Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Belanja Bersama


__ADS_3

Mereka segera menuju ke sebuah departemen store yang cukup besar dan mewah. Saat mereka turun dari mobil dan menuju ke dalam departemen store tersebut, Vero dan ibunya saling pandang. Akhirnya Mama Jill pun angkat suara.



"Besan!" gumam Mama Jill.


"Hemmm ...," gumam Maya menoleh kepada Mama Jill.


"Begini ... Sebenarnya Qian melarang Vero mendatangi anda. Dan ... Saya rasa, jika dia tau anda membeli sesuatu untuk Vero. Itu akan membuat Qian akan semakin marah. Apalagi ini tempat barang-barang mahal. Tentu Vero tidak bisa menutupinya nanti jika dia tau ini semua dari anda, karena tidak mungkin Vero punya uang untuk membeli barang-barang di sini," ungkap Mama Jill hati-hati takut besannya ini akan tersinggung.


"Gampang. Bilang saja uang dari anda besan. Kan anda juga dari keluarga yang cukup berada. Masuk akal kan kalau di bilang ini dari anda," ungkap Maya yang tidak tau apa-apa tentang Mama Jill.


Mama Jill terdiam sambil tersenyum nyengir tidak mampu menjelaskan. Dia saling pandang dengan Vero. Mereka sama-sama menarik nafas panjang.


"Mah ... Lebih jangan di sini," cegah Vero lagi.

__ADS_1


"Tidak, Vero. Ini cucu pertamaku. Aku ingin yang terbaik untuknya. Beri tahu aku jika Qian marah. Aku tidak ingin cucuku iritasi karena bahan pakaian yang ia kenakan tidak berkualitas. Ini darah daging keluarga kami, dia berhak mendapatkan yang terbaik dari keluarga kami," ungkap Maya. Sekarang Vero paham, kenapa Qian dan ibunya sering berselisih paham. Maya ternyata cukup keras kepala dan selalu ingin menang sendiri.


Vero hanya bisa menarik nafas dalam seraya menatap ibunya.


"Oh, ya besan. Penampilan anda sekarang jauh lebih baik ya daripada saat kita bertemu di minimarket waktu itu," celetuk Maya yang membuat Mama Jill tersenyum nyengir, sedangkan Vero hanya bisa menahan tawanya mendengar pernyataan Maya. Ternyata bukan hanya dia yang menganggap rambut sasak dan blass-on tebal ibunya itu aneh, tapi juga orang lain ikut menganggapnya aneh.


"Ooo... Oh, ya. Qian ... Juga bilang gitu waktu saya lepas make upnya," lirih Mama Jill seraya memegang wajahnya yang memerah. Vero hanya tertawa melihatnya.


"Lebih sederhana, lebih baik. Kadang yang berlebihan itu malah membuat orang lain jadi salah menilai kita," ungkap Maya lagi.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke salah satu tempat yang menjual perlengkapan bayi lengkap. Saat melihat harganya, Vero dan ibunya langsung membelalakkan matanya. Sungguh ini sulit untuk mereka tutupi dari Qian.


"Semua sudah kan?" tanya Maya memastikan. Vero mengangguk cepat.


"Sudah, Mah. Semua sudah cukup, Kok," seru Vero cepat. Karena terus terang dia sungguh tidak ingin menerima semua ini. Dia tidak ingin Qian kecewa ataupun marah nantinya.

__ADS_1


"Kita makan dulu saja, ya," ajak Maya. Seketika Vero menarik tangan mertuanya itu.


"Mah, ini sudah sore. Nanti Qian pulang," cegah Vero. Maya terdiam berpikir sejenak.


"Yasudah, bungkus saja, ya. Sekalian Mama titip sesuatu buat Qian, ya," seru Maya yang langsung menuju sebuah apotik terdekat.


"Kasih ini buat dia. Dia nggak akan ngeluh sakit kecuali sudah nggak tahan. Ini vitamin, biar Mama ganti botolnya sama botol obat biasa di mobil nanti. Mama nggak mau dia sakit," ingat Maya dengan mata berkaca-kaca.


Vero tertegun melihat sepasang mata yang seolah tengah menahan rindu tak terucapkan itu. Sekali lagi Vero tak bisa menolaknya.


"Tunggu, Mama pesan makanan kesukaan Qian sekalian, ya." Kali ini kelihatannya Vero harus tegas menolak.


"Mah, cukup. Cukup, Mah. Kita tidak akan membuat Qian senang, nanti bisa-bisa dia marah, Mah," ingat Vero dengan kedua mata menatap Maya dalam seolah ingin mengatakan dia benar-benar tidak bisa membuat Qian merasa ia tak memihaknya lagi.


"Terakhir kali aku membohonginya, itu membuat kami harus membayar mahal. Mah, aku ingin mempercayai usaha Qian untukku dan anak kami. Hanya itu yang Qian minta kepadaku. Tolong, Mah. Jangan begini," pinta Vero penuh harap.

__ADS_1


Maya seolah menyadari sesuatu. 'Di percaya' ya ... Itu lah yang Qian pinta darinya selama ini. Tapi, yang ia lakukan adalah menentangnya, hingga akhirnya dia membuat semua berantakan.


Maya tersenyum miris dan mengangguk secara perlahan. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, dan mengakhiri perjalanan mereka hari ini.


__ADS_2