
.
.
Mama nggak habis pikir sama kamu, Gilang. Dan asal kamu tahu, Kalista sudah membuat keadaan semakin kacau. Dia yang sudah membuat Laila nekat pulang kesini sendirian sampai keadaan jadi seperti ini. " Curah Bu Anne yang tak terima dengan apa yang dilakukan wanita yang dulu pernah hampir menjadi menantunya.
"Maksud mama apa? Kalista ngapain, mah?" Tanya gilang bingung. "Tunggu,, Jadi Mama yang nyembunyiin Laila?" Ujarnya penuh selidik.
"Iya,, mama yang udah bawa istri kamu ke rumah lama kita." Aku Bu Anne.
"Tapi kenapa, mah? Gara-gara mama nyembunyiin Laila, semuanya jadi kacau." Kali ini giliran Gilang yang tanpa sadar menyalahkan sang ibu.
"Mama tau kalau mama juga salah. Dan mama minta maaf. Mama akan menjelaskan semuanya sama Laila. Mama mau lihat keadaan Laila dulu. Dan satu lagi, kamu jangan pernah lagi menuduh Laila selingkuh. Dan anak yang dikandung istri kamu itu anak kamu. Ingat itu." Ucap Bu Anne tegas.
Bu Anne pun memasuki ruangan Laila. Pak Farhan mengikuti di setelah menepuk pelan pundak putranya itu. Ia hanya bisa memberi dukungan untuk putranya menghadapi masalah ini.
"Pah, aku mau keluar sebentar. Aku titip Laila ya, Pah." Ucap Gilang sendu.
Pak Farhan mengangguk sebelum melanjutkan langkahnya mengikuti sang istri memasuki ruangan rawat menantunya.
Flashback off...
.
.
Di ruang makan sebuah rumah seorang wanita paruh baya tengah mengemasi peralatan makan dibantu oleh asisten rumah tangga. Ia sesekali tersenyum menoleh ke ruang tengah dimana suami dan putra keduanya tengah berbincang.
Ada hembusan napas lagi kala menyaksikan pemandangan itu. Sudah lama ia merindukan suasana demikian, mengingat putranya itu baru sudah lama menetap di luar kota untuk bekerja.
"Bu, Siti langsung cuci, ya." Kata ART nya.
"Iya, siti." Jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu Nora.
Bu Nora kemudian mengumpulkan gelas. Saat ia menjangkau gelas yang agak jauh, tak sengaja sebelah tangannya terpeleset di kaca meja membuatnya menyenggol salah satu gelas. Gelas tersebut jatuh dan pecah.
"Astaghfirullah.." Ucap Bu Nora refleks.
Hanif dan Ayah menoleh karena ikut terkejut. "Bunda?" Ucap mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
Pak Rafli bergegas menghampiri sang istri diikuti oleh Hanif.
"Bunda nggak apa-apa, kan?" Tanya pak Rafli.
"Nggak apa-apa, Yah." Bu Nora berucap dengan wajah tegang. Ia tiba-tiba teringat pada putrinya. Apa putrinya baik-baik saja? Ia berharap begitu.
"Bun." Hanif membuyarkan keheningan Bu Nora dalam lamunannya. "Bunda kenapa?" Tanya Hanif heran.
"Enggak. Bunda nggak apa-apa. Bunda beresin ini dulu." Ucap Bu Nora.
"Biar Hanif aja. Bunda sama Ayah duduk aja dulu." Ujar Hanif.
Pak Rafli membimbing sang istri menuju sofa. Bahkan Bu Nora masih terlihat gelisah, dan hal itu disadari oleh suaminya.
"Bun,, apa yang bunda pikirin?" Tanya Pak Rafli.
Bu Nora menatap sang suami. "Laila, Yah. Bunda kepikiran sama Laila." Curahnya. "Apa bunda telfon Laila aja ya?" Ucapnya yang diangguki oleh sang suami.
Bu Nora mengambil ponselnya di kamar. Ia langsung menghubungi sang putri. Rasa rindu kini mulai ia rasakan. Entah mengapa, namun ia merasa jikalau Laila sangat membutuhkan dirinya saat ini. Ingin sekali ia berada di dekat putrinya itu.
"Yah, nggak diangkat, Yah. Bunda takut kalau Laila kenapa-napa." Bu Nora terlihat sedih.
Begitu panggilan tersambung, ia merasa lega. Karena di nada ketiga panggilannya langsung dijawab oleh besannya.
