
Alzam tidak tahan. Dia segera menghampiri Qian ke kantornya. Dia menemui Qian tepat saat Qian baru saja keluar dari lobby gedung perusahaannya.
Alzam segera mencegat Qian yang tengah menggendong Rumi. Karena kebetulan dia akan mengantarkan Rumi kepada Vero saat ini. Sudah waktunya bayi itu menemui ibunya.
"Mas mau ngomong sama kamu!" tegas Alzam mencegat Qian yang tampak dingin menanggapnya.
"Tunggu antar Rumi dulu. Dia kangen ibuknya," sahut Qian datar dengan Rumi yang tampak gelisah di gendongannya. Tidak lama Reo datang dan mereka pun pergi menuju hotel tempat Vero bekerja yang kebetulan juga tidak jauh dari sana.
Setelah menyerahkan Rumi kepada Vero ia segera kembali ke perusahaannya. Kebetulan Vero yang memang bekerja paruh waktu sudah selesai dengan jam kerjanya. Dia akan pulang bersama Rumi dan Qian tetap kembali ke tempat kerjanya.
"Kenapa mas Alzam nemuin kamu?" tanya Reo kepada Qian saat mereka di dalam mobil.
"Paling ada aduan lagi dari Mama," tebak Qian cuek.
"Jangan gitulah sama orang tua. Apa salahnya kalo dia mau jenguk cucunya. Dia kan memang sayang sama Rumi dari Rumi baru lahir, bahkan saat Rumi masih di kandungan. Nyokap gue sering cerita gimana nyokap lo banggain cucunya itu. Rumi pinterlah, mirip kakeknya lah. Atau dia suka gini, gitu. Lo nggak liat sih gimana dia panik waktu Vero pendarahan. Dia kayak orang gila cari dokter terbaiknya waktu itu. Lo pikir istri lo bisa selamat kalo bukan karna nyokap lo? Gue rasa dia kasih uang perawatan mahal waktu itu cuman buat kasih lo pelajaran dan biar lo mau balik ke rumah dengan buat lo minta bantuan sama dia," terang Reo panjang lebar. Qian hanya diam tanpa jawaban.
"Lo juga keras kepala. Kalo sama orang lain lo keras nggak papa. Ini sama orang tua sendiri ... Kualat ntar," ingat Reo lagi.
"Ah serah lo lah. Lo mah susah di bilangin," ucap Reo pasrah.
Lelah menasehati orang yang bahkan tidak mau mendengarkan, Reo pun akhirnya diam hingga mereka sampai di perusahaan mereka kembali. Dan tampak Alzam masih menunggu di sana.
"Temuin mas Alzam, Qian," ingat Reo lagi saat mereka sama-sama masuk lobby dan berpisah saat Alzam datang mendekat. Qian menghentikan langkahnya sedangkan Reo langsung masuk menuju lift ke lantai atas kantor perusahaan mereka.
__ADS_1
"Ayo kita bicara, Qian," ajak Alzam lagi lalu pergi dari sana di ikuti oleh Qian yang tampak malas.
'paling ngajak ribut lagi,' sinis batin Qian yang terus mengikuti langkah Alzam dari belakang.
***
Hingga akhirnya mereka berhenti di tempat yang lumayan sepi dan mereka duduk di bangku tersebut.
"Kamu ngomong apa sama Mama? Mama nangis nyampe rumah kemaren," tanya Alzam langsung.
"Nggak tau. Nggak inget. Yang pasti cuman ngingetin dia supaya jangan terlalu ikut campur sama urusan aku dan Vero," ucap Qian dingin tanpa mau menoleh kearah Alzam seraya bersidekap dada.
"Kamu jangan sampe nyakitin Mama. Dia peduli sama kamu, tapi kamu nanggepin dia kayak musuh," ucap Alzam tajam. Qian geleng-geleng kepala menatap Alzam dan tersenyum sinis. Dia menatap kakaknya ini yang terlihat sangat tak suka jika menyakiti hati ibunya.
"Jangan kirim apapun kekantor lagi kalo nggak mau kita punya urusan lagi," ucap Qian bersiap untuk bangkit dari posisinya dan meninggalkan Alzam.
