Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Provokasi


__ADS_3

Hari ini Vero mengantarkan Qian pergi kerja karena kebetulan dia tidak punya shift kerja. Dia juga akan berbelanja setelahnya. Sebenarnya Qian memang sedikit memaksa Vero untuk mengantarnya tadi pagi, karena waktu yang mepet dia khawatir terlambat datang ke rapatnya pagi ini.


Setelah berpamitan dengan anak dan istrinya Qian pun langsung melangkah pergi masuk ke gedung tersebut. Dari kejauhan Wike hanya dapat melihat kebahagian keluarga kecil itu dengan tatapan dalam.


Qian terus masuk bersamaan dengan orang-orang yang juga hilir mudik ramai keluar masuk karena memang ini merupakan jam sibuk kerja.


Saat Qian masuk seseorang datang menghampirinya.


"Hai Qian!" sapanya. Qian menoleh dan melihat Wike separuh berlari mengejar langkahnya.


"Kamu baru datang juga, ya. Pagi banget. Bukannya bos bisa datang siang?"


"Nggak lah. Sama aja. Kita kan tim kerja, kalo nggak dateng bareng gimana bisa selesai kerjaanya," jawab Qian santai. Wike tersenyum mendengar jawaban Qian. Lelaki ini masih rendah hati seperti dulu.


Sedangkan di luar sana Vero masih mengawasi Qian dengan tatapan penuh intimidasi. Qian yang tidak ingin ada masalah lagi segera mencari sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian dan bisa membuatnya pergi dari Wike sesegera mungkin.


Sesaat dia melihat kedatangan Wito salah seorang karyawannya.


"Eh, Wito. Gimana desain logo yang kemaren?" sapa Qian di sambut senyuman oleh Wito dan segera menghampiri Qian dengan cepat.


"Sudah donk, Pak. Saya sudah revisi ulang yang kemaren," jawabnya dengan semangat.


"Bagus anak baru. Semangat kerja itu penting," ucap Qian akrab seraya merangkul Wito dan menggandengnya masuk bersama nya. Qian dan para karyawan memang sangat dekat sehingga tim kerjanya sudah seperti keluarga baginya. Tidak ada jarak antara atasan dan bawahan. Walau mereka tetap saja menjaga batasan mereka dengan baik untuk menghargai Qian.


Wike yang sebenarnya memang ada yang ingin di sampaikan terpaksa harus mengurungkan niatnya kembali. Kini ia hanya bisa menarik nafasnya panjang melihat Qian yang terus menghindarinya. Dan Vero pun tersenyum berlalu dari sana dengan hati yang tenang.


Wike yang melihat itu segera mengejar Vero tepat sebelum ia masuk mobilnya kembali.

__ADS_1


"Mbak Vero!" seru Wike. Vero menoleh tepat saat dia sudah bersiap-siap memegang pintu mobilnya.


"Apa Qian berubah karena, Mbak? Kenapa? Apa Qian sudah cerita kalau dia punya kerjaan sama dengan perusahaan tempat saya? Heh, Mbak sudah merusak masa depan Qian kalau begini caranya. Mbak menghalangi dan mengekang cara kerja Qian. Bagaimana bisa dia sukses kalau Mbak begini," sudut Wike.


"Saya tidak menghalangi masa depannya. Dan satu hal lagi. Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga saya. Mau apapun yang saya lakukan dengannya, biar itu jadi urusan kami," ucap Vero tegas.


"Mbak seperti menghalangi karir Qian untuk maju. Bagaimana bisa maju kalau istrinya banyak aturan begini. Pasti Qian di larang mendekati saya karena ... Mbak cemburu, kan? Jangan kekang Qian hanya karena Mbak yang kurang pede. Seharusnya Mbak nikah sama pria 30 tahunan yang sepantaran sama Mbak, atau 40 tahunan, bukan pria 20 tahunan seperti Qian. Masa depan dia masih panjang. Apalagi buat laki-laki muda berbakat seperti Qian," ucap Wike menyebalkan membuat Vero menatap Wike tajam atas kelancarannya.


"Kenapa harus tidak percaya diri? Qian menikahi saya dan menjadi suami yang baik selama ini? Tidak ada alasan buat saya tidak percaya diri dihadapan suami saya sendiri," ucap Vero.


"Seharusnya dia punya kesempatan lebih untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik," ucap Wike lagi.


"Mbak tidak hanya membuat Qian tidak bisa memperbaiki masa depannya. Tapi juga membuat Qian kehilangan banyak kesempatan baiknya," ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan Vero.


