Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 17


__ADS_3

Faizan melangkah memasuki rumah dengan langkah cepat. Ia hendak menuju ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang sedang duduk di kursi meja makan. Ia pun berniat untuk menghampiri istrinya.


"La!" Sahutnya membuat Laila tersentak. Ia merasa heran dengan reaksi istrinya itu. Pasti Laila sedang bermenung.


"Mas Gilang?" Ucapnya terkejut.


"Ngapain kamu melamun disini?" Tanyanya.


Laila yang kembali teringat perkataan seseorang di ponsel suaminya tadi, hanya diam dan tak menjawab.


"La!" Panggil Gilang lagi dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Hah?" Lagi-lagi Laila tersentak.


Faizan terlihat jengah. Ia pun memilih untuk tak membahas permasalahan Laila yang melamun. Ia ingin meminta tolong pada sang istri untuk membantu menyiapkan beberapa pakaian yang harus ia bawa.


"Tolong bantu saya nyiapin keperluan buat saya bawa ke luar kota. Saya ada pekerjaan beberapa hari." Katanya.


Laila tertegun mendengar perkataan Gilang. Ia pikir Gilang tak akan mengatakan apapun padanya. Jujur saja, ia menjadi berspekulasi begitu karena mendapat pengalaman dari persoalan rumah tangga Naya dan Faizan yang dulu sempat berantakan. Karena, itu ada sedikit keraguan di hatinya yang mengira mungkin saja Gilang bisa bersikap seperti Faizan dulu.


Meski sebenarnya ia tak ingin berburuk sangka pada suaminya, namun rasa cemasnya itu datang begitu saja. Apalagi ia tak begitu paham dengan karakter laki-laki seperti apa saja.


"La! Kamu dengar nggak?" Tanya Faizan dengan wajah kesal.


"I,, iya, mas." Ucapnya cepat dan bergegas menuju kamarnya.


Faizan menatap kepergian Laila dengan wajah datar. Ada rasa bersalah karena ia sempat mencerca Laila dengan kata-katanya tadi pagi. Ia yakin bahwa Laila merasa sakit hati dengan perkataannya itu.


Tanpa mau membuang-buang waktu, Faizn menyusul Laila ke kamar. Sesampai di kamar ia langsung mencari ponselnya. Ternyata benda pipih pintar itu ada di atas meja nakas. Ia pun mengambilnya. Tanpa memperhatikan ia langsung mendial nama kontak Romi.


"Halo, gimana? Jadwal keberangkatan saya sudah siap, kan?" Tanyanya setelah mendengar sapaan dari seberang.


"Loh,,, bukannya tadi saya sudah mengabarkan ke bapak?"


"Apa? Kamu belum ngasih tau saya apapun." Ucap Gilang bingung.


"Tapi, tadi saya udah telfon bapak, dan setelah bapak angkat saya langsung menjelaskan semuanya, pak." Pungkas Romi yang sepertinya juga bingung.

__ADS_1


Faizan menghelas napas ringan. Ia mencoba berpikir apa yang dimaksud oleh sekretaris sekaligus asistennya itu. Seketika matanya beralih menatap Laila yang keluar dari kamar mandi dengan membawa perlengkapan mandi miliknya.


Ia berpikir, apa mungkin yang dimaksud Romi yang mengangkat telepon tadi adalah istrinya? Tapi, mengapa Laila tak mengatakan apapun padanya?. Gilang semakin bingung saja dibuatnya.


"Oke. Saya tutup." Ucapnya mengakhiri panggilan.


.


.


Di kantor, terlihat Pak Farhan tengah mengobrol dengan sang istri. Bu Anne sepertinya tengah menuntut sesuatu dari sang suami. Terlihat dari sikap Pak Farhan yang terus menolak dengan lembut.


"Pah, ayo lah. Kalau papa nggak mau nurutin ide mama, biar mama yang bawa Laila sendiri kesana." Putus Bu Anne.


Pak Farhan menghela napas berat. Sedari tadi ia telah berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan apapun tentang alasannya mengutus Gilang tanpa menantunya ke Jogja. Namun, istrinya ini seakan benar-benar mengujinya.


"Mah." Tegasnya menghentikan ocehan tak henti dari mulut istrinya.


"Papa sudah tau semua yang mama sembunyikan mengenai pernikahan Gilang dan Laila." Ucapnya.


"Dan, asal mama tau. Papa sudah mengatur semuanya. Mulai dari tugas Gilang ke luar kota. Dan Papa ingin tau bagaimana perasaan Gilang sebenarnya pada menantu kita. Dan mama tau? Siapa yang memgirim bunga untuk Laila?" Tanya Pak Farhan di akhir perkataannya barusan.


