
Vero mulai bekerja, ia menyambut tamu yang silih berganti berdatangan. Ia harus berdiri di sana selama kurang lebih 8 jam sehari. Untungnya dia tak melaluinya sendirian, dia bersama Mika sahabatnya. Di sela-sela waktu kosong yang mereka miliki, mereka sering habiskan untuk mengobrol berdua.
"Jadi kamu ambil mobilnya? Kamu yakin mau ambil kreditan mobil semahal itu buat suami manja kamu itu?" tanya Mika di sela waktu kerja mereka.
"Hmmm... Aku kasian dia pergi kerja pakek mobil butut aku mulu. Kalah sama mobil karyawannya. Lagian penghasilan dia akhir-akhir ini juga mulai naik. Jadi masih nggak mepet lah kalo kita ambil kreditan mobil satu. Nanti katanya kalo perusahaannya mulai stabil aku nggak usah kerja lagi, fokus asuh Rumi," terang Vero.
"Hmmm... Dia itu sebenarnya pikirannya cukup matanglah ya buat cowok seumuran dia. Baru berapa si umurnya? 22, 23, ya?"
"22, 4 bulan lagi baru 23. Makanya aku mau kasih itu buat hadiah ulang tahun dia nantinya," ucap Vero berbinar bahagia.
Mika ikut bahagia melihat rumah tangga sahabatnya ini terlihat bahagia.
***
Di sisi lain Qian baru saja selesai dengan rapatnya. Selesai semua mereka pun berpisah dan pulang dengan menggunakan mobil masing-masing.
Qian setelah sampai tak lantas menuju ke lantai atas perusahaannya. Tapi dia masih harus menunggu kedatangan Vero untuk mengambil mobilnya. Karena tadi pagi dia yang membawa mobil untuk mengantar Rumi ke rumah sakit.
__ADS_1
Saat tengah asyik menunggu tiba-tiba seseorang datang menemuinya.
"Qian!" serunya.
Qian menatap kedatangan wanita cantik itu yang mendekat ke arahnya.
"Qian, dari mana saja kamu seharian? Aku nungguin kamu dari pagi," terangnya.
"Kenapa?" tanya Qian santai.
"Nggak. Aku mau balikin jaket kamu lagi yang aku pakek kemarin," ucapnya menyerahkan sebuah paper bag kepada Qian. Qian pun mengambil.
Tiiiiiiitttt...
Sebuah klakson mengagetkan Wike, Qian secara reflek segera menarik tangan gadis itu agar tak tertabrak. Karena mereka yang memang berdiri agak ke jalanan tepat di mana kendaraan lalu lalang.
Itu membuat Wike secara tak sengaja malah masuk ke dekapan Qian. Bau wangi parfum Qian dapat ia cium secara jelas sekarang. Hangat tubuh tinggi tegap ini pun dapat Wike rasakan. Tiba-tiba itu membuat jantungnya berdegup dengan cepat. Membuat dia betah dan malah memejamkan matanya pasrah.
__ADS_1
Tanpa Qian sadari ada sepasang mata memperhatikan interaksi keduanya. Vero yang baru datang cukup kaget melihat adegan pelukan suaminya dan seorang wanita cantik itu.
Qian tanpa sengaja melihat kedatangan Vero. Sesaat Qian sadar akan apa yang ia lakukan. Qian yang melihat reaksi Wike secara spontan mendorongnya menjauh.
ia pun segera melepaskan tangan Wike dari pinggangnya dengan sedikit mendorong tubuh Wike. Dia terus menatap Vero yang datang mendekat. Tampak jelas jika Vero tengah cemburu saat ini. Itu malah membuat Wike tersenyum puas penuh arti.
"Oh, iya Qian aku masuk dulu ya. Aku masih ada kerjaan," ucapan Wike membuat Vero semakin tak suka mendengarnya.
Setelah Wike pergi kini tinggal Qian dan Vero yang berada di sana.
"Ini kunci mobilnya. Nanti aku pulang malam. Kalo aku kelamaan pulang nggak usah di tunggu. Aku ada acara undangan lounching produk baru perusahaan Diwangga," terang Qian yang tumbenan mau menjelaskan. Qian harap itu tidak membuat Vero salah paham lagi. Tapi, Vero terus menatapnya dengan tatapan aneh. Itu membuat Qian merasa bergidik ngeri.
"Tadi ... Itu ... Aku ... Cuman ... Bantuin dia hindarin motor yang lewat," ucap Qian menjelaskan dan tetap saja dia di tatap Vero dengan tajam. Merasa Vero masih marah Qian pun di buatnya mati kutu serba salah.
"Yaudah. Aku langsung pulang aja malam ini. Nggak ikutan acara perusahaan itu. Pasti di sana ada Wike lagi, kan ya. Dia kan karyawan di sana," terang Qian yang semakin merasa tolol.
Vero langsung masuk mobil dan tancap gas dari sana. Itu membuat Qian sedikit kaget. Begitu dingin reaksi Vero saat wanita itu cemburu. Pergi tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Yang tidak Qian ketahui, Vero menangis di mobilnya. Berkali-kali ia menyeka air matanya yang terus mengalir. Dia ingin marah, tapi ia takut Qian akan beranggapan dia kurang dewasa, tapi menahan sakit sendiri dia juga tidak tahan.
Membayangkan bagaimana ada wanita lain di pelukan suaminya malah buat dia sakit sendiri.