Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 40


__ADS_3

.


.


"Gue nelfon lo sekarang karena gue mau lo suruh Laila berhenti dari Kafe." Ucap Gilang lagi yang seketika benar-benar menciptakan keheningan diantara mereka.


Terdengar helaan napas dari Faizan. Sepertinya Faizan bimbang dengan apa yang Gilang ucapkan. Memang tiba-tiba. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi sahabatnya, selain hanya diam.


"Zan. Gue mohon, lo tolong minta Laila berhenti kerja di Kafetaria istri lo. Ini untuk kebaikan dia juga." Gilang memohon dan melupakan tentang sikap cueknya terhadap sang istri yang selalu ia tunjukkan pada sahabat-sahabatnya.


Sementara Faizan di seberang sana benar-benar heran dengan Sahabatnya itu. Seharusnya Gilang yang melarangnya langsung dan meminta Laila untuk berhenti bekerja. Bukan malah meminta dirinya untuk mengatakan pada wanita itu. Yang ada nanti Laila bisa tersinggung.


"Kenapa lo tiba-tiba pengen Laila berhenti kerja?" Tanya Faizan.


"Ya,,, gue cuma ngerasa kalau sudah seharusnya dia berhenti kerja dan di rumah aja. Gue kan bisa memenuhi kebutuhan dia." Gilang diam sejenak.


"Dia juga butuh istirahat, Zan. Karena di rumah gue nggak ART lagi. Semua pekerjaan dia yang ngerjain." Gilang masih terus menjelaskan.


"Gilang,,, Gilang. Jujur aja lah, lo udah mulai cinta sama istri lo, kan?" Faizan mengejeknya.


Gilang tak membalas perkataan Faizan. Meski sejujurnya ia sangat ingin mengatakan bahwa benar dirinya telah mencintai sang istri. Namun, lidahnya terasa berat untuk mengatakannya.


"Udah, deh. Pokoknya gue minta tolong sama lo. Atau lo bilang ke Naya aja. Naya pasti mau ngomong itu ke Laila." Kata Gilang terdengar memohon meski ia berusaha berbicara seperti biasa saja.


Setelah obrolan mereka berakhir, kini Gilang segera bersiap untuk pergi. Ia sudah tak mau menunda lagi kepulangannya. Sudah cukup dirinya mengabaikan sang istri yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


Sementara Faizan, kini lelaki itu terdiam di meja kerjanya setelah sesi teleponannya bersama samg sahabat berakhir. Ia sungguh heran dengan sahabatnya itu. Entah apa yang dipikirkan Gilang hingga ia melakukan hal ini. Sulit ditebak.


Ia telah mewanti-wanti pada agar Gilang tak mengulangi apa yang telah Faizan lakukan pada Naya dulu. Menyakiti istrinya hanya akan membuatnya menyesal suatu nanti. Seperti apa yang telah Faizan alami. Dan ia tak ingin hal yang sama juga dialami sahabatnya.


Namun, sepertinya Gilang terus saja menutup telinga dan hatinya hingga bersikap seperti sekarang, seakan tak mendengar semua peringatan darinya.

__ADS_1


Faizan sungguh jengah. Harus bagaimana lagi ia memberitahukan pada sahabatnya itu. Haruskah ia meneriaki Gilang, mengatakan semua nasehatnya di telinga lelaki itu? Sepertinya tak ada gunanya. Mungkin memang Gilang harus menerima ganjarannya dulu baru akan sadar dan menyesali semuanya.


.


.


Laila memejamkan mata sebelum bibirnya tergerak untuk berbicara. "Pusing, kak." Jawabnya.


"Kamu nggak apa-apa kok. Istirahat aja ya. Berdasarkan pemeriksaan aku, kayaknya kamu hamil La." Kata Putri menatap Laila dengan senyum mengembang di bibirnya.


Mendengar hal itu, Laila terpaku. Antara senang dan takutlah yang kini ia rasakan.


"Untuk lebih jelasnya, kamu coba tes pakai tespack dan abis itu kamu coba periksa ke dokter kandungan, ya." Saran Putri.


Laila mengangguk. Tangannya tergerak untuk menyentuh perutnya yang masih datar. Secepat ini? Apa yang harus ia lakukan sekarang?