"Ya, Gilang, kan?" Ucapnya.


'"Bukan! Pengirim bunga itu adalah orang lain. Bukan anak kamu itu, yang gengsinya akut. Lelaki yang mengirim bunga untuk Laila adalah lelaki yang selama ini jatuh hati pada menantu kita. Dan dia sekarang sepertinya tak menerima kalau Laila sudah menikah." Pak Farhan menjelaskan.


Bu Anne terpaku dengan pikirannya. "Ta,,tapi. Bagaimana Papa bisa tau?" Tanya Bu Anne gugup.


Pak Farhan hanya menggeleng. Ia rasa tak perlu menjelaskan pada istrinya, karena pasti istrinya ini akan tahu sendiri.


"Kenapa Papa tidak menawarkan untuk Laila ikut sama Gilang, karena anak itu sendiri tidak terpikir untuk membawa istrinya." Ucap Pak Farhan memecah keheningan istrinya yang tengah dilanda kebingungan itu.


Pak Farhan menyentuh bahu sang istri yang masih hening. Ia yakin Istrinya merasa risau karena kehidupan rumah tangga anak dan menantu mereka.


"Mah. Lebih baik sekarang mama coba temuin Laila. Karena, papa rasa menantu kita itu sedang tidak baik-baik saja. Laila pasti butuh hiburan dari kita, karena Gilang jelas-jelas telah bersikap buruk padanya." Seru Pak Farhan dengan lembut.


Bu Anne yang setuju dan membenarkan argumen suaminya itu, kemudian mengangguk. Setelahnya ia langsung pamit. Niatnya adalah untuk menemui menantunya, Laila.

__ADS_1


Selepas kepergian istrinya, Pak Farhan kembali hanyut dengan pikirannya. Ia berjalan perlahan ke arah meja kerjanya. Setelahnya lelaki paruh baya itu duduk dengan sikut menumpu pada meja dan jemarinya ia gunakan untuk memegang dagu.


Pernikahan terpaksa. Begitulah yang tepat untuk menantunya, Laila. Ya, memang benar kan jika Laila menikah dengan putranya dengan terpaksa. Hanya karena sandiwara tiba-tiba yang dilakukan perempuan yang kini telah menjadi menantunya.


Awalnya Pak Farhan tak pernah terpikir jika anak dan menantunya berada dalam situasi seperti sekarang, dan sampai ia mencaritahu kejelasannya.


Namun, semua bermula semenjak dirinya tak sengaja mendengar perkataan salah satu pengunjung mall yang berpapasan dengannya saat hendak meeting.


".. *Ya, gue kira Laila waktu itu bohong loh. Eh, ternyata mereka beneran suami istri." Ucap salah satu wanita yang berpakaian modis.


"Ckk. Gue sih awalnya juga nggak percaya. Karena, kan kita nggak pernah dapat kabar soal pernikahannya. Teman-teman yang lain juga loh. Makanya gue waktu itu sengaja ngebuli dia." Jawab wanita yang lainnya.


Wanita yang ketiga terlihat menghela napas berat. "Gue apa lagi. Setau gue ya, Laila nggak pernah deket sama cowok manapun. Tapi, pas Kalista ngebuli dia, itu anak malah nunjukin suminya. Mana ganteng lagi." Terlihat wanita itu memasang wajah sedih.


"Eh, tapi masa aneh loh. Anaknya udah segede itu aja?" seru salah satu wanita itu. Seketika mereka terdiam dan saling menatap.


Pak Farhan yang mendengar soal anak, merasa dadanya bergemuruh. Anak siapa yang mereka maksud? Apa bener Laila yang dimaksud oleh ketiga perempuan muda itu adalah menantunya? Dan anak siapa yang mereka bicarakan?


Semua obrolan ketiga wanita tersebut terus saja terngiang di pikiran Pak Farhan. Entah mengapa ia menjadi tertarik untuk mencari tahunya*.


.


.


"Papa berharap kamu nggak salah bertindak nantinya, Lang. Dan semoga saja kamu bisa mencintai istri kamu, dan pernikahan kalian baik-baik saja."Ucapnya penuh harap.


Meski ia telah mengetahui semuanya, namun ia tak ingin mengungkap semuanya sekarang dan meminta penjelasan anaknya itu. Ia ingin melihat dulu bagaimana ke depannya hubungan mereka. Jika nanti Gilang salah bertindak, barulah ia akan turun tangan.


.


.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


__ADS_2