Sesaat Vero terdiam. Dia menatap Rumi yang tengah tersenyum padanya di bangku baby car seat. Vero tertunduk dan sesaat air mata Vero menetes begitu saja. Ia segera menyekanya dengan cepat. Ia membalas senyum Rumi dengan hangat dan masuk kedalam mobilnya meninggalkan gedung tersebut. Sedangkan Wike yang melihat Vero menangis terus berlalu tanpa perduli sedikitpun. Bahkan dia tersenyum senang karena berhasil menyakiti perasaan Vero.


Di rumah sakit Alzam di kagetkan dengan kedatangan Ica. Alzam menatap datar atas kedatangan gadis di hadapannya ini. Mereka terlibat kebisuan sesaat dengan Ica yang terus menatap ke sekelilingnya menyisiri pandangan ke seluruh ruangan Alzam.


"Wow, kamu hebat juga ternyata," gumam Ica. "Aku nggak nyangka kalo kamu pemilik rumah sakit besar ini," ucap nya kagum. Alzam hanya menyunggingkan senyum. Mengingat bagaimana angkuhnya wanita ini semalam dan hari ini yang katanya sibuk malah datang berkunjung.


"Ada apa? Jauh-jauh datang ke sini? Bukannya kamu sibuk, sampe libur pun nggak sempat," tanya Alzam dengan sorot mata datar penuh intimidasi.


"Oh, itu ... Ya ... Aku ingat semalam. Jadi kepikiran terus. Makanya aku kesini buat minta maaf langsung sama kamu," ucapnya dengan seulas senyuman manis. "Aku rasa. Aku setuju dengan perjodohan kita," lanjutnya lagi.


Alzam kembali menyunggingkan senyumnya.


"Aku menolak perjodohan itu. Aku belum siap menikah. Sebenarnya aku tengah menunggu seseorang. Tapi, karena mama desak terus buat aku datang makanya aku datang," ucap Alzam. "Maaf!" lirih Alzam lagi dengan sebuah senyuman yang tenang. Yang seketika raut wajah Ica langsung berubah. Dia merasa di tolak terang-terangan oleh Alzam.

__ADS_1


"Heh! Kamu pikir aku cewek apaan? Bisa kamu mainin gitu aja? Nggak usah sok. Cowok kayak kamu banyak di luaran sana. Nggak usah sok deh," serunya kesal dan beranjak dari sana.


Alzam hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ica.


Tanpa Alzam ketahui bahwa Jesika tengah menguping dari luar dan tersenyum mendengar penolakan Alzam terhadap si angkuh Ica. Entah kenapa dia malah merasa tenang Alzam menolak Ica.


Setelah Ica pergi, Jesika pun masuk. Alzam tersenyum melihat kedatangan Jesika.


"Kenapa di tolak? Dia cantik, mapan, pinter, bibit, bebet, bobotnya terjamin. Dari keluarga terpandang," ucap Jesika yang seolah mendorong Alzam, padahal sebenarnya dia hanya ingin tau isi hati Alzam saja. Alzam hanya tersenyum mendengar pernyataan Jesika. Dia jadi semakin ingin menggoda wanita di hadapannya ini.


"Kamu pasti dengar, kalo tadi aku bilang. 'aku nungguin seseorang'," ucap Alzam dengan agak mendekat kearah Jesika dan dengan suara pelan, membuat Jesika mengernyitkan keningnya bingung.


"Siapa? Vero? Zam ... Sampai kapan kamu mau kayak gini? Dia itu istri adik kamu? Mau kamu bunuh Qian biar bisa sama Vero? Atau nungguin Qian mati? Udah deh, jangan gila kamu," seru Jesika mulai lelah dengan cinta mati Alzam terhadap Vero.


"Siapa bilang aku nungguin Vero? Aku nungguin kamu," ucap Alzam tanpa rasa bersalah yang membuat jantung Jesika seketika berhenti berdetak untuk sesaat.


DEG ...


Jesika terdiam dan berusaha untuk menenangkan diri dari shocknya. Sedangkan Alzam malah tertawa melihat expresi kagok Jesika. Jesika menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya dan kembali tersadar.


"Gila kamu!" ucap nya melempar pulpen yang ada di atas meja Alzam kearah Alzam.


"Aku nggak mau rebutan sama Qian. Qian mainnya kasar," ucap Alzam tersenyum usil seraya menaikkan alisnya.


"Dah ah, kamu mulai mabok kayaknya," ucap Jesika bangkit dan bersiap pergi meninggalkan Alzam. Dia berusaha menutupi perasaannya yang entah kenapa malah menjadi berbunga-bunga mendengar pernyataan Alzam barusan.


Ia tersenyum girang saat pintu ruangan Alzam benar-benar tertutup. Dan ia kembali memasang wajah normal saat ada beberapa perawat yang kebetulan lewat meliriknya dan menyapanya dengan ramah.

__ADS_1


__ADS_2