"Aku permisi ya, La. Kamu kurangi aktivitas dulu, ya. Istirahat aja." Lagi, Putri mengingatkannya untuk menjaga diri.


"Mm, kak. Tolong jangan kasih tau Mas Gilang dulu, ya." Pintanya.


Putri pun seketika tersenyum mendengar penuturan Laila. Ia lalu mengangguk menyetujui. Setelahnya dokter muda itu benar-benar berlalu.


"..... Kamu hamil,,,,, kamu hamil,,,,, kamu hamil,,,,," Kata itu terus saja berputar di kepala Laila. Ada ketakutan yang kian menyerang saat sebuah memori juga ikut berputar di ingatannya.


",,,,Kalau nanti kamu ingin bercerai, kita bicarakan setelah pernikahan,,,,,."


"........ Aku terpaksa menikah sama dia, mah. Dan nanti mungkin kami akan berpisah.,,,,"


Laila memejamkan mata menahan sesak di dadanya. Sejujurnya ia merasa sangat senang karena akan menjadi seorang ibu. Namun, kondisi rumah tangganya yang membuat Laila kian resah akan nasib anaknya nanti jika saja mereka memang benar-benar bercerai.


Ulfi menghampirinya membawakan air minum untuknya. Ulfi memberikannya pada Laila. Adik iparnya ini sungguh baik dan sangat perhatian padanya. Ulfi menatap Laila dengan lekat. Sungguh ia merasa sedih melihat Laila sekarang. Ia sudah tahu jika Laila hamil karena tadi dirinya tak sengaja mendengar percakapan Laila dan Putri. Dan sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya kala mendengar jika Laila hamil dan belum ingin memberitahukan pada Gilang. Ia akan mengikuti permainan Laila.

__ADS_1


"Kakak ada pengen sesuatu, nggak?" Tanya Ulfi.


"Enggak kok. Makasih, ya. Kamu perhatian banget sama kakak." Ucap Laila menatap Ulfi dengan tatapan dalam.


"Nggak usah makasih kali kak. Kakak kan kakak ipar aku. Kita ini keluarga. Wajar dong kalau saling membantu." Jawab Ulfi yang dibalas senyuman oleh Laila.


"Oh, iya. Kakak tadi kenapa bisa pingsan di taksi," Tanya Ulfi.


Laila menghembuskan napas berat. "Kakak tadi tiba-tiba aja pusing, Fi. Nggak tau deh, sampai pingsan. Pas bangun udah di kamar aja." Cerita Laila.


"Kalau kakak tiba-tiba udah di rumah, itu karena aku tadi nelfon kakak. Yang angkat ternyata supir taksinya. Aku suruh kakak diantar kesini." Kata Ulfi.


"Oh,, syukur lah supir taksinya baik." Laila bernapas lega.


"Kak. Aku masak ya. Buat kakak makan. Pasti kakak lapar, kan." Ucap Ulfi.


"Kamu mau masak apa? Nggak usah deh. Mendingan kamu pesan makanan aja, Fi." Kata Laila.


"Aku pengen masak sesuatu aja buat kakak. Kan biasanya kakak yang selalu masak selama aku nginap disini." Ulfi terlihat begitu tulus pada Laila. Ia menggenggam tangan kakak iparnya itu.


Laila hanya menanggapinya dengan tersenyum. Setidaknya ia masih bisa merasakan rasanya diperhatikan disaat-saat seperti sekarang. Dalam masa ngidamnya dengan suasana hati yang berubah-berubah, Laila hanya butuh dimengerti. Walaupun suaminya sendiri tak peduli padanya, masih ada adik iparnya yang sayang padanya.


"Ya, udah. Sekarang kakak istirahat aja. Kalau kakak butuh sesuatu, panggil aku ya. Aku siap 24 jam buat kakak." Kata Ulfi dengan bergaya memberi hormat pada Laila.


Hal itu membuat Laila semakin terhibur. Bersyukur sekali ia memiliki adik ipar seperti Ulfi yang baik dan tulus padanya. Sehingga Laila tak terlalu canggung dengan keluarga suaminya meski Neta sangat membencinya.


Ulfi yang mendapat persetujuan dari Laila pum langsung pergi ke dapur. Laila hanya menatap kepergian Ulfi dengan tersenyum.


.


.

__ADS_1


...Bersambung......


.


__ADS_2