"Harusnya jangan memulai kalau kalian tidak siap melanjutkannya," sarkas Qian dengan jarak yang sangat dekat dengan Alzam. "Kamu anak mami yang hanya bisa berlindung di balik punggung Mama. Jangan sama kan hidup kita berdua. Silahkan kamu terus jadi anak patuh, kalo aku ... Aku mau hidup sesuai yang aku mau. Terserah kalian mau dukung atau tidak. Yang jelas jangan jadikan aku boneka buat pembuktian terus-terusan," sindir Qian tajam.
"Mama lakuin ini bukan karena marah sama oma saja, tapi juga karena dia mau kita bisa hidup dengan baik. Dia mikirin kita. Berhenti nuduh Mama buat kita seperti bonekanya. Dia nggak punya siapapun selain kita. Jadi wajar kalau dia punya ketakutan lebih sama kita," tukas Alzam. Qian masih diam tanpa tanggapan. Sesaat Alzam menatap Qian dengan tatapan nyalang dan nafas yang tidak teratur juga yang memperlihatkan jika dia tengah terbawa emosi sama seperti Qian. Karna melihat sikap keras kepala adiknya ini.
"Aku benci sama takdir tuhan yang buat Mama hanya bisa punya garis keturunan dari kamu. Kenapa aku nggak bisa. Aku nggak akan pernah rela lihat kamu perlakukan Mama seburuk ini. Lihat saja, kalau kamu sakitin Mama lagi ... Aku pastiin aku nggak akan tinggal diam," ancam Alzam. Qian tampak masih tidak perduli dengan ancaman yang Alzam utarakan.
Dia mulai merasa jengah dengan sikap sok membela Alzam terhadap ibunya. Terasa sangat menjijikkan di mata Al-Qian. Qian bangkit dari posisinya di ikuti oleh Alzam yang juga siap siaga dengan gerakan Qian.
__ADS_1
"Terserah anak MAMI!" ucap Qian dengan jarak yang sangat dekat dari wajah Alzam dengan senyuman mengejek sebelum pergi meninggalkan Alzam.
"Ntar di kerasin ngadu lagi," gumam Qian pelan.
"Iya. Aku memang mami. Karena aku memang memiliki ibu yang sangat aku hormati. Tidak seperti kamu yang selalu buat dia menangis dengan tingkah kamu ini." Qian menatap mata merah Alzam yang tengah menahan amarah.
"Yaudah. Pulang sana. Nggak ada yang ganggu hidup kalian. Kalian yang ganggu hidup kita, kan!" Qian pun berlalu dengan acuhnya dari sana.
Alzam berbalik menatap tajam kepergian Qian dengan tangan terkepal dan nafas yang naik turun tak beraturan. Jika ini bukan di tempat umum sudah dia hajar adiknya itu. Untung saja logika waras nya masih ia gunakan. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam sesaat sebelum ia mulai bicara.
"Mama sakit. Semalam dia pulang dan nangis semalaman. Pagi ini dia sakit. Mau sampai kapan kamu giniin mama? Terserah kamu mau peduli atau nggak," seru Alzam yang berhasil menghentikan langkah Qian. Qian berbalik dan melihat Alzam yang sudah pergi melangkah menjauh. Sesaat tatapan tajamnya melemah dan tertunduk semakin lemah dan tampak kosong.
***
Baru saja Qian masuk lift, tiba-tiba pintu lift yang hampir tertutup kembali terbuka karena di tahan seseorang. Qian menatap seorang wanita tengah berdiri di hadapannya.
Dia lah Wike. Wike memang bekerja di gedung yang sama dengannya.
Qian tidak perduli dan masih larut dalam permasalahannya sendiri.
"Qi-Qian!" lirih Wike ragu. Qian melirik Wike yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu.
"Boleh aku minta tolong sama kamu?" tanya Wike ragu.
__ADS_1
"Jangan hari ini. Aku lagi banyak masalah," tukas Qian cepat tanpa mau mendengar penjelasan dari Wike.
Wike menatap Qian dalam. Qian terus menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sepertinya dia memang sedang ada masalah. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Wike mengangguk paham dan mereka pun terjebak di suasana hening hingga pintu lift terbuka sampai di lantai 23 tepat di lantai perusahaan Qian. Qian keluar tanpa sepatah katapun kepada Wike yang hanya bisa menatap punggung bidang itu dari belakang yang Qian menjauh. Dia sengaja menahan pintu lift untuk tetap terbuka hingga Qian hilang di belokan lorong.