
Akhirnya hari yang di tunggu pun datang. Qian berhasil lulus dan masuk 10 besar nilai terbaik. Cukup memuaskan dan bagi seorang Qian ini adalah pencapaian luar biasa.
Ternyata menjauhi Qian dari teman-temannya cukup mujarab membuat Qian yang pada dasarnya memang pintar itu untuk belajar.
Memang karena suntuk di rumah Qian jadi mau tidak mau hanya bisa berkutat dengan buku pelajaran saja beberapa bulan ini.
Untuk merayakan kelulusan Qian. Ibunya sengaja membuat pesta kecil di sebuah restoran yang cukup berkelas.
Qian menikmati makan malam ini dengan keluarga kecilnya dan ada tambahan sang pengasuh juga diantara mereka.
"Minggu depan kamu siap-siap buat tes masuk universitas, Qian. Mama sudah siapkan semua. Nanti kamu sama Mas Alzam bisa sama-sama kerja di rumah sakit kita," tutur ibunya di sela acara makan malam.
"Mama pengen ya aku koleksi mayat tiap hari?" sungut Qian.
"Dokter itu pekerjaan mulia. Lagian untuk apa kita punya rumah sakit kalo akhirnya kerja pun harus cari tempat lain. Lebih baik kita manfaatkan aset yang ada. Cari kerja zaman sekarang itu susah," terang ibunya.
"Kamu bisa bikin desain itu sebagai hobi kamu. Dokter jadi pekerjaan utamanya kamu. Kamu itu pinter. Mama yakin kalo kamu jadi dokter kamu bisa jadi dokter yang hebat," bujuk ibunya lagi.
Alzam dan sang pengasuh tampak tak banyak bicara. Mereka lebih memilih diam jika ibu dan anak ini sedang berdebat.
__ADS_1
Qian mulai berpikir. Dia tidak bisa diatur-atur ibunya terus begini. Desain grafis adalah impiannya. Ibunya tidak bisa menghalanginya begitu saja.
'Baik. Aku akan berusaha dengan caraku. Aku nggak mau jadi boneka Mama kayak Alzam,' batin Qian penuh dengan rencana. Dia menyunggingkan senyuman liciknya.
Selanjutnya malam itu mereka habiskan dengan makan malam yang berkelas di restoran mahal tersebut dan di selingi dengan obrolan ringan sekitar kehidupan mereka sehari-hari.
***
Pada suatu pagi. Maya masuk ke ruang penyimpanan barang-barang branded-nya. Di sana sudah tertata dengan rapih dari gaun, tas, sepatu aksesoris dan semua yang berhubungan dengan pakaian mahalnya.
Dia memang membuat ruang khusus untuk penyimpanan semua itu karena jika di simpan di kamar pribadinya tentu tidak akan memadai. Karena Maya termasuk wanita sosialita yang suka dandan dengan barang mahal.
"Kok ada yang aneh ya, sama tas ini. Kayak ada yang kurang," gumam Maya melihat deretan tas branded-nya. Dia merasa ada yang kurang. Tapi karena sudah terlalu banyak jadi Maya pasti tidak akan begitu ingat. Hanya saja dia yang biasa merapihkan semua sendiri bisa rasakan kalau ada yang kurang.
"Ah, mungkin cuman perasaan aku aja," sanggah Maya cepat. Lagian dia juga harus buru-buru siap-siap jika tidak ingin terlambat.
***
Setelah merasa cukup dengan yang ia butuhkan, Maya pun kembali mengunci ruangan tersebut.
__ADS_1
Baru saja dia melangkah beberapa langkah. Dia kembali di kaget kan oleh teriakan bunda Retno.
"Mbak ... Mbak ...," panggilnya buru-buru dengan langkah cepat berlari menuju Maya yang tengah menatap Retno heran.
"Qian ... Qian nggak ada di kamarnya. Aku udah cari dia kemana-mana tapi terap nggak nemu," ungkap Retno khawatir.
Maya pun buru-buru menuju kamar Qian. Dia memeriksa semuanya. Alangkah kagetnya dia saat memeriksa lemari Qian yang sudah kosong, yang tertinggal hanya gantungan baju dan beberapa helai pakaian Qian saja.
"Sepertinya dia kabur," gumam Maya geram. Dia coba untuk tenang. Dia memejamkan matanya sesaat dan menarik nafasnya.
Tidak lama Alzam datang.
"Mah! Kayaknya Qian jual tas Mama deh di Instagram nya," tunjuk Alzam pada layar handphone nya yang menunjukkan foto tas sang ibunda terpajang dengan estetik di sana. Di Instagram Qian. Tertulis 'di jual cepat' dan itu di pajang kemarin.
Sekarang Maya paham kenapa dia merasa aneh dengan lemari tasnya tadi.
"Kayaknya dia kabur ke tempat papa, Mah. Dia pasti nggak mau kuliah kedokteran. Sebab semua ijazah dan keperluan pendaftaran kuliah dia bawak semua," tambah Alzam. Maya merasa semakin sesak dengan kenakalan putranya yang satu ini. Dia tidak pernah bisa di atur.
"Udah Alzam. Mama pusing. Dia mau apa sekarang terserah sama dia. Mama capek," ungkap Maya terduduk lemas di ranjang Qian seraya menekan kepalanya yang mulai terasa berat. Alzam yang khawatir pun mendekati ibunya dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
'Qian, Qian, ada aja tingkah kamu,' batin Retno seraya geleng kepala.