik dan mendapati Laila yang sudah tergeletak di lantai.
"Laila." Ucapnya menghampiri Laila. Ia mencoba membangunkan Laila. Entah mengapa ia merasa terenyuh melihat wajah pucat sang istri. Saat menatapnya dari dekat seperti ini Gilang baru menyadarinya.
Rasa cemas dan bersalah kini merasuki hatinya. Ia menyesal bersikap berlebihan pada Laila dalam menanggapi masalah yang sedang terjadi.
Gilang tersadar akan kehamilan Laila. Rasa cemas kian melandanya. Dengan segera ia mengangkat tubuh lemah istrinya itu dan membawanya ke mobil. Mereka pun segera ke rumah sakit. Entah mengapa, Gilang juga mencemaskan kandungan wanita berhijab yang tengah terpejam itu. Ia berharap Laila dan kandungannya baik-baik saja.
"Mama,,," Gumam Gilang. Ia teringat pada sang mama yang tadi siang memberinya peringatan untuk menjaga Laila dengan benar. Haruskah ia memberitahu keadaan Laila?
"Aku harus kasih tau mama, daripada mama taunya nanti dan marah."
Rasa ingin mengabarkan kepada wanita yang telah melahirkannya itu muncul begitu saja. Gilang sendiri bingung, ada sesuatu yang begitu mengganjal saat ini yang membuatnya merasa resah.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
.
.