Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Sandiwara Vivian


__ADS_3

Daniel sudah duduk di bangku kebesarannya dan kembali teringat akan semua kejadian di rumah sakit, dia ingat saat dia membelai ujung kepala Faizal dengan sangat lembut sebelum meninggalkan tempat itu


"Seandainya aku ga lupakan kalian, pasti saat ini kita sudah berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh"


Lamunan Daniel harus menghilang karena telepon yang berada di atas meja kerjanya berbunyi, menandakan sang asisten pribadi sedang menghubungi dirinya


"Ya"


"Maaf pak ada ibu Vivi minta bertemu dengan bapak"


"Mau apa dia sampai datang ke kantor segala?" memasang wajah malas


"Bilang aja ke dia kalau sebentar lagi saya ada meeting dan ga bisa ketemu sama dia," dengan tegas


"Baik pak"


Vivi sudah memasang wajah dingin begitu melihat ekspresi wajah sang asisten


"Mohon maaf bu pak Daniel tidak bisa menemui ibu karena sebentar lagi pak Daniel ada rapat penting," tersenyum sopan


"Jadi dia mulai menghindar dari aku?"


Tanpa banyak bicara gadis tersebut langsung meninggalkan gedung tersebut, sesampainya dia di dalam mobilnya dia pun segera menghubungi Daniel. Awalnya Daniel mengabaikan panggilan tersebut tetapi Vivi terus menghubungi Daniel hingga akhirnya Daniel pun menyerah


"Halo...." dengan dingin


"Kenapa kamu ga mau ketemu sama aku?"


"Apa kamu lupa dengan apa yang pernah saya bilang ke kamu?" penuh penekanan


"Kamu kira saya yang mau datang ke kantor kamu? semua karena kedua keluarga kita meminta saya untuk membicarakan kelanjutan rencana kita yang sebelumnya!!" menaikkan sedikit volume suaranya

__ADS_1


Daniel benar-benar tak suka akan sikap gadis tersebut, Daniel pun membuang nafasnya dengan kasar dan mengambil sebuah keputusan


"Dengarkan saya baik-baik dan saya hanya akan mengucapkan ini sekali ke kamu, pertama lupakan semua rencana yang sudah kita buat dan kedua jangan pernah menganggu saya lagi di kemudian hari. Paham?" dengan tegas


"Apa maksud kamu? kamu ga bisa berbuat seenaknya begini!!"


"Tentu saya bisa, karena ga ada satu pun orang di dunia ini yang berhak mengatur hidup saya!!"


Tanpa menunda waktu lagi Daniel langsung memutuskan sambungan teleponnya, sedangkan Vivi yang merasa hatinya sedang terbakar oleh emosi pun langsung melempar ponselnya ke sembarang arah


"Sial!! ini pertama kali di dalam hidup aku di permalukan seperti ini sama laki-laki!! semua pasti karena perempuan itu!! jangan sebut nama aku Vivian kalau aku menyerah sampai di sini"


Vivi segera menjalankan mobilnya untuk mengambil langkah selanjutnya, kini dia bertekad mendapatkan Daniel bukan hanya sekedar untuk keinginan dirinya. Tetapi lebih ke arah mempertahankan harga dirinya selama ini yang tak pernah di tolak oleh laki-laki manapun


Sedangkan Daniel langsung membuka foto Caca dan sang buah hati yang berada di ponselnya, dia mendapatkan foto tersebut dari Abian. Ternyata saat di rumah sakit Daniel mengirimkan pesan kepada Abian untuk mengambil foto mereka secara diam-diam


"Saat saya ga mengingat apapun tentang dia saya bersedia menikah walaupun dengan setengah hati, tapi sekarang saya sudah mengingat semua tentang dia. Bahkan kini kami sudah memiliki jagoan kecil di antara kami, ga ada sedikit pun keinginan saya untuk melepaskan mereka"


Dan kini Vivi sedang memainkan peran dirinya sebagai seorang gadis yang teraniaya dengan sangat baik di hadapan keluarga Perkasa, Vivian menjatuhkan air matanya dengan sangat hebat seolah dia sedang terluka parah


"Tapi tante perempuan itu keterlaluan, dia bahkan bilang kalau dia ga akan pernah melepaskan Daniel karena mereka sudah punya seorang anak tante"


Semua orang yang ada di tempat itu langsung menatap dengan serius ke arah Vivian


"Anak? maksud kamu perempuan itu punya anak dari Daniel?"