"Assalamu'alaikum Jeng, Anne." Ucap Bu Nora.
"Waalaikumsalam, jeng. Bagaimana kabarnya, jeng?" Tanya Anne dari seberang.
"Alhamdulillah, saya baik. Bagaimana dengan keluarga disana, Jeng?"
"Disini juga baik-baik aja, jeng. Mm,, tapi ada kabar yang mau saya sampaikan sama Jeng Nora dan Mas Rafli, karena kebetulan Jeng Nora menelfon." Kata Bu Anne.
Bu Nora yang telah mengaktifkan speaker teleponnya pun menatap sang suami yang sama penasaran.
"Sebentar lagi saya akan punya cucu, dan cucu Jeng Nora bakalan nambah loh, Jeng." Besannya itu terdengar bahagia membuat Bu Nora mencoba berpikir. Dan untungnya ia dapat mencerna dengan cepat maksud dari kabar yang diberikan oleh besannya itu.
"Apa maksud Jeng Anne,,,, Laila hamil?" Tanya Bu Nora ragu.
"Iya, benar Jeng."
__ADS_1
Bu Nora dan Pak Rafli pun berucap syukur mendengar kabar tersebut. Ia bernapas lega. Ternyata putrinya baik-baik saja.
"Lalu, bagaimana keadaan Laila sekarang, Jeng?"
"Sekarang Laila baik-baik aja, Jeng. Ya, tadi memang sempat pingsan, untungnya Gilang langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi Jeng Nora dan Mas Rafli nggak usah terllau khawatir, karena sekarang Laila udah baik-baik aja."
"Syukur lah kalau begitu. Saya lega mendengarnya. Saya titip Laila ya, Jeng. Terima kasih karena Jeng Anne sudah menyayangi putri saya dengan tulus." Ucap Bu Nora merasa terharu.
"Sekarang Laila juga putri saya, Jeng. Saya sangat menyayangi Laila."
Setelah perbincangan itu, akhirnya Bu Nora bisa bernapas lega. Mungkin gelas lecah itu karena memang ia tidak sengaja. Ia berharap dan berdoa untuk kebahagiaan keluarganya. Semoga kelak cucunya yang sedang tumbuh di dalam rahim putri bungsunya itu dapat menjadi anak yang sholeh dan sholehah nantinya.
.
.
.
Sebuah jeritan terdengar di dalam kamar bernuansa putih gading itu. Terlihat seorang wanita yang sangat cantik tengah mengamuk mengacak seluruh isi kamarnya. Ia sangat marah mendengar kabar dari managernya.
"Aaaargghhh.." Lagi-lagi Kalista berteriak.
Ya, ia baru saja menerima kabar pemutusan kontrak dari agensi tempatnya bekerja.
"Breng**k. Gimana gue bisa nggak tau kalau pemegang saham terbesar di Agensi itu adalah Gilang." Ucapnya marah.
"Gilang benar-benar keterlaluan. Gue nggak terima diperlakukan seperti ini. Dasar cowok breng**k."
Kalista memukul-mukul kasur yang ia duduki. Amarahnya benar-benar tersulut. Ia sangat membenci Gilang dan istrinya. Ya, istrinya itu telah membuat Gilang benar-benar tak bisa ia sentuh. Kini karirnya harus hancur karena wanita itu.
"Bisa-bisanya Gilang bikin gue kehilangan pekerjaan, cuma gara-gara perempuan itu. Sia*an. Apa kelebihan itu cewek sih, sampai Gilang bener-bener ngelupain gue??"
Kalista berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya memerah karena amarah. Ia mengambil vas bunga yang ada di nakas lalu memukulkannya pada cermin tersebut. Kini cermin tempatnya biasa mengagumi kecantikannya itu sudah pecah tak berbentuk.
"Gue akan balas semua yang udah kalian lakukan ke gue. Gue akan balas. Kalian tunggu aja." Ucapnya penuh penekanan dalam setiap kata-katanya. "Kalau gue nggak bisa bahagia, kalian juga nggak akan bahagia!!"
Kalista yang sedang diliputi amarah itu tiba-tiba tertawa dengan suara yang keras. Hatinya hancur. Benar, tadinya ia masih memiliki secercah harapan untuk kembali memiliki lelaki yang bisa membuat hidupnya sejahtera itu. Namun, semua benar-benar pupus sekarang.
.
__ADS_1
.