"Aku ga yakin tante itu anak Daniel atau bukan, tapi perempuan itu bilang dia pernah menghabiskan malam bersama Daniel. Dan dia dengan licik menggunakan anak itu sebagai alasan mengikat Daniel tante," menangis dengan hebatnya


Seluruh orang di tempati itu pun langsung memasang wajah penuh emosi, bagaimana pun juga mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap Daniel karena Daniel kini hanya seorang diri. Mereka merasa mereka adalah pengganti orang tua Daniel di dunia ini


Vivian terus memainkan peran yang sedang dia jalankan dengan sangat sempurna, sehingga salah satu wanita yang berada di sana menjadi tak tega dan langsung berpindah duduk tepat di samping Vivian dan memeluk gadis tersebut

__ADS_1


"Kamu tenang dulu ya, kamu adalah perempuan satu-satunya yang telah kami pilih untuk menjadi istri Daniel. Dan untuk perempuan itu biar kami yang bicara sama dia," dengan lembut


Vivian pun langsung menatap ke arah orang tersebut


"Tapi gimana kalau Daniel jadi marah tante?"


"Kita kan bisa temui perempuan itu tanpa Daniel tau, tante yakin perempuan seperti itu cuma menginginkan uang. Jadi itu hal yang mudah," tersenyum hangat


Vivian pun langsung memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut dengan sangat erat


"Terima kasih ya tante, kalau ga ada dukungan dari tante dan yang lainnya aku ga tau harus gimana lagi. Aku sudah jatuh cinta dengan Daniel tante dan aku ga mau kehilangan dia tante"


Wanita tersebut pun tersenyum bahagia karena dia fikir dia sudah menemukan wanita yang sempurna untuk Daniel, sedangkan Vivian sedang tertawa bahagia di dalam hatinya


"Ups maaf.. Karena dalam kehidupan Vivian selama ini belum pernah ada sejarahnya tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, kamu boleh menjadi masa lalu dia tapi kamu bahkan hilang dari ingatan dia. Dan yang terpenting kamu ga mendapatkan dukungan yang kuat seperti saya"


"Tapi apa ga akan jadi masalah tante?" menatap dengan sayu


"Kamu percaya aja sama tante ya, sekarang juga tante akan cari nomor perempuan itu dan menghubungi dia." dengan yakin


"Apa aku boleh ikut saat tante bertemu dengan perempuan itu?"


"Tapi apa kamu baik-baik saja kalau bertemu dengan dia sayang?"


Vivian menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali


"Karena saya mau lihat perempuan itu di permalukan secara langsung"


"Ya udah kalau semua sudah clear tante kabari kamu ya sayang," dengan lembut


Vivian pun memeluk tubuh wanita yang ada di hadapannya sekali lagi tanpa rasa malu sama sekali

__ADS_1


"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih ya tante"


Tanpa mencari tau apapun kebenaran yang ada keluarga besar Daniel mencari tau tentang nomor telepon Caca, Mereka semua seolah terhipnotis oleh sandiwara yang Vivian mainkan. Dan sudah pasti bukan hal yang sulit bagi keluarga sebesar mereka mendapatkan informasi seperti itu, yang kini ada di dalam benak mereka adalah mereka harus secepat mungkin menekan dan menyingkirkan Caca dari sisi Daniel


__ADS_2